Thursday, 1 August 2019

Pengertian Hukum Islam

Di dalam kehidupan manusia itu ada beberapa peraturan yang telah di tetapkan oleh Allah Swt untuk seorang hamba, tujuan semua itu tak lain untuk membedakan dengan makhluk Allah yang lain.


Pengertian Hukum Islam


Di samping itu juga untuk meninggikan derajat manusia di hadapan para makhluknya, oleh karena itu Allah Swt menetapkan beberapa peraturan, seperti menetapkan hukum wajib, haram, sunnah, mubah atau makruh.


Nah, terkait dengan pembahasan di atas ini, lalu admin mencoba  untuk  menulis sedikit  artikel, yang mungkin artikel ini yang di cari oleh masyarakat pada umumnya.

Pengertian Hukum Islam 


Hukum Islam merupakan aturan (syariat), dalam artian  hukum-hukum yang dijadikan oleh Allah untuk hambanya-Nya yang dibawa oleh seorang Nabi, baik hukum yang berhubungan dengan kepercayaan (aqidah) maupun hukum-hukum yang berhubungan dengan amaliyah.


Dalam islam ada hukum yang harus di perhatikan seperti hukum wajib, haram, sunnah, mubah dan makruh, karena semua hukum di sini memiliki manfaat dan dampak kepada orang yang melakukan hukum tersebut.

Contoh Hukum Islam


Wajib: Sesuatu pekerjaan apabila di kerjakan mendapatkan pahala, kalau di tinggalkan mendapatkan sisksa, seperti contoh mengerjakan solat 5 waktu, puasa Ramadlan, zakat, berbuat baik kepada orang tua.


Haram: Hukum ini kebalikan dari wajib, yakni suatu pekerjaan apabila di kerjakan mendapatkan siksa, dan apabila di tinggalkan mendapatkan pahala, seperti contoh membunuh, meminum arak dan memakan uang hasil riba.


Sunnah: Suatu hukum apabila di tinggalkan mendapatkan pahala, apabila di tinggalkan tidak mendfapatkan siksa ataupun pahala, seperti contoh melakukan shalat sunnah dan memberi sedekah.


Mubah: Suatu yang apabila di kerjakan tidak mendapatkan pahala dan apabila di tinggalkan tidak mendapatkan siksa, contohnya berdoa tidak menggunakan bahasa arab dan menjual anggur.


Makruh: Sebuh Aktivitas yang berstatus hukum makruh dilarang, namun tidak terdapat teleransi apabila melakukannya.


Atau dengan menggunakan bahasa lain sebaiknya tidak melakukan sebuah perbuatan yang bisa menghukum makruh contoh kccilnya ada makanan, namun tidak jelas kepemilikannya.

Pembagian Hukum Islam


para ulama Ushul Fiqh Pembagian Hukum Islam Secara garis besar menjadi dua macam, yaitu hukum taklifi dan hukum wadh’i.


Menurut Ulama ushul fiqh mendefinisikan Hukum taqlifi yaitu sebuah  ketentuan Allah dan rasul-Nya yang berhubungan dengan perbuatan orang yang sudah di kenai hukum (Mukallaf), baik pekerjaan yang berupa perintah wajib, anjuran atau larangan.


Hukum wadh’i sendiri yakni ketentuan hukum yang menggiring  terhadap sebab, syarat.

Hukum Taqlifi

Hukum taqlifi membahas masalah:

a.       Wajib
b.      Mandub (sunnah)
c.       Haram
d.      Makruh
e.       Mubah

Hukum Wadh’i

Hukum Wadh'i membahas masalah sebab dan syarat

Sebab, Contoh paling simplenya misalkan  ada  perzinaan antara seorang laki-laki dengan istri orang lain, lalu menjadi sebab baginya wajib menerima  hukuman qisos atau cambuk.


Syarat, contoh yang syarat Misalnya, wudlu termasuk salah satu  syarat bagi sahnya shalat, shlata itu bisa sah tergantung wudlu' kalau tidak wudlu, maka tidak bisa mengerjakan shalat.

Sumber Hukum Islam



Dalam dunai pendidikan yang di katakan sumber hukum ialah sumber refrensi yang di gunakan untuk meniti bagi kehidupan manusia,

Refrensi islam (Sumber Hukum Islam ), itu terdiri dari 4 yakni Al-qur'an, Hadits, Ijma dan qiyas.


Al-qur'an termasuk salah satu sumber hukum islam tertinggi, yang sangat di yakini bahwa al-qur'an termasuk firman tuhan yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad Saw dengan perantara Malaikat Jibril. tujuan itu untuk membimbing umat ke jalan yang benar secara syar'i.


Hadist Salah satu sumber hukum islam kedua setelah al-qur'an, hadits sendiri ialah salah satu perbuatan, sabda, persetujuan Nabi Muhammad Saw meskipun diam, semua itu menjadi sebuah sumber bagi umatnya.


Ijma' (Kesepakatan Ulama) ialah bersungguh-sungguh mengerahkan segala kemampuan berfikir untuk mendapatkan suatu hukum.


Ijma' ini muncul sebab di dalam al-qur'an atau hadits tidak di temukan dasar hukum dari permasalah yang ada di masyarakat, Namun, meskipun menggunakan metode ijma, tetap tidak boleh berlawanan dengan al-qur'an atau hadits.


Qiyas   menyamakan suatu kejadian yang tidak ada nash hukumnya di dalam al-qur'an, hadits dan ijma' terhadap sesuatu  kejadian yang ada nash hukumnya dalam hukum yang menjadi ketetapan.


Contoh qiyas Mengadzani bayi termasuk sunnah yang pernah di lakukan Nabi terhadap cucunya, sedangkan mengadzani mayit tidak ada sumber hukumnya dalam hadits, Namun, mengadzani mayit berlaku di masyarakat. Ini menyamakan dengan mengadzani bayi, jadi ketetapan ini termasuk qiyas.


Demikianlah artikel yang dapat kami bagiakn semoga bisa memberi manfaat bagi semuanya. aminn.

Baca Juga: 














Artikel Terkait


EmoticonEmoticon