Tuesday, 21 November 2017

Lengkap, Hukum Memberi Nama Pada Bayi Prespektif Hadits Dan Kitab Klasik

Lengkap, Hukum Memberi Nama Pada Bayi Prespektif Hadits Dan Kitab Klasik


Nama adalah do’a, mungkin itulah doktr yang melekat pada benak masyarakat. Di saat mendapatkan momongan, masyarakat Indonesia biasanya memberi nama anak mereka dengan nama yang indah juga memiliki arti yang baik juga dan memiliki filosofi yang menjadi harapan besar agar anaknya kelak bernasib baik sesuai arti namanya, seperti nama Bejo dalam bahasa Indonesia agar kelak menjadi manusia yang beruntung, Sugiarto Bahasa indonesia kaya harta dengan harapan kelak anak mereka menjadi kaya harta. Kebijaksanaan masyarakat jawa dalam memberi anak yang terdapat unsur tafa’ul ini selaras dengan tuntunan syariat islam.

Dalam prespektif syariat, orang tua di perintahkan untuk memberi nama yang indah untuk buah hatinya dan kelak di hari kiamat setiap manusia akan di pangggil dengan namanya beserta nama orang tuanya, sebagaimana hadits nabi Muhammad Saw, yang di riwayatkan oleh Ibnu Hibban dengan sanad yang shahih.

Sesungguhnya kalian semua  kelak di hari kiamat akan di panggil dengan nama-nama kalian dan nama-nama orang tua kalian, maka hendaknya perindah nama-nama kalian semua”. Kitab Shahih Ibn Hibban juz 13 Hal, 135, Ma’tabah Muassisah ar-Risalah.

Lalu bagaimana jika ada seorang ibu meninggal dunia beserta janin yang di kandungnya, apakah tetap sunnah di beri nama atau tidak?

Jika ada ibu hamil lalu meninggal dunia berserta janin yang di kandungnya maka tidak sunnah untuk di berikan nama pada si jabang bayi. Sedangkan untuk bayi yang mati sebab keguguran, maka selayaknya di beri nama. Abdurrahman Ibnu Yazid Muawiyah berkata, “telah sampai kepadaki keterangan bahwa jabang bayi yang mati dalam keadaan keguguran tersebut jika tidak di beri nama akan berteriak di belakang ayahnya, sembari berkata, “kau telah menyia-nyiakan aku dan meninggalkan aku begitu saja tanpa memberiku nama”, lantas Umar Bin Abdul Aziz berkata, “ Bagaimana memberi nama padahal tidak di ketahui persis jenis janin apakah laki-laki atau perempuan?” Abdurrahman menjawab,” berikan sebuah nama yang bisa mengakomodir keduanya, semisal hamzah, Amarah, Thalhah atau Utbah. Kitab Ihya’ Ulum at-Din Juz 2 Hal 54 kayra Imam Al-Ghazali. 

WAKTU DI SUNNAHKAN MEMBERI NAMA PADA BAYI

Para ulama berbeda pendapat mengenai waktu memberi nama pada bayi, ada ulama yang berpendapat sunnah untuk memberi nama pada hari ke tujuh  dari kelahirannya, ini berlandaskan pada Hadits Samurah yang lalu, yakni:

“Anak tergadaikan dengan hewan aqiqahnya, hewan aqiqah di sembelih sebagai hewan tebusan dari hari ketujuh kelahirannya, dan anak tersebut di beri nama, dan di potong rambutnya “HR, ABU DAWUD” Hadits ini di riwayatkan oleh Imam At-Turmudzi dan beliau menilai hadits ini sebagai hadits hasan shahih dan para ahli hadits hadist ini sebagai dalil kesunnahan aqiqah.

Ada juga ulama yang mengatakan bahwa kesunnahan memberi nama bayi berlaku saat tepat pada hari kelahirannya, hal ini di karenakan terdapat banyak hadits shahih yang menjelaskannya, di antaranya:

Malam ini anakku di lahirkan, dan aku memberi nama pada bayi yang kulahirkan dengan nama seperti nama datuknya yaitu Ibrahim (HR.Muslim) Kitab Shohih Muslim jus 2 Hal 324, karya Imam Muslim.

Rasulullah Saw, juga mentahni’ (Memamah makanan lalu di letakkan kelangit-langit mulut bayi), lalu beliau memberi nama pada bayi yang di bawa oleh sahabat Anas Ibn malik dengan nama Abdullah, dan pendapat kedua inilah yang di amalkan oleh masyarakat sekarang, khususnya yang berlaku di rumah sakit, petugas medis akan menanyakan terhadap orang tua bayi tentang nama yang akan di berikan pada bayinya, lalu di tulis di kertas untuk kelengkapan atministrasi. Kitab Syarh Al-Yaqut an-Nafis hal 832 karya Muhammad Ibn Ahmad Ibn Umar As-Syatiri.

KLASIFIKASI NAMA


Di perbolehkan nama bayi di beri nama apapun selain nama yang di larang oleh syariat islam seperti contoh di beri nama Syaitonirrojim walaupun mengambil dari Al-Qur’an atau Fir’aun dengan alasan agar anaknya kelak menjadi orang hebat, maka tetap tidak di perbolehkan. Dalam konsep Syariat islam terdapat beberapa klasifikasi berkenaan dengan pemberian nama yaitu:

a. Nama yang sunnah menurut ulama secara berurut yaitu kata yang di berikan kepada anak yaitu memiliki arti penghambaan kepada Allah Swt, seperti Abdullah, Abdus Somad da’i kondang asal Riau dengan kealiman yang beliau memiliki, Abdurrosyid dan banyak uang lainnya di sebutkan dalam hadits:

Sesungguhnya nama-nama yangpaling di sukai oleh Allah swt yaitu nama-nama seperti’ Abdullah, Abdurrahman”. Kitab Shahih Muslim jus 2 Hal 255.

Setelah dua nama di atas nama terbaik urutan berikutnya adalah nama Muhammad, kemudian ahmad, kemudian Ibrahim, menurut hemat Syeikh Ibn. Abidin dalam kitabnya Durrul Mukhtar, nilai keutamaan pada nama-nama ini berlaku bagi yang menghendaki pemberian nama dengan kata yang memiliki arti penghambaan, sehingga tidak akan kontradiksi dengan keterangan yangmenjelaskan bahwa nama Muhammad Dan Ahmad lebih di sukai oleh Allah Swt, dari semua nama yang ada, karena Allah swt. Tidak akan memilih nama untuk Nabi dan kekasihnya melainkan nama itu adalah nama yang paling baik dan di sukainya. Di antara hadits yang menjelaskannya adalah sebagaimana yang di keluarkan oleh ar-Rafi’i dari Abi Umamah al-Bahili bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:

Barang siapa yang di karunia seorang anak, kemudian menamakan anakanya dengan nama Muhammad karena cinta kepadaku dan mengharapkan kebaikan dengan namaku, niscaya dia dan anaknya d dalam surga”. Hadits ini di riwayatkan oleh ar-Rafi’i dari Umamah dan menurut as-Suyuty dalam kitab Mukhtashor Maudlu’i, hadits ini memiliki sanad Hasan. Kitab as-Suyuthi, al-jami’ ash-shagir jus 2 Hal 352.


Dan Hadits Nabi Muhammad Saw:

“kelak di hari kiamat ada penyeru yang berseru di sisi Allah swt, siapa yang namanya berdirilah, dan di kala mereka telah berkumpul di hadapan Allah Swt, lantas Allah Swt.memerintahkan mereka masuk surga sebagai bentuk memulyakan terhadap Nabi Muhammad saw. (HR. AL-BUKHORI). Kitab Syarh Shohih Bukhri jus 35 hal 25 Maktabah as-Syamilah.

b. Nama-nama yang di anggap buruk “Qabihah Makruh” adalah nama-nama yang tidak berkaitan dengan kebaikan sperti syaithan, himar.

c. Sengkan nama-nama haram adalah nama-nama hamba yang di sandarkan pada selain Allah Swt seperti Abdul Ka’bah, Abdul Uzza.


Lengkap, Hukum Memberi Nama Pada Bayi Prespektif Hadits Dan Kitab Klasik



MENGGANTI NAMA

di sunnahkan bagi kaum muslimin mengganti nama yang jelek dengan nama-nama yang baik menurut Syari’at, dalam beberapa hadits di sebutkan bahwa Nabi Muhammad Saw. Telah mengganti banyak nama sahabatnya dengan nama yang baik, di antanya seorang wanita putri Umar yang bernama ‘Ashiyah (Wanita Durhaka) beliau mengganti dengan nama Jamilah (Cantik Rupawan). Dalam hadits di sebutkan:

Bahwasannya Nabi Muhammad Saw mengganti nama ‘Ashiyah dan bersabda’ engkau adalah jamilah

Namun jika melihat kebiasaan masyarakat Indonesia mengganti nama menjadi hal yang lumrah, perubahan tersebut di sebabkan karena bermacam-macam faktor seperti kurang keren, condong ke arah agama non islam, karena sakit-sakitan dengan harapan jika anaknya ganti nama bisa tidak sakit-sakitan lagi, atau ingin mendapatkan berkah dari si pemilik nama yang di gunakan (Tafa’ul).

Dalam menyikapai hal tersebut para ulama tidak ada yang berselisih pendapat tentang hal mengganti nama, sedangkan mengganti nama yang jelek merupakan anjuran syariat. Bahkan ulama Madzhab Hanabilah memperbolehkan memberi nama lebih dari satu kali. Kitab Al-Mausu’ah al-fiqhiyah juz 11 hal 337. 

Sedangkan mengganti nama karena kepercayaan (Mitos) bahwa nama mampu mempengaruhi kesehatan anak hukumnya tidak apa-apa selama masih menyakini bahwa yang memberi kesehatan atau penyakit adalah Allah Swt semata. Dan kejadian tersebut sifatnya adab. Mengganti nama dengan nama orang-orang shalih sebagai tafa’ul maka hukumnya adalah Sunnah.

Demikianlah uraian tentang Sunnah memberi nama pada anak sesuai tuntunan Syariat Islam, semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua, khususnya penulis di di dunia dan akhirat. aminn


Thursday, 16 November 2017

Solusi Bijak Menyikapi Ritual Sesajen Dan Tumbal Prespektif Wali Songo

Solusi Bijak Menyikapi Ritual Sesajen Dan Tumbal Prespektif Wali Songo
Sesajen


Di Negara Indonesia Khusunya Di Pedesaan Masih Menyakini Adanya Kekuatan Atau Bahkan Bisa Melukai Seseorang Jika Melakukan Sesuatu Yang Bertentangan Dengan Tradisi, Maka Dari Itu Sebagian Masyarakat Pedesaan Masih Melakukan Ritual-Ritual Seperti Menaruh Sesajen Di Tempat-Tempat Tertentu Seperti Di Laut, Sumber  Mata Air Dan Di Perempatan Jalan, Ada Juga Yang Menaruh Tumbal Berupa Kepala Kambing Atau Sapi Dengan Kenyakinan Bahwa Tumbal Yang D Sediakan Untuk Roh Bisa Menyelamatkan Orang-Orang Sekitar.  Kalau Menyakini Sumber Kekuatan Atau Timbulnya Malapetaka Selain Allah Swt, Jelas Syirik, Dosa Besar, Untuk Itu Harus Di Jauhi Ritual Seperti Ini. 

Ritual-ritual seperti ini yang bertentangan dengan syariat harus di jauhkan, Nah solusi yang harus d terapkan bukan melarang secara keras, namun ada tata cara yang santun dan bertahap, agar orang-orang yang berfaham seperti ini tidak semerta-merta langsung menolak atau bahkan lari dari syariat yang benar dengan merubah tradisi yang demikian menjadi tradisi yang islami. 

Praktek ritual sesajen atau tumbal yang sering terjadi di masyarakat pada umumnya seperti ketika hendak membangun jembatan atau gedung biasanya melakukan sesajen seperti menyembelih kambing, kerbau, lalu mengambil kepala untuk di tanam di tempat di mana jembatan atau gedung di bangun, ini biasanya atas anjuran para dukun, dengan harapan agar jembatan atau gedung itu bisa bertahan, lancar atau membawa berkah.

Pada intinya yang namanya sesajen atau tumbal yang di sediakan untuk para leluhur, jin atau roh itu tidak di benarkan oleh syarat islam dan itu sebagai bentuk sesembahan, jadi ritual  yang menyebabkan keluar dari syariat islam di antara:


a. MEMINTA PERLINDUNGAN KEPADA ROH, JIN DENGAN BENTUK SESAJEN ATAU TUMBAL

Dalam agama islam, keberuntungan dan keberhasilan di sebut manfaat, sedangkan gangguan, kesialan, bencana  di sebut Madhara. Secara hakikat keduanya hanya berasal dari Allah Swt, tidak ada satu pun makhluk pun yang bisa memberikan kemanfaatn dan kehancuran keuali Allah swt semata. Artinya tidak ada makhluk yang di ciptakan oleh Allah Swt memiliki kekuatan apapun kecuali atas izin dari Allah Swt. Memang kita di perintahkan untuk meminta kepada Allah Swt. Seperti yang di firmankan oleh Allah Swt:

"Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak memberi kemudharatan selain Allah Swt semata, sebab jika kamu berbuat, maka seungguhnya kamu termasuk orang-orang yang dhalim”, jika Allah Swt memberi kemuudharatan kepadamu, maka tidak ada yang bisa mencegahnya selain Allah Swt. Jika Allah memberi kenikmatan, maka tidak ada yang bisa menolaknya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang di kehendakinya di antara hamba-hambanya dan dialah yang maha pengampun lagi maha penyanyang, (Qs, Yunus, 106-107).

Dan juga Allah Swt memerintahkan kepada Rasulullah Swt untuk selalu menyembah kepada Allah dan jangan sampai menyekutukannya, seperti dalam firmannya:


b. MENYEDIAKAN MAKANAN UNTUK ROH ATAU LELUHUR TANPA ALASAN YANG DI BENARKAN OLEH SYARIAT

 Selain keyakinan yang menyimpang dari syariat islam, dalam pelaksaanannya pun masih ada yang perlu di sangsikan dalam tumbal dan sesajen. Dalam praktek tumbal, menyembih hewan, lalu kepala hewan itu di kubur di tempat-tempat yang di yakini menimbulkan kemudaharatan atau tempat yang mau di bangun sebuah jembatan atau gedung. Sedangkan sesajen, yaitu denagn mempersembahkan makanan, kopi atau rokok, terkadang ingkung ayam, di letakkan di bawah pohon, sumber mata air atau perempatan jalan, Nah, hal ini merupakan bentuk pengalokasian harta benda dan makanan dengan tanpa adanya alasan yang di benarkan oleh syariat islam dan termasuk menyia-nyiakan harta benda, yang jelas pelaksaannya itu di larang oleh syariat islam. Kitab Fathur al-Barry juz 10 hal 500 karangan Syeikh Ibnu Hajar Al-Haitami. Dan kitab Tafsir al-Thubari juz 14 hal 568, karangan Imam at-Thubari. Hal ini seperti dalam firmannya Allah Swt:

”Sesungguhnya orang-orang yang suka membuang-buang harta dengan sia-sia termasuk saudaranya syetan, dan sesungguhnya syetan itu sangat ingkar terhadap tuhannya”.
Dalam hadits Nabi Muhammad Saw juga di sebutkan:

Sesungguhnya Allah Swt tida suka tiga perkara dari kalian, yang pertama saling bertengkar, menyia-nyiakan harta dan banyak meminta. Di riwayatkan oleh imam bukhori dan muslim.”

Imam at-Thabari dalam tafsirnya menyatakan bahwa yang di maksud pemborosan dalam ayat tersebut adalah orang-orang yang mengalokasikan hartanya untuk bermaksiat kepda Allah Swt dan tidak di gunakan untuk beribadah kepada Allah Swt. Dan terkait dengan hadits di atas ini. Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan bahwa ada beberapa pendapat yang berkenaan dengan apa yang di maksud dari Idha’atu al-Mal, di antaranya sebagai berikut:

Berlebih-lebihanan dalam mentasyarufkan harta 
Mentasyarufkan harta ke jalan yang di larang oleh syariat islam
Mentasyarufkan harta ke jalan yang di haramkan oleh gama islam
Sedangkan orang yang menyia-nyaiakan harta harus di cegah


Solusi Bijak Menyikapi Ritual Sesajen Dan Tumbal Prespektif Wali Songo
Sesajen


B. SOLUSI BIJAK ORANG SHALEH

Setelah kta mengetahui bahwa sesajen atau tumbal termasuk hal-hal yang di laarang oleh syariat islam, maka solusinya adalah dengan menghilangkan sisi-sisi yang di larang oleh syariat dan mengubahnya dengan hal-hal yang tidak bertentangan dengan syariat. Sebenarnya solusi termasuk sudah di berikan oleh wali songo, yaitu dengan mengubah menjadi selametan, ini sesuai dengan apa yang di lakuakn oleh Nabi Muhammad Saw, ketika beliau merenovasi bangunan ka’bah beliau tdak menggeser dari posisi semula, melainkan beliau menambahi luas dengan pondasi yang sudah ada sejak kaum jahiliyah, ini di lakuakn agar kaum qurais tidak pecah belah dan tidak tejadi salah faham..
Kenyakinan yang berbau animisme dan dinamisme di rubah menjadi tradsi yang islami dengan cara memasukkan tradisi islami tanpa merubah tradisi yang sudah ada, dengan cara membaca do’a-do’a tertentu dengan memakai gamelan, tembang. Dalam do’a tersebut berisikan meminta kemanfaatan, keselamatan dan keberkahan dalam segala hal. 

Sedangkan untuk menghilangkan sisi Dhiyau al-mal yang di larng oleh syariat, para wali songo mengubahnya dengan memperbanyak sedekah berupa makanan, buah-buahan kepada warga sekitar, sehingga makanan tersebut bermanfaat kepada diri sendiri dan kepada orang lain. Diakui atau tidak , strategi seperti ini sangat luar biasa, karena wali sogo yang merupakan salafus Shaleh Nusantara bisa merubah hal-hal yang berbau syirik, di rubahnya menjdi tradisi yang islami. Sebagaimana yang di jelaskan oleh Nabi Muahmmad saw. Di antara:

berlaku baik kepada budak akan mendatangkan keberkahan dan berlaku buruk akan membawa kesialan, taat kepada wanita berakibat penyesalan dan sedekah akan mencegah ketentuan yang buruk

Ada hadits Nabi Muhammad saw yang menyebutkan “bahwa sedekah dapat menutup tujuh puluh pintu kejelekan (petaka)”. Dan juga “bersedekah mencegah mati dalam keadaan buruk

Selanjutnya berkenaan dengan penyembelihan hewan, ketika menyembelh seekor hewan tetap di niatkan mendekatkan diri kepada Allah caranya ketika menyembelih membaca “Bismillahirrahmannirrahim”. Dan memohon agar Allah Swt menjauhkn dari hal-hal yang membahayakan dirinya atau keluarganya dari kejahatan syeitan yang terkutuk maka penyembelhan seperti ini di perolehkan. Namun kalau di niatkan untuk di persembhkan kepada jin, syetan atau roh, semisal di taruh di pohon besar, sungai, perempatan jalan dan laut, maka tradisi ini sangat bertentangan dan melanggar syariat islam. Kalau ingin mengubr, maka cukup mengubur tulang-belulangnya saja, dan di naitkan sedekah apada jin untuk Daf’ul al-Bala’ (menolak malapetaka), karena memang sebenarnya makanan jin itu ulang, sebagaimana Nabi Menjelaskan dalam Hadits:

Seorang Da’i kalangan jin mendatagiku, maka aku pergi bersamanya, lalu aku membaca al-qur’an di hadapan mereka,’ perawi hadits berkata” Lalu berajak pergi bersama kami untuk menunjukkan jejak-jejak mereka dan jejak perapian mereka. Dan mereka meminta kepadanya bekal, maka beliau bersabda,” Bagi kalian, setiap tulang yang di sebutkan nama Allah Swt atasnya ketika di sembelih, yang mana tanganya kalian lebih menjadi daging dan setiap kotoran hewan adalah makanan untuk hewan tunggangan kalian,” lalu Rasulullah Saw bersabda,” maka janganlah kalian beristinjak dengan kotoran dan tulang hewan, karena keduanya adalah makanan jin”.

Dari penjelasan di atas ini bahwa tradisi tumbal dan sesajen tidak selaras dengan syariat islam, akan tetapi bisa di lestarikan dengan mengganti kenyakinan serta prosesinya dengan hal-hal yang bernilai islami sebagaimana yang telah di contohkan oleh para wali songo, sepeti mengadakan tahlilan bersama, baca doa dan shalawatan dengan niatan agar Allah Swt melindungi dari segala marabahaya.


Kesimpulan yang dapat di ambil dari penjelasan d atas yaitu:

a. Manfaat dan cobaan hakikatnya dari Allah Swt, maka dari itu jangan sampai berkenyakinan jin, syeitan dan roh memiliki kekuatan sampai rela memberi sesajen atau tumbal, ini perbuatan dosa.

b. kalau diyakini akan ada musibah atau bencana, selayaknya berkumpul di majlis yang mulya seperti masjid atau mushalah menggelar istiqosah, membaca shalawatan, tahlilan dengan harapan musibah tidak datang, kalau sebalikanya, ada musibah lalu menyediakan sesajen atau tumbal, dengan harapan agar musibah itu tidak terjadi, maka ini justru akan mempercepat adanya musibah, jangan membuang bau jengkol dengan bau petai.

c. sesajen atau tumbal dalam islam tidak di benarkan, maka solusi menggantinya dengan selametan, istighasah dan menggelar do’a bersama, dengn mengharap ridlo dari Allah swt, dan makanan di sedekahkan kepada orang-orang yang membutuhkan, pasti sedekah yang kita sedekahkan kepada orang fakir akan terucap dari bibir mereka sebuah doa yang tulus ikhlas..

Semoga artikel ini bisa menjadi sebuah amal kebaikan bagi penulis dan menjadikan kita sebagai umat Nabi Muhammad saw yang selamat dari ganasnya kehdupan ini menuju alam yang kekal.aminn.




Monday, 13 November 2017

Menyikapi Rebu Wekasan prespektif hadits dan Fatwa Ulama ”Hari Turunnya Malapetaka”

Menyikapi Rebu Wekasan prespektif hadits dan Fatwa Ulama ”Hari Turunnya Malapetaka”
Rabu Wekasan

Sahabat mursyid hasan yang selalu mendapatkan perlindungan dari Allah Swt, besok adalah hari rabu wekasan, yang di yakini oleh sebagian masyarakat sebagai hari Allah Swt menurunkan bala’, rabu wekasan ini jatuh pada hari rabu ahir bulan safar, untuk itu kita tingkatkan ibadah kita kepada Allah Swt, agar kita selalu dalam lindungannya, untuk lebih jelasnya mari kita sama-sama membaca artikel  di bawah ini.

Sering kita mendengarkan istilah rebu wekasan yang di yakini oleh orang jawa sebagai hari di mana Allah menurunkan penyakit dan bala’ (cobaan), terkadang pada hari itu orang-orang jawa yang hendak bepergian jauh dan bertepatan hari rebu wekasan, niat perjalanannya di tunda dengan alasan takut terkena bala’, sehingga banyak pemuka agama menganjurkan masyarakatnya untuk melakukan shalat secara berjama’ah, puasa atau mengadakan pembacaan istighasah dan pembacaan shalawat nariyah, yang jelas sejak kapan istilah rebo wekasan itu di mulai dan di kenal atau hanya sekedar siasat dari para guru-guru kita terhadap kebiasaan kejawen masyarakat jawa. Namun secara mashur istilah rebu wekasan jatuh pada ahir bulan safar, sehingga mereka menjalankan ritual khusus yang di ajarkan oleh tokoh masyarakat setempat, dengan beragam ritual yang berbeda, ada yang berpuasa juga ada yang shalat berjamaah atau mengadakan pembacaan istighasah dan shalawat nariyah, sehingga perlu penjelasan atau kepercayaan yang di yakini masyarakat kita ini.

Menyikapi keyakinan yang berkembang di masyarakat kita bahwa rebu wekasan adalah hari sial atau hari di turunkannya bala’ “cobaan”, jika keyakinannya adalah hari rebu wekasan sendirilah yang menyebabkan bala’ atau membawa kesialan, sebagaimana anggapan orang-orang ahli nujum (peramal), semisal menyakini bahwa hari rebu wekasan merupakan hari yang berbintang merkuri sedangkan bintang meskuri adalah lambang kesialan, maka anggapan itu adalah kenyakinan yang keluar dari konteks ajaran agama islam (salah besar, karena sebagai orang yang berimana kita harus tetap meyakini bahwa segala sesuatu yang berupa kebaikan atau keburukan semuanya hanya dari Allah Swt, di riwayatkan dari sahabat Abi Hurairah Ra. Dari Nabi Muhammad Saw, beliau bersabda:
Abu Salamah Bin Abdurrahman mengabarkan kepadaku bahwa Abu Hurairah berkata” sesungguhnyaRasulullah Saw bersabda: “Tidak ada ‘Adwa (menyakini bahwa penyakit tersebar dengan sendirinya, bukan karena takdir Allah), dan tidak ada safar (menjadikan bulan safar sebagai bulan haram atau bulan keramat), dan tidak ada pula Hammah (tidak ada ruh yang sudah meninggal menitis pada hewan).

Yang di maksud dengan hadits di atas ini menceritakan bahwa orang jahiliyah dulu menganggap sial bulan rajab dan mereka mengatakan bulan rajab itu bulan membawa sial, anggapan ini di bantah oleh Baginda Nabi Muhammad Saw, sabda nabi ini di riwayatkan oleh Abu Dawud dari Muhammad Ibn Rasyid al-Mahkuli. Kebanyakan dari orang-orang jahiliyah menganggap sial bulan rajab, bahkan dari mereka melarang untuk bepergian pada bulan ini. Cerita ini sesuai kejadian yang di alami oleh masyarakat jawa pada umumnya yang menganggap rebu wekasan itu hari sial. Adapun hadits yang menjelaskan bahwa hari rebu wekasan itu tidak shahih.

Penelitian para ahli hukum, pada umumnya orang-orang tersebut tidak menyibukkan diri dengan sesuatu amaliyah yang di jadikan sebagai Washilah untuk meolak mara bahaya, seperti menambah ketaatankepada Allah swt, justru mereka menyepi dan menetap saja di dalam rumah. Bahkan sebagian di antara mereka malah menyibukkan diri dengan perbuatan maksiat yang justru menguatkan di turunkannya bala (cobaan). Ajaran yang di bawa oleh oleh syariat justru tidaklah mereka hiraukan, ajaran yang sebenarnya bisa menghindari dari cobaan, sepeti dengan berdo’a, melakukan amal kebaikan, shalat berjamaah, bukan malah melakukan kemaksiatn dengan alasan menghindari bala’, jangan coba-coba menghilangkan bau jengkol dengan makan petai.

KESALEHAN ULAMA JAWA MENYIKAPI REBU WEKASAN

Jika istilah rebu wekasan di anggap sebagai hari di turunkannya beberapa bala atau cobaan, lalu di jadikan sebagai alat untuk menakut-nakuti umat agar umat semakin giat, istiqhamah dalam menjalankan perintah Allah Swt atau memperingatkan atas azab Allah Swt yang di turunkan oleh Allah Swt supaya orang-orang memperbaharui taubatnya dengan kekhawatiran takut terkena azab maka hal ini di perbolehkan menganggap rebu wekasan sebagai hari sial dengan alasan yang di benarkan oleh syara’. Sebagaimana mengatakan” takutlah kalian semua pada hari dimana pada hari itu Allah Swt menurunkan azab dan pada hari itu kalian akan mati, maka bertaubatlah kepada Allah Swt kekhawatiran kalian semua tertimpa kesengsaraan sebagaimana orang-orang terdahulu sebelum kalian”. Dalam hadits Nabi Muhammad Saw.

Dari Sayyidah Aisyah berkata” sya tidak pernah melihat Rasulullah Saw tertawa terbahak-bahak sehingga melihat anak lidahnya, beliau hanya tersenyum,” Sayyidah Aisyah berkata;” Apabila beliau melihat awan atau aingin hal itu dapat di ketahui pada wajah beliau.” Sayyidah aisyah berkata” Wahai Rasulullah Saw, Apabila orang-orang melihat awan, mereka sangat bahagia dengan harapan supaya turun hujan. Sedangkan saya melihat engkau setiap kali melihatnya tampak kekhawatiran yang terpancar dari wajah beliau.” Beliau bersabda;” Wahai Sayyidah Aisyah, saya tidak merasa aman, jangan-jangan isinya mendatangkan siksaan. Telah di azhab sesuatu kaum dengan angin dan sesuatu kaum melihat azab, namun dia malah mengatakan,” inilah awan yang mengandung hujan, yang akan menghujani kami” padahal justru awan itu mendatangkan musibah” (Qs, al-Ahqaf, 24), (HR, bukhari) kitab shahih bukhari juz 15 hal 55.

Sesuai dengan isi di atas tadi, bahwa Rasulullah Saw meakukannya dengan alasan menakut-nakuti dan membuat khawatir umatnya di saat keadaan yang sama seperti ketika Allah menurunkan azab terhadap kaum ‘Ad. Meskipun beliau tidak menyakini dengan zab yang di bawa oleh mendung di langit saat itu, sehingga apa yang telah di lakukan oleh sebagian tokoh masyarakat kita dengan istilah rebu wekasan sama dengan apa yang telah di lakukan oleh Nabi Muhammad Saw terhadap umatnya. Kitab Faidu al-Qodir Syarh Jami’ul ash Shaghir juz 1 hal 61.

Di dalam kitab al-jawahir al-qausi di sebutkan ada 320 ribu bala yang di turunkan setiap tahun, dan semuanya di turunkan tepat pada hari rebu di ahir bulan Safar dengan istilah rebu wekasan, sehingga hari itu di sebut hari paling sulit di setiap tahunnya, dan di sebutkan beberapa amaliyah-amaliyah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, agar terhindar dari bala’ pada hari itu. Di anjurkan menjalankan shalat sunnah 4 rakaat dengan membaca surat al-kautsar sebanyak 17 kali setelah membaca al-fatihah dan juga surat ikhlas 5 kali dan surat An-nas dan al-falaq 1 kali, juga memohon perlindungan kepada Allah Swt dengan membaca do’a-do’a

  بسماالله الحمن الرحيم يا شديد القوي وشديد المحال

Juga menuliskan ayat yang di mulai dengan as-Salam di atas kertas putih dan di larutkan kedalam air putih kemudian di minum, ddengan harapan Allah Swt menghindarkan dari malapetaka di dalam satu tahun ini. Adapun ritual pada hari rebu wekasan ini hanyalah sebagian saja, dalam keterangan lain di jelaskan tatacara shalat yang berbeda, semisal bacaanya setelah membaca al-fatihah adalam surat An-nas dan Al-Falaq dan ayat kursi, jumlah rakaatnya adalah 12 rakaat dan di lakukan pada siang hari, sebagaimana di jelaskan dalam kitab al-Ghanimah juz 2 hal 242. Dalam bab keutamaan shalat Sunnah di hari Rabu.


Menyikapi Rebu Wekasan prespektif hadits dan Fatwa Ulama ”Hari Turunnya Malapetaka”
Musibah


Kalau yang di lakukan di pesantren yang penulis singgahi sekarang yaitu setelah shalat maghrib pada malam rabu wekasan membaca surat yasin setelah sampai pada ayat Salamun Qoulam mirrabbirr rahim, di baca sebanyak 313 ada yang membaca 310 ada yang 333, yang penting intinya sama beribadah kepada Allah Swt dengan mengharap ridlo dan mengarap lindungan dari Allah semata.

Meskipun demikian melakukan tolak bala’ (rebu wekasan) harus di lakukan dengan cara-cara yang telah di anjurkan oleh syara’ seperti perbanyak berdo’a, sedekah dan melakukan amal kebaikan yang positif, jika melakukan amal-amal yang mengandung kemungkaran itulah yang justru mempercepat turunnya malapetaka, amal seperti ini yang harus di luruskan agar tidak berdampak pada kaum yang lain.kendati demikian melakukan sahalt rebu wekasan atau berpuasa dengan niatan mengharap ridlo dari Allah Swt serta sebagai washilah dengan melakukan amal shaleh Allah Swt selalu menyelamatkan hambanya yang taat dari malapetaka. Dan yang perlu di perhatikan shalat rebu wekasan di lakukan dengan niat shalat Sunnah mutlak, bukan shalat yang di syariatkannya karena hari hari rabu itu, semoga tidak salah pemahaman.

Syeikh Abdur Ra’ud Bin Tajul ‘Arifi (al-Munawi), menyebutkan.

“Nabi Muhammad Saw ketika melihat mendung maka beliau menyegerakan shalat, sehingga kemudian jika telah turun hujan maka kegelisahan beliau hilang, lalu baginda Nabi Muhammad Swa bersabda,”Aku tidak menyakini awan mendung sebagai pembawa azab, sebagaimana yang telah terjadi pada sebagian umat terdahulu, Maka nabi Muhammad Saw menakuti umatnya dengan sesama apa yang di katakana oleh umat-umat terdahulu (yang di azab dengan awan mendung)” ini adalah awan yang mengandung hujan” akan tetapi justru tidak sebagaimana yang mereka duga, malah menjadi sebuah musibah dari Allah Swt. 

Dengan demikian kita harus hati-hati dalam bertindak harus sesuai dengan syariat islam, agar kita mendapatkan perlindungan dari Allah Swt dan mendapat Syafaat dari Baginda nabi Muhammad Saw, 

Semoga artikel ini bermanfaat dan menjadi jalan menuju kebenaran yang telah di tentukan oleh Syariat. Aminn..

Saturday, 11 November 2017

Hukum Dan Hikmah Menindik Telinga Pada Bayi Menurut Hadist Dan Ijma’ Ulama

Hukum Dan Hikmah  Menindik Telinga Pada Bayi Menurut Hadist Dan Ijma’ Ulama
Menindik Bayi Perempuan

Menindik Telinga Anak Kecil Dengan Jarum Khusunya Anak Perempuan, Sering Sekali Di Lakukan Oleh Orang Tua, Ini Sudah Lumrah di Lakuakan Saat Aqiqah Hari Ketujuh Atau Sebelum Berumur 2 Tahun, Alasan Yang Ada Ialah Agar Kelak Putri Mereka Saat Sudah Dewasa Menjadi Putri Cantik Yang Menawan Dengan Memakai Anting Di Telinga Mereka, lebih-lebih ketika putri mereka sudah berkeluarga, jadi fungsinya anting itu untuk memperindah dan mempercantik seorang perempuan pada pasangan hidupnya yang halal.

Bagaimana hukum dan hikmahnya menindik telinga?

Menindik bagian anggota tubuh selain telinga hukumnya haram secara mutlak sepeeti menindik hidung, lidah, alis mata dan perut, alasan keharaman tersebut sebab melubangi atau menindik di anggota selain telinga bukan tempat untuk menghias diri. Beda halnya menindik telinga dan menggantungkan anting berupa emas atau perak bagi perempuan itu sudah sepakat di seluruh dunia bahwa tempat  itusebagai tempat menghias atau mempercantik diri. Ini menurut kitab Hasyiyah I’anatut Thalibin  Juz 4 Hal 285.

Ulama dalam menyikapi perempuan melakuakn tindik yang di lakukan orang tua mereka dulu, telah meremuskan bahwa praktek seperti di perbolehkan, memang kerena praktek ini telah di lakukan oleh para wanita di zaman Rasulullah Saw, tidak adanya pelarangan dari baginda Nabi Muhammad Saw untuk perkara ini. Keterangan kitab Mausu’ah al-fighiyah juz 11 hal 272.  

Dan juga dallam teks ini sahabat Ibnu Abbas Ra. Meriwayatkan sebuah hadist nabi Muhammad Saw yang berbunyi:

bahwa Nabi Muhammad Saw melakukan shalat Ied dua rakaat, beliau tidak mengerjakan shalat sebelum maupun sesudahnya, kemudian baginda Nabi Muhammad Saw menemui para wanita turut juga bersama belia sahabat Bilal Bin Rabbah, kemudian beliau memerintahkan mereka para wanita untuk bersedekah, hingga para wanita banyak yang melempar anting mereka". Kitab shahih Bukhari juz 7 halaman 204.

Dalam hadist yang di riwayatkan oleh al-bukhri nabi dalam kasus ini tidak melarang para wanita yang memakai anting dan menjadikannya sebagai sedekah. Hal ini di fahami oleh ulama bahwa menindik itu hukumnya di perbolehkan. Bukti lainnya juga berlandaskan hadist Nabi Muhammad Saw. Yang di riwayatkan oleh Imam Al-Bukhari:

“Dari Aisyah berkata: ada sebelas wanita sedang duduk-duduk kemudian berjanji sesama mereka untk tidak menyembunyikan sedikitpun seluk-beluk suami mereka..para wanita itu berkata,” suamiku adalah Abu Zar’in, tahukah kalian  siapaAbu Zar’in itu? Ia mengerak-gerakkan perhiasan kedua telingaku, memenuhi lemah kedua lenganku, dan membahagiakanku sehingga jiwaku turut bahagia...’Aisyah berkata” Rasulullah Saw, bersabda,” terhadapmu aku seperti Abu Zar’in terhadap Ummu Zar’in. Kitab Shahih Bukhari Juz 1 Hal 153

Hadist ini juga menjadi pegangan bahwa Rasulullah Saw tidak  melarang para wanita memakai tindik sebagaimana kisah Ummu Zar’in memakai tindik, Rasulullah menggambarkan kasih sayang dan pemberian yang beliau berikan kepada Aisyah sama seperti perlakuan Abu Zar’in kepada Ummu Zar’in. Kitab I’anatut Thalibin juz 4 Halaman 289.

Imam Ibnu hajar Al-Haitami dalam menyikapi riwayat dari Ibnu Abbas yang menyebut bahwa tindik itu boleh di lakukan pada bayi hukumnya sunnah sebagai ridaksi beliau dalam kitabnya:

“Dari Ibnu abbas bahwa beliau menyebut menindik bayi itu termasuk dari kesunnahan”. dalam kitab beliau. Kitab al-A’lam Li az Zarkali juz 8 Hal 36

Beliau berpendapat hadist yang di riwayatkan oleh Imam At-Thabrani dengan perawi yang terpercaya secara jelas menunjukkan boleh menindik bayi perempuan.di antara para ulama yang memperbolehkan melakukan tindik pada bayi perempuan ialah Imam Abu Hanifah , Imam Ahmad Bin Hambal, dari kalangan Madzhab Syafi’i ialah Imam Az-zarkasyi , Imam Syibramulisi kesemua ulama ini memperbolehkan wanita menindik telinganya, kalau untuk laki-laki tidak di perbolehkan secara mutlak, mereka memberi alasan bahwa tidak di perbolehkannya menindik bagi laki-laki:

Yang pertama dalam dua hadist yang di sebutkan di muka tadi hanya menceritakan tindik bagi kaum wanita bukan laki-laki. 


Hukum Dan Hikmah  Menindik Telinga Pada Bayi Menurut Hadist Dan Ijma’ Ulama
Wanita Memakai Anting


Yang kedua tindik ini berlaku bagi wanita untuk menghiasi dirinya sedangkan bagi laki-laki tidak ada tempat untuk berhias diri, dan laki-laki pada Urfnya tidak membutuhkan perhiasan ini.

Ke tiga pada dasarnya menindik telinga ini sungguh menyakitkan. Dan pastinya menimbulkan sakit, maka itu tidak di perbolehkan sebab menyakiti diri, namun di perbolehkan bagi wanita sebab ada haajat (kepentingan), maka rasa sakit yang di rasakan si bayi ketika proses penindikan itu di tolerir oleh syariat dan memang kenyataan rasa sakit ini tergolong ringan dan cepat sembuh.

Ke empat ketika dewasa kelak akan menimbulakn kemanfaat bagi wanita sebab ketika menikah dengan tindian yang di pasangi anting bisa sebagai penghias untuk menyenangkan hati suaminya.

Dari keempat di atas ini tidak di temukan pada bayi laki-laki sehingga hukumnya tidak di perbolehkan bahkan haram secara mutlak.

Dari uraian tadi bisa di ambil kesimpulan bahwa pnindian bayi perempuan di perbolehkan bahkan di ajurkan oleh Syara’ selain berpijak pada hadist juga melihat kemaslahatan yang di timbulkan, sedangkan hadist yang di riwayatkan oleh Ibnu Abbas yang di kutip oleh Ibnu hajar Al-Haitami di sunnahkan.

Demikianlah artikel ini semoga bermanfaat bagi kita semua khususnya penulis, pembaca dan pengunjung web yang baik hati . aminn..

Friday, 10 November 2017

Seram, Ternyata Mayit Bisa Mendengar Dan Merasa Prespektif Al-Qur’an dan Hadist

Seram, Ternyata Mayit Bisa Mendengar Dan Merasa Prespektif Al-Qur’an  dan Hadist


Salam sejahtera untuk sahabat-sahabat mursyid hasan, Nah kali ini mursyid hasan akan membahas tema yang jauh berbeda dengan artikel-artikel sebelumnya. Apa itu ? mayit bisa mendengar dan merasa, apakah sahabat percaya?, pastinya tidak, Nah gimana kalau ada hadist dan al-qur’annya,  apakah sahabat masih belum percaya, jawabanya pasti percaya, untuk kita simak bersama ulasan mengenai mayit bisa mendengar dan merasa prespektif al-qur’an dan hadist.

Kehidupan bagi manusia itu ada empat tahap hidup dalam kandungan, hidup di dunia, alam barzah dan alam akhirat, Nah kehidupan manusia yang nyata  adanya yakni di alam barzah, ini bukan fiktif atau hayalan ini nyata, akan tetapi kehidupan di alam barzah itu ghaib tidak bisa di lihat dengan mata, sehingga wajar banyak oarang yang menganggap di alam barzah itu hanya hayalan saja, anggapan ini bagi orang-orang yang imannya lemah, orang seperti ini akan percaya kalau hal itu nampak jelas di matanya. Kitab Mafahim yajibu an tashaha Karya Abuya ibnu “alawi al-maliki Halaman 261 maktabah ash-shafwah, semarang.

Mayit Bisa Mendengar


Ada sekelompok orang beranggapan bahwa mayit itu tidak bisa mendengar, berbicara, merasa, ini di sebabkan mayit itu sudah mati dan menjadi tanah, sehingga tidak memiliki kemampuan untuk berbicara dan lain sebagainya, ini merupakan anggapan yang salah. Salah satu hadist yang menerangkan bahwa mayit bisa mendengar adalan hadist shahih Mukhori dan Muslim:

Hadist ini dari Anas bin malik dari thalhah dan abdullah bin umar bahwa” Nabi Muhammad memerintahkan kepada para sahabatnya untuk mengubur 24 lelaki pembesar qurais, mereka di masukkan ke dalam salah satu lembah yang terdapat di tanah badar, lalu Nabi Muhammad memanggil nama-nama pembesar yang mati tadi” wahai abu Jahl ! ibnu Hisyam! Wahai Umayyah Bin Khalaf, wahai Utbah bin Rabi’ah! Apakah kalian semua tidak mendapatkan janji dari tuhan terhadap kalian, kalau kalian semua dalam kesesatan ? karena aku sunnguh telah menadapatkan janji dari tuhanku bahwa ini benar adanya (islam), kemudian Sahabat Umar Bin Khatab bertanya kepada nabi Muhammad Saw, Ya Rasul bukankah jasad-jasad ini sudah meninggal, apakah merekaa bisa berbicara?” demi dzat yang nyawaku berada di dalam kekuasaannya, kalian tidak lebih mampu mendengar terhadap ucapanku dari pada mereka,namun mereka tidak mampu untuk berbicara. Kitab Shahih Ibnu Hibban Juz 11 Hal 99

Hadist lain yang di riwayatkan oleh al-bukhori dan muslim dari hadistnya ibnu umar, al-bukhori dari hadistnya anas dari abu thalhah, dan oleh imam muslim dari hadistnya anas dari umar. Juga di riwayatkan olehat-thabrani dari hadistnya ibnu mas’ud dengan sanat shahih dan dari hadistnya abdullah ibnu sidan dari ibnu umar yan di dalamnya terdapat redaksi sebagai berikut: para sahabar Nabi bertanya pada baginda Nabi Muhammad Saw “ Ya Rasulullah apakah bisa orang meninggal dunia mendengar?” Nabi Muhammad Saw bersabda “ mereka semua bisa mendengar tapi yidak bisa berbicara,” Kitab Mafahim Yajibu An-Tushaha  karangan Abuya Sayyid Muhammad Ibnu’Alawi Al-Maliki Hal 261 

Mayit setelah di kebumikan lalu kerabat dekatnya pulang serta pelayat yang lain, mayit ini bisa mendengar langkah kaki mereka, dalam kitab Shahioh Muslim ada sebuah hadist yang menerangkannya.

“Sesungguhnya seorang hamba ketika di letakkan di liang lahat dan para sahabatnya berpaling darinya sesungguhnya ia mendengar suara gesekan sandal mereka” 


Seram, Ternyata Mayit Bisa Mendengar Dan Merasa Prespektif Al-Qur’an  dan Hadist

Mayit Bisa Merasakan


Di atas kita sudah membahas kalau mayit itu bisa mendengar ternyata di samping bisa mendengar mayit juga  bisa merasakan, dalam kasus ini di jelaskan tentang orang mati syahid seperti dalam firmannya.

“Sesunggunhnya engkau menyangka orang-orang yang mati di jalan Allah Swt telah mati, padahal mereka itu hidupdan di beri rizki oleh tuhan mereka”. (Surat Ali Imran Ayat 169)

Dalam ayat di atas ini Allah Swt memberi rizki kepada orang-orang yang mati syahid, mereka mersakan rizki dari Allah Swt dengan indra perasa yang baik, mereka merasakan kenikmatan hal itu dengan kenikmatan yang sesungguhnya, ketika mereka sudah merasakan rizki yang di berikan oleh Allah Swt, kemudian mereka berkata”Andaikan saja mereka saudara-saudaraku tahu apa yang telah di berikan kepada kami  rizki oleh Allah Swt” Kitab Mafahim Halaman 266.

 Dalam kitab Al-Usul Fil Auliya’ ada keterangan bahwa Syeikh Ali Al-Qarasyi berkata dalam salah satu kitabnya” Saya pernah melihat empat Masyayikh ketika di dalam kuburan melakukan atau bertindak seperti apa yang di lakukan oleh orang-orang yang masih hidup”. Jika orang shaleh saja ketika meninggal dunia masih bisa melakukan seperti halnya orang yang masih hidup, apalagi jasadnya Para sahabat dan para nabi, dalam hadist di sebutkan.

Para Nabi hidup dalam kuburnya serta melakukan shalat”HR, Abu Ya’la Dan Al-Bazzar).

Dalam hadist itu di riwayatkan oleh Abu Ya’la Dan al-Bazzar dan para perawi hadist yakni Abu Ya’la dalam orang-orang Tsiqqah “Terpercaya”. Keterangan kitab Maj’uz Zawa’id Juz 8 Hal 144.  Dari urain di atas ini dapat di fahami bahwa anggapan orang-orang meninggal dunia ini tidak bisa mendengar dan merasa itu keliru dan menyalahi al-qur’an dan hadist.

Demikialah uraian artikel tentang orang meninggal dunia bisa di mendengar dan merasa, semoga artikel ini dapat memberi kemanfaatan bagi semuanya khusunya penulis, pembaca dan pengunjung web yang setia. Amnn..

Nb: untuk lebih memperluas keilmuan kita semua, terkait  masalah ini agar dan juga untuk lebih menguatkan pendapat ini, sekiranya sahabat-sahabat membaca kitab Mafahim karya Abuya Sayyid Muhammad Ibnu’Alawi Al-Maliki.







Thursday, 9 November 2017

5 Ulama Salaf, Mengomentari Seputar sampainya Pahala Ibadah Pada Mayit

-5- Ulama- Salaf,-  Mengomentari -Seputar- sampainya- Pahala-  Ibadah - Pada- Mayit-
Menghadiahkan bacaan al-qur'an 

Salam sejahtera untuk sahabat mursyid hasan yang sangat setia mengunjungi web ini dengan harapan semoga web ini memberi kemanfaatan bagi seluruh masyarakat dan khusunya untuk para pengunjung web ini.

Soal amalam ibadah atau pahala ibadah yang di hadiahkan utnuk mayit semua mayoritas ulama sepakat bahwa hal demikian itu di perbolehkan dan tidak ada yang mengatakan haram, dan tidak ada ulama yang berselisih faham mengenai perkara tersebut, namun ada sedikit perselisihan yang terdapat pada madzhab imam As-Syafi’i, bahwa jika seorang ingin menghadiahkan pahala ibadahnya untuk mayit, maka harus di niati dulu semisal aku hadiahkan pahala bacaan al-qur’an ini untuk si fulan, maka ini sampai pada mayit yang di tuju, sedangkan mazhab lain tidak perlu niat. Hasyiyah Al-Bajuri “Ala al-khatib juz 2 hal 302

Simak Fatwa 5 ulama salaf mengenai sampainya hadiah pahala ibadah pada mayit


a. Imam As-Syafi’i

Imam As-Syafi’i berkata dalam salah satu karangan beliau yang berbunyi “ di sunnahan membaca sebagian ayat al-qur’an di dekat mayit, namun lebh baiknya lagi jika pelayat membaca al-qur’an sampai khatam” Dalilul Falihin Syarh kitab riyadus sholihin jus 3 hal 388.

b. Syeikh Jalaluddin Al-Mahalli

Sedekah (sebagai ganti) dari mayit akan bermanfaat baginya dan begitu juga  ahli warisnya mendoakan keluarganya yang sudah meninggal dunia maka akan bermanfaat untuk dirinya dan untuk si mayit yang di do’akan dengan begitu Syeikh Jalaluddin mengatakan sampainya pahala amalan ibadah kepada mayit. Ini berlandaskan ijma ulama, hal ini seperti yang di kutip oleh Imam Nawawi dan lainnya. Al-imam As-Syafi’i berkata “ dan dengan keluasaan Allah Swt orang-orang bersedekah turut mendapatkan pahala” Kitab Kanzu ar-raghibin Ma’a Hasyiyata Qulyubi jus 3 hal 177.

c. Imam Al-Qurtubi

Beliau Mengatakan bahwa semua ulama salaf sepakat bahwa menghadiahkan atau mensedekahkan pahala amalan ibadah pada si mayit akan sampai, begitu juga mengenai bacaan ayat al-qur’an, shalawat, istigfar, karena itu semua termasuk sedekah, jika di niati sedekah pahala untuk si mayit. Sebagaimana sabda baginda Nabi Muhammad Saw, setiap kebaikan itu sedekah” (HR, Imam Bukhori muslim), dengan adanya hadist ini sedekah untuk mayit bukan hanya bacaan al-qur’an, istigfar dan shalawat saja, melain semua amal kebaikan itu termasuk sedekah seperti menolong orang lain, membuang hal-hal yang membahayakan bagi orang lain seperti duri di tengah jalan. Jadi bersedekah pahala ibadah pada mayit bukan hanya bacaan al-qur’an, istigfar, menyumbang, shadaqah saja, tapi berupa kebaikan contoh menolong orang yang sangat memerlukan bantuan kita. Membuang duri di jalan. Kitab Mukhtashar Tadzkirah hal 25 , Makbabah As-Syamilah.

d. Imam Ibnu Taimiyah

Beliau termasuk tokoh yang sangat di puja oleh sebagian sekte islam ini, ada sebagian orang yang tidak tahu tentang islam memberikan fatwa bahwa bid’ah orang yang menghadiahkan pahala ibadah untuk si mayit, bahkan orang-orang ini menggunakan dalilnya Imam ibnu taimiyah bahwa pahala ibadah yang di sedekahkan pada mayit tidak sampai, ini fatwa yang bohong, sebab Imam Ibnu Taimiyah mengatakan sendiri kalau amalan ibadah yang di sedekahkan pada mayit itu sampai.

Beliau saat di tanya mengenai pembacaan tahlil sampai 70.000 kali apakah itu sampai pada mayit atau tidak, apakah baaan itu bermanfaat?

Beliau Imam Ibnu Taimiyah menjawab” Apabila seorang membaca tahlil 70.000 kali lalu di hadiahkan untuk mayit maka pahala ini sampai pada mayit dan bacaan ini sangat bermanfaat untuk mayit. Majmu’ Fatawi Li Ibn Taimiyah juz 24 hal 323. Maktabah syamilah. 


-5- Ulama- Salaf,-  Mengomentari -Seputar- sampainya- Pahala-  Ibadah - Pada- Mayit-
Bacaan al-qur'an untuk mayit


e. Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah

Imam Ibnu Qoyyim beliau termasuk ulama yang sangat alim dalam bidangnya bahkan beliau di jadikan idola oleh golonga remaja pada masa itu. Beliau berkata bahwa sedekah yang di tujukan pada mayit itu sampai padanya, sebagaimana yang beliau sampaikan dalam salah satu kitabnya yakni al-Ruh:

“Sebaik-baik amal yang di sedekahkan pada mayit yakni memerdekaan budak, sodaqah jariyah, membaca al-qur’an, istighfar, berdo’a dan haji” Ar-Ruh karangan Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah hal 14.

Bahkan dalam kitabnya beliau berkata, siapa orang yang mengatakan bahwa pahala sedekah tidak sampai pada mayit dan mengatakan itu tdak ada landasannya maka orang ini telah melakuakn bid’ah, sebagaimana yang tertera di dalam kitab Ar-Ruh.:

“Para ahli bid’ah dari glongan ahli kalam berpendapat bahwa menghadiahkan pahala ibadah baik berupa do’a sama sekali tidak sampai pada mayit”

Tambahan untuk para sahabat yang ingin mengetahui dalil tentang amalan ibadah yang sampai pada si mayit salah satunya dalam kitab Mafahim Karangan Abuya Syeikh Al-maliki.

Kesimpulan dari paparan tadi mengatakan bahwa amalan ibadah yang di sedekahkan pada mayit itu sampai dan memberikan kemanfaatn bagi mayit, untuk itu bagi para sahabat yang keluarganya telah mendahului kita jangan ragu dan takut untuk mensedekahkan amalan ibadah yang kita lakukan.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua khususnya penulisdan pengunjung. Aminn ya rabbal ‘alamin..

Wednesday, 8 November 2017

Inilah Hukum Menggunakan Minyak Wangi Berakohol Berlandaskan Kitab Klasik

Inilah Hukum Menggunakan Minyak Wangi Berakohol Berlandaskan Kitab Klasik
Minyak Wangi Berakohol


Salam sehat untuk sahabat-sahabat mursyid hasan, kali ini mursyid hasan tidak jauh beda membahas seputar permasalahan yang di hadapi oleh kebanyakan masyarakat, khususnya untuk teman-teman santri yang baru singgah di pesantren.

Kemarin waktu ane ngajar tentang bab najis banyak santri bertanya dan beranggapan bahwa campuran alkohol dalam parfum itu najis, jadi tidak boleh di gunakan baik untuk shalat atau di luar shalat.

Ketika ane dalam perjalanan pulang kampung saat itu liburan pesantren, ane di  bis duduk dengan seorang kakek-kakek, lalu kakek itu menegor ane, dek jangan makai parfum yang ada campuran alkoholnya, sebab alkohol itu najis, ane diam saja?

Untuk meluruskan anggapan yang kurang begitu benar ini web mursyid hasan akan memberikan informasi hukum parfum bercampur dengan alkohol semoga bermanfaat.

Hukum menggunakan parfum yang berakohol ketika shalat itu di perbolehkan, jika kadar alkoholnya itu sebatas kadar untuk  mengharumkan, mengawetkan atau mempertajam bau parfum, maka di perbolehkan, sebab bercampurnya alkohol dalam minyak wangi itu merupakan kebutuhan dan di ampuni oleh Syara’. Hal sesuai dengan penjelasan Syeikh Ibnu “imad dalam kitab Fath al-jawad sebagai berikut” parfum yang di campur dengan alkohol itu boleh di gunakan ke pakaian baik utnuk shalat atau di luar shalat ini menurut pendapat yang di tashih (di benarkan) dalam kitab Raudlah.

Jika seseorang mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa alkohol yang di campur ke dalam parfum itu najis, sebab, khamr yang menjadi acuan analogi hukum najis masih di perselisihkan di kalangan ulama, apakah khamr itu najis atau tidak. Perselisihan itu terjadi sebab terjadi perbedaan dalam menafsiri kata Rijsun dalam surat al-maidah ayat 93:

 أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

menurut Imam Al-Muzani dalam ayat Rijsun itu bukan berarti najis, jika kata itu di artikan najis, akan menimbulkan kejanggalan dalam kata al-maisir (berjudi), Al-Ashab (Berhala), aslam (mengundi najis dengan panah) yang jelas tidak bukan benda-benda najis. Kata Rijsun lebih tepatnya di artikan perbuatan keji yang harus di hindari.

Di kalangan ulama Asyafi’iyah kata rijsun dalam ayat tadi memungkinkan bermakna dua arti yaitu perbuatan keji atau bermankna najis, karena tidak ada indikasi yang menguatkan salah satunya, maka kata rijsun di artikan untuk keduanya sekaligus. Sehingga, ini memberi kesimpulan bahwa khamr termasuk benda najis dan meminum kamr termasuk perbuatan keji yang harus di hindari. Namun ada pendapat yang mengatakan bahwa khamr itu suci, namun haram meminumnya sebab memabukkan.

Demikianlah artikel singkat ini semoga bisa memberi kemanfaatan untuk semua orang khusunya masyarakat muslim baik di dunia dan akhirat. Aminn..







Kenapa Kita Shalat, Ini Alasannya. Berlandaskan Al-Qur’an Hadist Dan Kitab Mu’tabar

Kenapa Kita Shalat, Ini Alasannya Berlandaskan Al-Qur’an Hadist Dan Kitab Mu’tabar
Shalat Berjama'ah

Salam sejahtera sahabat-sahabatku sekalian, kali ini mursyid hasan akan membagikan informasi seputar shalat, mungkin semuanya sudah faham apa itu rukun dan syarat-syarat shalat. Untuk itu web mursyid hasan akan membahas kenapa kita di wajibkan untuk shalat??

Semua umat muslim khususnya tidak tahu kelak akan di masukkan kesurga atau keneraka, Allah Swt telah menentukan takdir kita kelak apakah di masukkan ke surga atau sebaliknya sesuai dengan kebijakan Allah Swt. Lalu apa gunanya kita shalat lima waktu dan apa manfaatnya kita shalat ?

Seandainya Allah dulu tidak menciptakan surga atau neraka, lalu Allah Swt memerintahkan kita untuk shalat? Apakah kita mau, pasti jawabnya mau, kenapa kok gitu, sebab kita shalat bukan mengharap surga atau terhindar dari api neraka, tapi semata-mata menjalankan perintah Allah dan mengharapa ridlo dari Allah Swt (Ta’abud), alasan yang kedua kita sebagai mahluk yang di ciptakan sudah sepantasnya menyembah-nya sebagaimana firman Allah Swt :

Tidak lah aku ciptakan (Allah Swt) jin dan manusia kecuali untuk menyembah Allah Swt”.

Inilah salah satu yang kita kerjakan bukan mengharap surga atau neraka, tapi semata-mata menjalankan perintah Allah swt. Sebab dalam ayat tadi Allah tidak menyebutkan,  menciptakan jin dan manusia untuk di masuukan ke surga atau neraka tapi untuk menyembah, beribadah dan menjalankan perintahnya.

Lebih logisnya kita di dunia ini seperti halnya seorang tamu yang hanya singgah sesaat, dan bumi ini milik Allah Swt semata sebagai tuan rumah, lalu surga atau neraka itu seperti halnya hidangan untuk tamu, kita tidak perlu memikirkan atau mengurusi hidangan yang akan di suguhkan oleh tuan rumah, kita di kasih apapun terserah tuan rumah kita harus menrima, tapi yang harus kita pikirkan betul-betul yakni tingkah kita saat bertamu yakni harus sopan dan berpakaian rapi. Begitu juga dengan shalat kita tidak perlu memikirkan tapi harus di kerjakan.

Dalam Kitab Tafsir At-Thabrani Juz 12 Hal 69
Dalam Tafsir Ibnu Katsir Juz 8 Hal 403

Rasulullah Saw bersabda dalam salah satu hadist “bahwa semua manusia sudah di tentukan tempat kembalinya kelak apakah di surga atau di neraka, lalu ada salah satu sahabat beliau bertanya, lalu untuk apa ya Rasul kita masih shalat, sedangkan kita sudah di tentukan tempat di akhirat kelak. Kita pasrah saja, tanpa harus mengamal.

Kalau kita melakukan shalat dan mudah untuk melakukannya berarti Allah ridlo dan memberikan rahmad kepada hambanya yang mau menjalankan perintahnya dan ini menjadi  ciri-ciri seorang hamba akan di permudah jalan menuju surga, sebab kelak di akhirat cuman hanya ada dua tempat yaitu surga atau neraka..kalau Allah Ridlo berarti Allah akan menempatkan kita di surga tapi kalau sebaliknya maka Allah akan menempatkan kita di neraka tanpa harus di harap.

Abu Bakar Asy-siddiq bertanya kepada baginda nabi Muhammad Saw, kita beramal karena Allah Swt telah mencatatnya dulu sebagai orang yang beramal dan tidak bisa berubah, atau beramal agar kita semua selamat? Baginda nabi Muhammad Saw bersabda” kita beramal karena kita telah di tetapkan seorang yang beramal. Lalu Abu Bakar bertanya lagi” Ya Rasul lalu untuk apa kita beramal? , Rasulullah menjawab pertanyaan sahabatnya” semua orang yang di permudah melakukan amal sesuai dengan takdirnya ini menjadi ciri-ciri orang-orang yang selamat dan mendapatkan ridlo dari Allah Swt.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang di takdirkan orang yang di permudah menjalankan amal-amal wajib dan selalu di ridlo oleh Allah Swt dan di tempatkan di tempat yang paling baik.. aminn.









Monday, 6 November 2017

4 Golongan, Pahala Sholat Tidak Di Terima Oleh Allah Swt

4 Golongan, Pahala Sholat  Tidak Di Terima Oleh Allah Swt
MURSYID HASAN

Sahabat mursyid hasan yang di mulyakan oleh Allah Swt, artikel kali ini membahas masalah 4 golongan manusia yang shalatnya tidak di terima oleh Allah Swt sebab beberapa hal. Artikel ini di buat semata-mata untuk berbagi ilmu pengetahuan dan agar artikel bisa ini menyadarkan mereka-mereka yang sudak terlanjur melakukan perkara yang dapat tertolak pahala shalatnya. Kalau mereka-mereka sadar karena membaca artikel ini atau artikel yang semakna dengan artikel ini, itu bukan semata-mata karena artikel ini tapi karena hidayah oleh Allah.

Penyebab pahala shalat tertolak yang pertama:

Perempuan Berani Kepada Suaminya

Penyebab sholat tidak di terima oleh Allah yang pertama seorang perempuan yang berani dan  menyakiti hati suaminya, sampai kapan pahala sholatnya tidak di terima? Sampai ia mau meminta maaf dan berkasih sayang lagi terhadap suaminya, jangan karena suami kaya, jangan karena suami seorang kyai, seorang bupati, DPRD atau apaun seorang istri menyayangi suaminya. lalu kalau suami seorang buruh tani, buruh bangunan, tukang ojek para istri enggan menyanyangi suaminya bahkan ironisnya seorang istri memarahi, menyakiti hati suaminya, hindari hal-hal demikian, sebab dengan beraninya seorang istri pada suaminya, maka Allah enggan untuk menerima pahala shalatnya.

Kalau shalatnya tetap sah, namun tidak memiliki pahala, kelak di hari kiamat tidak memiliki pahala shalat, malah akan di laknat oleh Allah Swt, Rasulullah dan makhluknya. Kalau sampai di laknat oleh Allah Swt dan Rasulullah Saw, sudah pasti akan di siksa di neraka kelak, Naudzubillah.. 

Memutus Tali Silaturrahmi Sampai Melebihi Tiga Hari


Sejak kecil tidak sia-sia orang tua mengirim  kita mengaji kepada para ustad dan kyai. Ini semua semata-mata untuk membentengi diri kita dari gangguan syaitan, caranya memperbaiki diri dengan ahklak seperti saling mengasihi, menyambung tali persaudaraan. Memperdalam ilmu akidah, ilmu fikih. 

Sebab kalau kita tidak di didik sejak dini dengan ilmu agama, sudah barang tentu akan hancur akhlak bangsa ini, saling membunuh, saling mencaci maki dan saling memutus tali silaturrahmi. Banyak sekarang ini kita dapati hanya persoalan partai, persoalan beda pendapat, beda suku sampai memutus silaturrahmi, kalau sampai ini terjadi dan saling bermusuhan melebihi 3 hari, maka Allah tidak menerima pahala shalat, sampai kapan pahala shalat tidak di terima oleh Allah Swt. Sampai ia menyambung tali persaudaraan yang telah retak.

Seorang Budak Kabur Dari Sayyidnya 


Penyebab pahala shalat tidak di terima oleh Allah Swt yang ketiga, yakni seorang budak yang lari dari sayyidnya, budak ini sekarang sudah tidak di berlakukan lagi, jadi tidak perlu untuk di bahas terlalu mendalam. Namun kita bahas yang sesuia dengan sub judul ini, yakni seorang murid dan santri yang mbelorot saat jam pelajaran, maka ini harus di hindari sebab kalau sampai murid mbelorot sudah barang tentu guru dan ustadnya akan sakit hati, kalau sampai ustadnya sakit hati gara-gara muritnya, maka Rasulullah juga sakit hati, kalau sampai Rasulullah sakit hati sudah barang tentu Allah Swt akan sakit hati dan menyiksa orang-orang ini. Maka dari sekarang seorang murit dan santri untuk membuang jauh-jauh prilaku yang tidak baik ini.

Meminum Arak


Penyebab pahala shalat tidak di terima oleh Swt,  yang terahir yakni seorang pemabuk yang enggan bertobat, maka ia kalau shalat sebelum bertobat tidak akan di terima pahala shalatnya, kalau pahala shalat tidak di terima, sudah barang tentu Allah akan menyiksa orang-orang ini dengan siksaan yang sangat pedih.

Semoga kita semua umat muslim khususnya terhindar dari hal-hal ini. Aminnn..

Sunday, 5 November 2017

5 Golongan Yang Di Tanggung Masuk Surga Oleh Nabi Muhammad Saw

5 Golongan Yang Di Tanggung Masuk Surga Oleh Nabi Muhammad Saw
Ilustrasi Surga

Sahabat MURSYID HASAN yang di muliakan oleh Allah Swt dan beserta Rasul-nya kita sebagai umat Rasulullah pasti mengharapkan Syafa’at, pertolongan dari Nabi Muhammad Saw, tidak bisa kita selamat dengan amal-amal kita selama tidak ada Rahmad Dari Allah Swt, juga tanpa adanya campur tangan dari Baginda Nabi Muhammad Saw, Nah mumpung ada jaminan dari rasulullah untuk umatnya maka kita harus berlomba-lomba mencari dan mengamalkannya agar kita termasuk orang-orang yang di selamatkan, Lalu amalan apa yang oleh Nabi Muhammad Saw di tanggung masuk surga. Ada 5 orang yang oleh Rasulullah di tanggung masuk surga ini berlandaskan hadist nabi Muhammad Saw yang di riwayatkan oleh sahabat  Abu Sa’id Al-khudri Radliyallahu ‘anhu. dalam kitab Tanbihul Ghofilin bab Adzan Wal Iqomah halaman161.

Yang pertama Wanita Sholihah Yang Taat Pada Suaminya

Wanita yang taat pada suaminya oleh Rasulullah Saw akan di tanggung untuk masuk surga, ini harus di ketahui oleh istri sebab dengan adanya tanggungan langsung oleh baginda Nabi Muhammad Saw, sudah selayaknya seorang istri taat dan patuh terhadap suaminya selama suami itu mengajak ke jalan yang di benarkan oleh syariat, Namun ironisnya bagi istri ketika sudah lama berkeluarga atau sudah mengetahui cela yang di alami oleh suaminya terkadang enggan untuk patuh, Nah sikap ini harus di buang jauh-jauh agar tidak mendapatkan laknat dari Allah, Rasulullah dan makhluk.

Ke Dua Anak Yang Berbakti Pada Orang Tuanya

Orang yang di tanggung oleh Rasulullah untuk masuk surga, yakni seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, apalagi orang tua yang sudah udzur, Nah ahir-ahir ini banyak anak tidak mau berbakti kepada orang tuanya dengan alasan sudah menjadi bupati, DPRD, dosen atau dokter, wahai saudaraku jangan sampai lakukan hal-hal yang keji ini, kita menjadi sesuai apa yang kita cita-citakan tidak lepas dari jerih payah orang tua, baik cuaca sedang panas, hujan, dalam keadaan sakit, lapar, haus tetap kedua orang tua kita  bekerja demi anak, meraih cita-citanya, apakah kita tetap tidak mau berbakti setelah menjadi dosen atau dokter. 

Kalau kita tidak mampu berbakti kepada orang tua, selayaknya kita jangan sampai menyakitinya

Ketiga Orang yang meninggal di perjalanan saat hendak menunaikan ibadah haji

Orng yang berniat melakukan ibadah haji atau umrah dengan mengharap ridlo dari Allah, lalu ia meninggal dunia di perjalanan menuju ibadah haji, maka kelak oleh Rasulullah Saw akan di tanggung ia masuk surga, sungguh mulya orang-orang yang meninggal dunia ketika perjalanan menuju makkah untuk melakukan ibadah haji atau umrah, dengan catatan ia menunaikan ibadah haji karena Allah Swt. Bukan menunaikan ibadah haji agar di panggil aba atau agar di pilih menjadi pemimpin, bukan pergi haji karena pengen memakai sorban atau peci putih.

Keempat Orang Memiliki Budi Pekerti Yang Baik

Rasulullah Saw di utus ke bumi untuk menyempurnakan akhlak bagi umat-umatnya, ternyata tidak sia-sia Rasulullah memperbagus akhlaknya para umatnya, sebab Rasulullah kelak pada hari kiamat akan menanggung umatnya yang berbudi baik, Tidak ada sesuatu pun perintah Rasulullah yang menyebabkan celaka, Tapi semua perintah beliau mengandung keselamatan bagi umatnya. 


5 Golongan Yang Di Tanggung Masuk Surga Oleh Nabi Muhammad Saw
Adzan


Kelima Orang Yang Adzan  Karena Allah

Sungguh mulia orang-orang adzan sampai istiqomah, sebab Rasulullah Saw kelak akan menanggung ia untuk masuk surga, tapi dengan catatan ia adzan bukan ingin di puji orang, bukan pula ingin di nilai sebagai muadzin yang bersuara bagus, bukan pula adzan yang ingin mendapatkan gajian, beda halnya kalau ia tidak mengharapkan gaji tapi di kasih oleh takmir masjid maka tidak mengapa ia ambil. Ia adzan dengan niatan  mengharap ridlo dari Allah semata bukan yang lain.

Demikianlah artikel yang dapat saya sampaikan semoga artikle tentang 5 orang yang kelak akan di tanggung oleh Rasulullah masuk surga semoga kita termasuk orang-orang yang di lamanya. Aminnn ya Rabbal ‘Alaminn


Friday, 3 November 2017

Mengagumkan, Tulang Ajbun Danab-NYa Manusia Tidak Akan Hancur Kapan Pun

Mengagumkan,  Tulang Ajbun Danabnya manusia Tidak Akan Hancur Kapan Pun
Tulang Ajbun Danab


Ribuan tahun yang lalu masih belum adanya alat teknologi yang super secanggih seperti sekarang ini, Namun Rasulullah Saw dengan kemampuannya sebagai seorang utusan mampu  mendeteksi bagian tubuh manusia yang tidak akan hancur sampai hari kebangkitan dari alam kubur.

Lalu bagian tubuh mana yang telah di deteksi oleh Rasulullah yang tidak akan hancur sepanjang masa?

Nabi Muhammad menyebut dengan sebutan ( عجب ذنب) kalau di Bahasa Indonesiakan tulang ekor, Nah kalau Bahasa jawanya Balung Cilik Kang Koyok Buntut (tulang kecil menyerupai ekor), tulang inilah yang tidak akan hancur walaupun masa yang lama dan berada di tempat manapun tetap utuh.

Letak Tulang Ajbun Danab

Letak tulang ekor ini berada di antara dua pantat di atas anus manusia, atau terletak dibagian bawah ruas tulang belakang, untuk lebih detelnya anda raba sendiri ketika duduk, kalau ada benjolan di sekitar pantat di atas anus itu berarti yang di sebut Ajbun Danab.


Ada 2 Kehebatan Dari Ajbun Danab-Nya Manusia


a. Kekal

Ketika manusia di matikan, baik orang islam atau orang kafir, tulang ekor ini tetap utuh di manapun dan kapanpun, ini di kecualikan dari para Nabi, Rasul, Wali dan orang-orang sholih sebab orang-orang ini bukan hanya tulang ajbun danabnya yang utuh, tapi semua jasadnya utuh, penjelasan tentang artikel ini untuk orang-orang kafir dan orang islam yang memiliki dosa besar yang di mungkinkan jasadnya hancur, maka hanya tulang ajbun danab ini yang utuh selamanya.

b. Alat Perekam fisik Manusia 

Sebelum di bahas sub bab ini kita bahas dulu yang namanya Kotak hitam atau black box. Agar lebih jelas apa fungsi tulang ajbun danab ini. di pesawat, fungsi kotak hitam sendiri yaitu alat merekam pesawat mulai, lebar, panjang, besar (bentuk pesawat) serta dapat merekam semua aktifitas di dalam pesawat, mulai alat rekam data penerbangan, data ketika terjadi kecelakaan, dengan adanya kotak hitam ini bisa di ketahui penyebab pesawat jatuh, apakah kelalaian pilot atau memang ada kerusakan di badan pesawat tersebut. 

Nah untuk tulang ajbun danab  ini tidak jauh berbeda dengan fungsinya  kotak hitam di pesawat cuman kalau Ajbun Nadzab (tulang ekor) itu juga berfungsi dapat merekam fisik manusia sebelum meninggal dunia mulai tinggi, pendek, gemuk, kurusnya badan, bentuk tangan, kaki, kepala, warna rambut, semuanya bentuk fisik manusia sebelum meninggal  terekam di dalam   ( عجب ذنب).

Proses Manusia di Bangkitkan 

Setelah kematian atau karena sudah tiba waktunya kiamat, kelak akan di tiup sangkakalanya malaikat yang kedua kali, ini menandakan semua makhluk hidup bangakit lagi, selama 40 hari ini Allah Swt menurunkan hujan mani, Nah manusia kelak akan hidup lagi sesuai bentuk fisik ketika sebelum meninggal dunia dulu, Nah ajbun danab inilah yang di hujani air selama 40 hari, dan dari ajbun danab inilah manusia bangkit sesuai postur tubuhnya sewaktu di dunia dulu, sebab ajbun danab memiliki kemampuan merekam bentuk fisik seseorang. Bangkitnya manusia ini kelak seperti halnya tumbuh-tumbuhan yang hidup ketika di sirami air.

Inilah kehebatan Allah menciptakan tulang ekor manusia, yang berfungsi merekam bentuk tubuh manusia serta kekal walaupun di waktu yang sangat lama .

Inilah kehebatan Rasulullah mendeteksi ajbun danab (tulang ekor) ribuan tahun yang lalu sedangkan pada waktu itu belum ada teknologi yang secanggih pada zaman sekarang ini.

Masihkan belum percaya bahwa hanya Allah tuhan semesta Allah Swt yang wajib kita sembah.

Masihkan belum mempercayai bahwa Nabi Muhammad Saw itu seorang Rasul..

Inilah yang dapat saya informasikan semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua. Aminn..


Mengagumkan,  Tulang Ajbun Danabnya manusia Tidak Akan Hancur Kapan Pun


Landasan Kitab Kuning:

Baca juga kitab Riyadus Sholihin, Al-Haramain Halaman 

1836- وعنه رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم قال: (بين النفختين أربعون) قالوا: يا أبا هريرة أربعون يوما قال: أبَيت. قالوا: أربعون سنة قال: أبيت. قالوا: أربعون شهرا قال: أبيت. (ويبلى كل شيء من الإنسان إلا عجب ذنَبه فيه يركب الخلق، ثم يُنزل اللَّه من السماء ماء فينبتون كما ينبت البقل) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

شرح صحيح مسلم للإمام النووي ج ١٨ ص ٩٣.

ﻗﻮﻟﻪ (ﻋﺠﺐ اﻟﺬﻧﺐ) ﻫﻮ ﺑﻔﺘﺢ اﻟﻌﻴﻦ ﻭﺇﺳﻜﺎﻥ اﻟﺠﻴﻢ ﺃﻱ اﻟﻌﻈﻢ اﻟﻠﻄﻴﻒ اﻟﺬﻱ ﻓﻲ ﺃﺳﻔﻞ اﻟﺼﻠﺐ ﻭﻫﻮ ﺭﺃﺱ اﻟﻌﺼﻌﺺ ﻭﻳﻘﺎﻝ ﻟﻪ ﻋﺠﻢ ﺑﺎﻟﻤﻴﻢ ﻭﻫﻮ ﺃﻭﻝ ﻣﺎ ﻳﺨﻠﻖ ﻣﻦ اﻵﺩﻣﻲ ﻭﻫﻮ اﻟﺬﻱ ﻳﺒﻘﻰ ﻣﻨﻪ ﻟﻴﻌﺎﺩ ﺗﺮﻛﻴﺐ اﻟﺨﻠﻖ ﻋﻠﻴﻪ ﻗﻮﻟﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ (ﻛﻞ ﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﻳﺄﻛﻠﻪ اﻟﺘﺮاﺏ اﻻ ﻋﺠﻢ اﻟﺬﻧﺐ) ﻫﺬا ﻣﺨﺼﻮﺹ ﻓﻴﺨﺺ ﻣﻨﻪ اﻷﻧﺒﻴﺎء ﺻﻠﻮاﺕ اﻟﻠﻪ ﻭﺳﻼﻣﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻓﺈﻥ اﻟﻠﻪ ﺣﺮﻡ ﻋﻠﻰ اﻷﺭﺽ ﺃﺟﺴﺎﺩﻫﻢ ﻛﻤﺎ ﺻﺮﺡ ﺑﻪ ﻓﻲ اﻟﺤﺪﻳﺚ

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " كُلَّ ابْنِ آدَمَ تَأْكُلُ الْأَرْضُ، إِلَّا عَجْبَ الذَّنَبِ، مِنْهُ خُلِقَ، وَفِيهِ يُرَكَّ 


( كل ابن آدم ) بالنصب مفعول مقدم أي جميع جسده ( إلا عجب الذنب ) بفتح العين وسكون الجيم ، العظم الذي في أسفل الصلب عند العجز ( منه ) أي من عجب الذنب ( خلق ) بصيغة المجهول ، أي ابتدئ منه خلق الإنسان أولا ( وفيه ) أي ومنه ، وفي تأتي مرادفة لمن ( يركب ) بصيغة المجهول ، أي في الخلق الثاني .

قال النووي في شرح مسلم : عجب الذنب هو بفتح العين وإسكان الجيم ، أي العظم اللطيف الذي في أسفل الصلب ، وهو أول ما يخلق من الآدمي ، وهو الذي يبقى منه ليعاد تركيب الخلق عليه ، وهذا مخصوص فيخص منه الأنبياء صلوات الله وسلامه عليهم ، فإن الله حرم على الأرض أجسادهم انتهى