Saturday, 30 September 2017

Standarisasi Anak Kecil Yang Dapat Membatalkan Wudlu

Standarisasi Anak Kecil Yang Dapat Membatalkan Wudlu
Standarisasi Usia Baligh


Perkara yang dapat membatalkan wudlu salah satunya menyentuh kulit lawan jenis tanpa adanya ikatan nasab, saudara susuan atau sebab pernikahan (Mushoharah), namun semuanya itu ada syarat-syaratnya pertama yang dapat membatalkan wudlu usianya sudah baligh, Nah mengingat zaman sekarang belum mencapai usia baligh sudah banyak yang suka terhadap lawan jenisnya, mungkin karena medsos atau yang lain, intinya untuk zaman sekaang ini untuk ukuran anak yang dapat membatalkan wudlu belum cocok, karena melihat fenomena keadaan.

Dengan melihat deskripsi masalah seperti ini, lalu bagaimana tanggapan hukum fikih?

Menurut hukum fikih ulama terjadi khilafah terkait batasan usia yang dapat mengakibatkan batalnya wudlu, menurut pendapat yang mu’tamat usia yang dapat mengakibatkan batalnya wudlu tidak harud di tentukan dengan usia, namun dengan adanya syahwat ini harus melihat Urf (Umum) menurut anggapan masyarakat.

Sedangkan menurut Muqobil Ashah batalnya wudlu bisa juga di tentukan dengan usia, ada yang berpendapat umur 7 tahun ada juga yang berpendapat 6 tahun.

Dalam kitab I’naq Fii Hal Al-faadi Aby Syuja’i Juz 1 Hal 83


Dalam kitab ini yang di maksud dengan lafad Ar-Rojulu yakni seorang laki-laki yang sudah bisa mensyahwati lawan jenisnya, bukan di tentukan dengan Baligh. Sedangkan wanita juga begitu yang dapat membatalkan wudlu, bukan di tentukan dengan usia baligh melainkan dengan mensyahwati laki-laki.

Minhajul Qowim Juz 1 Hal 61


Persentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan tanpa adanya penghalang, maka dapat membatalkan wudlu, jika keduanya itu sama-sama sudah bisa mensyahwati (Suka sama lawan jenisnya), Namun kalau keduanya itu belum mensyahwati dalam artian tidak suka sama lain jenisnya (wataknya sempurna), maka walaupun menyentuh tidak membatalkan wudlu’, ukuran mesyahwati ini menurut Urf (menurut anggapan masyarakat) bukan usia yang menentukan. Oleh sebab itu di redaksi ini tidak menentukan usia anak, sebab kalau ketentuan batalnya wudlu menyentuh dengan alasan usia, maka ini akan terjadi perbedaan pada anak, sebab terkadang ada anak usianya muda namun badannya besar begitu juga sebaliknya.

Kitab Muraqoti Syu’udut At-Tasydiq Hal 21


Perkara yang dapat membatalkan wudlu yakni persentuhan kulit laki-laki dan perempuan tanpa adanya penghalang serta keduanya sama-sama mensyahwati dan bukan saudara nasab, saudara susuan dan adanya perkawinan (mertua).

Kalau anak kecil yang belum bisa mensyahwati lawan jenisnya, maka walapun terjadi persentuhan kulit tidak membatalkan wudlu. Lalu ukuran mensyahati itu seperti apa, ini ada khilafiyah di antara para ulama di antaranya:

a. Ukuran laki-laki dan perempuan harus dapat mensyahwati lawan jenisnya, lalu ukurannya di kembalikan kepada Urf (Anggapan masyarakat).

b. Kalau menurut Imam Yusuf As-Sanbalawi ukuran anak kecil bisa membatalkan wudlu sebab adanya persentuhan kulit,  itu kalau anak sudah berumur 7 tahun. Kalau nanti anak itu masih berumur 5 tahun kebawah, maka walaupun terjadi persentuhan kulit tidak membatalkan wudlu. Ini pendapat yang memakai usia.

c. Yang terahir Imam Abu Hamid Al-Ghazali perempuan atau laki-laki yang belum mesyahwati atau beluam berusia empat tahun, maka tidak menyebabkan wudlunya batal.

d. Pendapat Yang lain mengatakan laki-laki atau perempuan yang terjadi persentuhan kulit ketika berusia 4 tahun, maka menyikapi hal demikian ulama terjadi khilaf. Satu ulama mengatakan batal wudlu’nya

Ulama yang lain tidak membatalkan wudlu’ . ini semua di kembalikan pada tabiat atau watak manusia masing-masing,  sehingga anak yang berusia lima tahun itu bisa membatalkan wudlu sebab bisa mensyahwati lawan jenisnya, begiu juga usia lima tahun bisa tidak membatalkan wudlu jika tidak mensyahwati lawan jenisnya.

Jadi kesimpulannya standarisasi laki-laki atau perempuan yang dapat membatalkan wudlu itu kalau sudah bisa mensyahwati lawan jenisnya untuk ukurannyanya melihat anggapan masyarakat.

Demikianlah yang dapat kami inforasikan seputar permasalah standar anak kecil yang dapat membatalkan wudlu, semoga artikel ini bisa bermanfaat dan untuk bahan tambahan pengetahuan. Amin..

Tambahan Ilmu


Friday, 29 September 2017

Hukum Di Perbolehkannya Shalat Birrul Walidain Dan Shalat Liqodlo'id Dain Menurut Syara’


Manusia pada umumnya selalu berusaha untuk mendapatkan ampunan dan kasih sayang dari Allah Swt walaupun caranya bermacam-macam seperti halnya bertaubat dengan selalu membaca Istigfar, melakukan amal kebaikan dan ada juga melakukan shalat dengan niatan agar di ampuni dosa-dosanya seperti shalat Birrul Walidaini, Shalat Tasbih. Shalat Liqodloid dain, Shalat Liqodloid Fawaaid.


Hukum Di Perbolehkannya Shalat Birrul Walidain  Dan Liqodloid Dain Menurut Syara’
Shalat Sunah Birrul Wa Lidain


Dengan permasalah di atas ini bagaimana tanggapan hukum fikih. Apakah di benarkan melakukan shalat seperti si atas ini. Kalau memamng di benarkan lalu adakah dalil yang mendasarinya?

Hukum fikih menyikapi hal demikian itu tidak di benarkan kalau niatannya itu untuk melebur dosa, sedangkan dalam kitab Khozanatul Asror di perbolehkan karena sudah sesuai dengan kemutlakan hadist.  dalam kitab Ihya Ulum Ad-Din karya Imam Al-Ghazali juga menerangkan demikian.


Kitab I’anatut Thalibin


Imam al-Qurdi berkata ulama masih terjadi khilaf terkait shalat Roghoib, Shalat Nisfu Sa’ban. Sebagian dari mereka, ada ulama yang berpendapat, bahwa hal itu terdapat beberapa riwayat yang banyak, kalau semisal riwayat itu bisa di kumpulkan, tentu hadist tersebut sudah mencapai batas di perbolehkan untuk di amalkan dalam hal Fadloilul A’mal.

Ada sebagian ulama yang menghukumi bahwa hadist tersebut adalah Maudlu’, termasuk dari  mereka adalah Imam Nawawi. Ada juga ulama mengikuti pendapatnya Imam Nawawi dalam karyanya yaitu Al-Idloh Wal Bayan yang menjelaskan panjang lebar tentang shalat Roghoib dan shalat Nisfu Sa’ban serta menjelaskan hadist Maudlu’ yang berkaitan dengan shalat Roghoib dan Nisfu Sa’ban.

Kitab Khozinatul Asrar


Shalat Sunnah Birrul Walidaini merupakan shalat Sunnah untuk menebus dosa kita kepada kedua orang tua. Caranya dengan melakukan ibadah shalat dua rakaat yang di kerjakan pada hari kamis setelah melakukan shalat maghrib atau seteah isya’ dan setiap rakaatnya membaca Basmalah satu kali ayat kursi  tiga kali, suarat Al-falaq dan Surat An-Nas masing-masing lima kali. Setelah melakukan shalat Sunnah Birrul Walidaini ini di sunnahkan membaca istighfar kepada Allah dengan 15 kali, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad Saw 15 kali, dan menjadikan pahala shalat untuk kedua orang tua.

Shalat Sunnah Li Qodloid Daini untuk penjelasan shalat Sunnah ini berdasarkan hadist nabi Muhammad Saw yang di riwayatkan oleh Abdullah Bin Umar” ada seorang laki-laki dari Tanah Arab mendatangi Nabi Muhammad Saw, lalu mengutarakan kepada Nabi Muhammad Saw bahwa ia sedang menanggung hutang, lalu nabi menyuruh orang  tersebut untuk shalat empat rokaat di setiap rakaatnya membaca surat Al-Fatihah dan surat al-falaq 10 kali,  rakaat kedua membaca surat al-fatihah dan surat al-kafirun 10 kali. Setelah melakukan shalat ini hendaknya duduk lalu membaca Tasbih. Rokaat ketiga dan ke empat  mebaca surat al-fatihah 1 kali, surat at-takasur 3 kali, surat al-zalzalah 3 kali dan terahir surat al-ikhlas 3 kali. Kemudian laki-laki yang datang kepada Nabi Muhammad Saw itu melakukan apayang di perintah oleh Nabi, kemudian nabi berkata sesungguhnya Allah Swt akan memenuhi hutangnya.

Tuhfatul Muhtaj Fi Syarh Al-Minhaj Juz 3 Hal 499


 Imam Al-adzro’I telah mengutip keterangan dalam kitab At-Tanbih milik Imam Al-Muhib At-Tabrhani, sesungguhnya pahala semua ibadah ituyang telahdi lakukan bisa sampai kepada mayit, baik yang di lakukan itu ibadah wajib atau Sunnah.

Sedangkan keterangn yang ada di Dallam kitab ulama Hanafiyah” sesungguhnya boleh seseorang menjadikan pahala dari amal perbuatannya untuk orang lain baik berupa shalat, puasa atau shadaqah.
Kalau menurut Ahlussunnah Wal Jama’ah bahwa boleh seseorang menjadikan amal perbuatannya seperti shalat atau puasa untuk orang lain dan pahala itu akan sampai.

Dalam karya Al-Bukhori dan Abdullah Bin Umar Ra, sesungguhnya ia memerintahkan terhadap seseorang yang ibunya telah meninggal dunia, sedangkan si ibu itu memiliki tanggungan shalat atau puasa, maka baginya boleh mengganti dari ibadah yang menjadi tanggungan si ibu tadi.

Jadi kesimpulan yang penulis ambil dari penjelasan di atas ini, bahwa boleh seseorang melakukan shalat Li Qodloid Daini shalat Birrul Wa Lidaini, dan Shalat Li Qodloid Fawaaid serta kebolehan ini sesuai dengan dalil dan Hadist.

Demikian yang dapat saya informasikan semoga bisa bermanfaat untuk semuanya. Amin..





Thursday, 28 September 2017

Manfaat Daun Polay Daun Butrowali Untuk Pengobatan Penyakit Gatal-Gatal


Mursyid Hasan akan memberikan informasi seputar daun yang dapat menghilangkan rasa gatal-gatal seperti alergi kulit, Nah perlu di ketahui alergi ini penyebabnya banyak sekali seperti karena faktor makanan, air kurang bersih, foktor lingkungan atau bisa jadi karena kurangnya daya tahan tubuh sehingga rentan sekali terkena penyakit gatal-gatal.

Nah untuk menghindari penyakit alergi dan menghilngkan rasa gatal-gatal ada tips ramuan yang bisa menghilangkan rasa gatal-gatal tersebut seperti:


Manfaat  Daun  Polay Daun Butrowali  Untuk  Pengobatan  Penyakit  Gatal -Gatal
Pohon Polay

Daun Polay


Pohon polay ini jarang sekali di temukan di daerah perkotaan  bahkan di daerah pedesaan pun masih sedikit, sebab orang jarang menanam pohon polay ini, ntah karena tidak tahu kasiatnya atau memang tidak menemukan pohon ini.

Pohon polay ini banyak sekali terdapat getah yang berwarna putih, nah getah inilah yang di jadikan ramuan untuk pengobatan alergi. 

Caranya mudah sekali ambil akar pohon atau kulit polay secukupnya lalu bersihkan dan rebus sampai matang, setelah sudah masak, ambil airnya dengan di saring agar debu tidak ikut masuk, perlu di ketahui ramuan polay ini sangat pahit, namun kalau sudah terbiasa minum polay ini di jamin kuat. Dengan meminum ramuan ini tubuh kita akan terasa hangat dengan begitu rasa gatal-gatal akan sedikit menghilang.


Manfaat  Daun  Polay Daun Butrowali  Untuk  Pengobatan  Penyakit  Gatal -Gatal
Daun Butrawali

Daun Butrowali 


Tanaman butrawali tidak kalah pahitnya dengan pohon polay, Namun anehnya banyak juga para penikmat ramuan ini, mungkin karena terpaksa meminum unuk proses penyembuhan atau hanya iseng agar terliha maco, itulah kenyataan.

Daun butrowali ini banyak hidup di daerah pedesaan seperti malang selatan seperti kecamatan ampelgading dan gedangan. Unuk kasiatnya daun ini dapat menyembuhakan penyaki gatal-gatal.

Caranya mudah tinggal ambil daun butrowali sama rantingnya lalu rebus sampai mendidih lalu nanti getah-getah yang ada di daun dan raning tersebut akan keluar dengan sendiri, anda tinggal menyaring air rebusan tadi, lalu tinggal minum.

Agar mendapatkan hasil yang maksimal minum air rebusan dari kedua daun ini minimal 1 hari dua kali, lakukan agar sesering mungkin.

Perlu di ingat bagi sahabat-sahabat mursyid hasan yang menderita penyakit gatal-gatal jangan membeli obat di toko-toko terdekat, karena obat yang ada di pertokoan tidak mendapat resep dari dokter, bukan malah menyembuhkan, tapi akan menambah penyakit, ini pernah penulis alami sewaktu pertama kali ada di pesanren. Obat ini walaupun manfaatnya cepat terasa, namun di kemudian hari sahabat-sahabat kalau sudah ketagihan dengan obat ini, akan mengalami penyaki lain seperti, badan kegemukan yang tidak wajar, persendian kaki akan terasa berat, selalu ingin tidur. Maka sebaiknya cepat-cepat hindari itu cirri-ciri gejala Stroke. 

Mungkin ini yang dapat penulis infokan semoga dapat memberikan manfaat bagi semuanya. Amin..

Monday, 25 September 2017

Manfaat Hewan Tupai Dan Undur-Undur Untuk Pengobatan Penyakit Kencing Manis



MURSYID HASAN kali ini akan membahas masalah seputar hewan-hewan yang sangat bermanfaat untuk kesehatan, apa itu? Simak saja selengkapnya..


Hewan- Tupai- Dan- Undur-Undur- Untuk- Pengobatan- Penyakit- Kencing- Manis
Hewan Undur-Undur

Hewan Undur-Undur


 atau nama lain dari  familia Myrmeleontidae merupakan hewan melata yang hidup di dalam tanah dan hewan ini mudah sekali di jumpai di area pasir yang halus. Bentuk hewan ini sangat kecil, memiliki cupit di bagian depan, namun cupit ini tidak terlalu kuat seperti halnya kalajengking. Kenapa hewan ini namanya undur-undur. Kata orang jawa undur-undur itu di beri nama sesuai jalan-nya yakni mundur, jadi dengan mundur itulah nama undur-undur di sandingkan kepada hewan ini.
Hewan undur-undur ini memiliki kasiat untuk bahan obat tradisional. Apa aja penyakit yang bisa di sembuhkan dengan hewan ini:

Yang Pertama Diabetes


Penyakit Diabetes atau nama lain yang mudah di pahami yakni kencing manis. Lalu bagaimana cara mengetahui gejala awal penyakit kencing manis ini, ini merupakan pengalaman penulis melihat kebanyakan orang yang alami penyakit ini yakni.

Selalu merasa haus. berat badan menurun drastis Tanpa di ketahui penyebabnya, penglihatan kabur (terganggu), selalu mengantuk, kulit badan kering agak kehitam-hitaman. Nah sebelum ini terjadi alangkah baik mencegah penyakit diabetes sejak dini dengan mengkonsumsi hewan undur-undur ini.
Lalu bagaimana cara mengkonsumsinya. Mudah sekali untuk mengkonsumsi hewan undur-undur ini bisa langsung di konsumsi, tapi terlebih dahulu bersihkan dulu, juga bisa di buat bubuk seperti halnya bubuk kopi hitam. Caranya..bunuh dulu hewan ini lalu di bakar sampai hangus setelah itu haluskan seperti halnya bubuk lalu buat minuman.

Ingat kalau hanya mencegah penyakit diabetes tanpa ada gejala. Maka sebaiknya mengkonsumsi undur-undur ini 1 minggu 3 buah atau 1 bulan 4 buah, ini di lakukan agar tidak terkena penyakit diabetes. Kalau tidak mengkonsumsi bagaimana, terserah ini hanya tips di lakukan boleh tidak di lakukan juga boleh..

Nah, saya sudah mengkonsumsi undur-undur berulangkali tapi kenapa masih terkena penyakit diabetes, saya lurusan lagi. Manusia hnya berusaha dengan obat ini agar tidak mudah terkena penyakit diabetes ini. Lalu Allah Yang menentukan-nya .tapi semoga dengan mengkonsumsi ini Allah selalu memberi kesehatan jauh dari penyakit. faham..



 
Hewan- Tupai- Dan- Undur-Undur- Untuk- Pengobatan- Penyakit- Kencing- Manis
Tupai Kelapa


Tupai Kelapa


Tupai kelapa merupakan hewan yang sangat mudah sekali di temukan di atas pohon kelapa, pohon kopi atau pohon petai. Hewan tupai ini memiliki kuku yang yang sangat tajam sehingga memudahkan ia untuk loncat kemana aja yang ia mau sehingga tak jarang masyarakat perkotaan berminat untuk menjadikan hewan ini sebagai perhias di rumahnya. Karena hewan ini memiliki tubuh dan tingkah yang lucu. Di samping hewan ini banyak yang menyukai untuk di pelihara.. hewan ini juga banyak manfaatnya sebagai obat tradisonal. Penyakit apa yang bisa di sembuhkan dengan hewan ini:

Yang Kedua Penyakit Diabetes/ Kencing Manis


Kencing manis atau penyakit diabetes merupakan penyakit kronis yang sulit untuk di sembuhkan namun tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah  yang menghendaki sembuh tanpa melalui pengobatan., nah tips ini di muat untuk mengharap kesembuhan bagi penderita kencing manis ini. Penyakit  penyakit kencing manis ini bisa di control kadar gulanya dengn mengkonsumsi daging tupai. Perlu di ketahui semua manusia itu memiliki kadar gulu, namun kadar gulanya maksimal, Nah kalau orang mengalami gejala kencing manis ini kadar gulanya naik, sehingga bisa menyebabkan penglihatan terganggu, badan kurus, selalu haus.

Bagaimana cara mengkonsumsi daging tupai untuk pengobatan penyakit diabetes. Mudah saja sesuai selera, bisa di buat sate seperti halnya sate kambing, bisa di buat daging kua, terserah asalkan daging tupas ini masak.

Semoga dengan tips ini bagi penderita kencing manis bisa di permudah penyembuhan kencing manis, tidak ada yang tidak mungkin kalau Allah berkendak sembuh dengan dua hewan ini.

Nb: Bagi seseorang yang mengaami penyakit kencing manis harus sabar, jangan putus asa, berusaha untuk sembuh, insa Allah dengan kemauan dan kerja keras Allah akan mempermudah penyembuhan. Aminn..




Asal Usul Rakaat Shalat (Kajian Kitab Sullam Munajat Karya Sayyid Abdullah Al-Hadrami)

Asal Usul Rakaat Shalat (Kajian Kitab Sullam Munajat Karya Sayyid Abdullah Al-Hadrami)


Salam sejahtera untuk para sahabat mursyid hasan, untuk kali ini mursyid hasan akan membahas seputar asal usul rokaat shalat lima waktu, agar kita umat muslim tidak hanya melakukan shalat saja, tanpa meneliti kenapa rokaat shalat itu ada yang empat, dua sampai tiga rokaat, kenapa tidak di sama ratakan saja. Kan lebih enak..

Lalu siapa yang pertama kali mengerjakan shalat apa hanya Nabi Muhammad saja..ataukah semua nabi juga melakukan..

Nah dengan ini mursyid hasan akan menjawab seputar asal usul jumlah rokaat shalat fardu dan yang pertama kali melakukan shalat ini.

Asal Usul Rakaat Shalat Subuh


Orang yang pertama kali mengerjakan shalat subuh ialah Nabi Adam. Alasan kenapa shalat subuh itu dua rakaat, karena pada waktu Nabi Adam di keluarkan dari surga, Nabi Adam melihat dunia pada waktu itu gelap gulita  sehingga Nabi Adam merasa takut, setelah ada fajar shodiq yang mengeluarkan cahaya, sehingga kegelapan itu sedikit terang, ahirnya Nabi Adam shalat dua  rakaat, satu rakaatnya ini di lakukan sebagai bentuk rasa syukur Nabi Adam kepada Allah karena Allah menyelamatkan Nabi Adam dari kegelapan. Sedangkan rakaat yang kedua di lakukan sebagai bentuk syukur Nabi  Adam sebab dunia menjadi terang benerang.

Asal Usul Rakaat Shalat Dluhur


Shalat dluhur pertama kali di kerjakan oleh Nabi Ibrahim As setelah Allah memerintahkan Nabi Ibrahim menyembelih putra kesayangannya “Nabi Ismail”. Namun Allah memberi tebusan atas kepatuhan Nabi Ibrahim menjalankan perintahnya, dengan seekor kambing. Pada waktu itu penyembelihan putra nabi Ibrahim di lakukan pada saat tergelincirnya matahari. Setelah Allah memberikan tebusan atas nabi ismail dengan seekor kambing. 

Lalu nabi Ibrahim melakukan shalat empat rakaat. Satu rakaat beliau lakukan semata-mata untuk berterima kasih kepada Allah, sebab allah telah menganti nabi ismail dengan kambing untuk di sembelih. Rakaat kedua bentuk syukur nabi Ibrahim atas hilangnya rasa kegelisahan yang beliau alami sewaktu mau menyembelih nabi ismail. Rakaat ketiga bentuk nabi Ibrahim mengharap ridlo dari Allah. Rokaat keempat bentuk rasa syukur atas turunnya nimat berupa kambing dari surga sebagai tebusan.

Asal Usul Rakaat Shalat Ashar


Orang yang pertama kali melakukan shalat ashar ialah Nabi Yunus, ketika dalam perut ikan nabi yunus mengalami empat kegelapan. Kegelapan pertama gelap sebab nabi yunus berada di dalam daging ikan, kegelapan yang kedua kegelapan karena berada di dalam air, kegelapan ketiga gelap sebab malam, kegelapan keempat gelap sebab Nabi Yunus ada di dalam perut ikan. 

Shalat ini di lakukan oleh Nabi Yunus setelah Allah mengeluarkan Nabi Yunus dari perut ikan, pada waktu keluarnya nabi Yunus dari perut ikan pada saat ashar. ketika itu kondisi Nabi Yunus sangat memprihatinkan. Kondisi fisiknya lemas. Setelah itu beliau shalat empat rakaat sebagai bentuk syukur beliau kepada Allah, karena Allah telah menyelamatkan dirinya dari empat kegelapan tersebut.

Asal Usul Rakaat Shalat Maghrib


Orang yang pertama kali shalat maghrib ialah  Nabi Isa As. Ketika itu Nabi Isa berhasil lolos dari kepungan umatnya yang hendak berbuat jahat. Pada waktu kejadian itu bertepatan  waktu maghrib. Sehingga Nabi Isa mengerjakan shalat tiga rakaat. Rakaat pertama beliau lakukan untuk menghilangkan sifat ketuhanan yang di sandarkan oleh kaum Nasrani. Rakaat kedua di lakukan untuk menghilangkan tuduhan yang di lontarkan oleh kaum Nasrani terhadap ibunda Nabi Isa As “Sayyidah maryam”. Rokaat ketiga beliau lakukan semata-mata untuk menetapkan bahwa hanya Allah lah tuhan yang patut untuk di sembah.

Asal Usul Rakaat Shalat Isya’


Orang yang pertama kali shalat isya ialah Nabi Musa As, shalat ini beliau lakukan ketika beliau tersesat di jalan dan bisa keluar menuju kota Madyan. [pada waktu itu nabi Musa mengalami empat kesusahan yang sangat, yang pertama susah terhadap istrinya yang tidak mau beriman kepada Allah, susah terhadap saudaranya, beberapa anaknya dan terahir susah atas gangguan dari Raja Fir’aun. Kemudian Allah menyelamatkan Nabi Musa dari kesusahan yang beliau alami. Ini merupakan janji Allah kepada nabi musa, pada waktu itu bertepatan masuknya waktu isya’. 

Kemudian nabi Musa mengerjakan shalat empat rakaat ini semata-mata bersyukurnya Nabi Musa terhadap Allah yang telah menghilangkan empat kesusahan tersebut.

Ada pendapat lain mengatakan shalat subuh itu miliknya Nabi Adam. Shalat Dluhur miliknya Nabi Daud. Shalat Ashar miliknya Nabi Sulaiman. Shalat Maghrib miliknya Nabi Ya’qub sedangkan yang terahir sahalt isya’ miliknya Nabi Yunus. Sedangkan Nabi Muhammad menggabungkan kelima shalat itu untuk di kerjakan sebagaimana Allah memerintahkan kepada beliau sewaktu di isra’kan..

Demikian yang dapat kami informasikan semoga artikel kali ini bisa bermanfaat untuk semuanya, khususnya pembaca dan penulis. Aminn..

Refrensi Kitab Sullam Munajad Halaman 14



Meluruskan Kesalahfahaman Mengenai Sah Shalat Jenazah Tanpa Memiliki Wudlu’

Meluruskan Kesalahfahaman Mengenai Sah Shalat Jenazah Tanpa Memiliki Wudlu’


Sahabat Mursyid Hasan yang selalu mendapatkan keberkahan dari Allah Swt, seiring dengan problematika  yang di hadapi oleh masyarakat mengenai menyolati jenazah dalam keadaan tidak memiliki wudlu, maka selayaknya web mursyid hasan memberikan informasi mengenai hal tersebut, agar kiranya tidak terjadi kesalah fahaman yang sangat fatal.

Shalat yang kita ketahui selama ini harus memenuhi syarat sahnya shalat yakni  harus memiliki memiliki wudlu, lalu apa jadinya kalau ada ulama mengatakan boleh melakukan shalat jenazah dalam keadaan hadast kecil.

Lalu bagaimana pendapat ulama tersebut apakah boleh di ikuti ?

Tidak boleh di ikuti menurut komentar yang ada di dalam kitab Majmu’ Syarh Muhadzab, sebab kalau pendapat itu di ikuti akan merusak ijma’ (kesepakatan para ulama), yang mensyaratkan shalat tidak sah tanpa memiliki wudlu. Pendapat yang memperbolehkan shalat jenazah tidak memiliki wudlu yakni Imam As-Subkhi.

As-Sya’bi, Muhammad bin Jarir At-Thabrani dan As’Syi’a berkata “di perbolehkan bagi seseorang yang hendak menyolatkan jenazah tidak memiliki wudlu, walaupun ia bisa seandainya mengambil wudlu atau tayammum.

Kenapa beliau kok membolehkan shalat jenazah tidak memiliki wudlu’, beliau mendasari itu karena shalat jenzah menurut beliau  hanya untuk mendoakan mayit saja.

Pendapat ini oleh kebanyakan ulama di komentari bahwa pendapat ulama yang memperbolehkan shalat jenazah tidak memiliki wudlu itu bisa merusak mendapat ulama yang mensyaratkan shalat harus suci dari hadast, maka oleh ulama ini tidak boleh mengikuti pendapatnya Imam As-Syubkhi.

Pendapat lain yang dikamukakan oleh Santri-Santrinya Imam Asyafi’i Ra, mengenai di perbolehkannya shalat jenazah tanpa harus memiliki wudlu, ini beliau kutip dari salah satu Imam As-Syubki dan Imam Muhammad Bin Jarir, beliau beranggapan bahwa shalat jenazah  hanya mendo’akan mayit.

Pendapat ini oleh santri-santrinya Imam As-Syafi’I di hukumi bathil, tertolak, tidak boleh di ikuti sebab Allah Dan Rasul-nya menyebut shalat jenazah dengan kata As-Shalat, sedangkan syarat sahnya shalat sendiri harus dalam keadaan suci, baik suci dari hadast besar atau hadast kecil.

Dengan begitu dapat di simpulkan bahwa shalat jenazah tanpa di sertai wudlu terlebih dahulu, maka di hukumi tidak sah, kalau nanti ada ulama yang memperbolehkan shalat tanpa wudlu sah, maka jangan di ikuti, sebab para ulama sudah sepakat bahwa yang namanya shalat itu harus punya wudlu’. Baik shalat fardlu atau Sunnah.

Demikian yang dapat saya informasikan semoga artikel ini bisa bermanfaat untuk kita semua. Amin
Nb: kalau ada pohon yang tumbang, jangan salahkan angin yang bertiup, karena mungkin saja ada kekeroposan di dalam kayu tersebut. Dan kalau ada seorang terpengaruh oleh orang lain, maka jangan salahkan orang yang mempengaruhi, tapi salahkan orang yang terpengaruh, sebab dalam diri orang tersebut ada kekeroposan yang tidak di sadari.

Hukum-Nya Berwudlu Meminta Tolong Orang Lain Untuk Menuangkan Air Pada Anggota Wudlu

Hukum-Nya Berwudlu Meminta Tolong Orang Lain Untuk Menuangkan Air Pada Anggota Wudlu


Sahabat mursyid hasan yang selalu mendapatkan bimbingan dari Allah, kali ini mursyid hasan akan membagikan informasi seputar wudlu.

Wudlu merupakan syarat sah shalat, tanpa wudlu sudah pasti shalatnya batal, Nah problematika yang sering di alami oleh kebanyakn masyarakat, ketika berwudlu  menyeruh orang lain untuk menuangkan air pada bagian-bagian anggota wudlu-nya, baik ada udzur atau tidak., baik menuangkan itu ada maksud memberitahukan tata cara wudlu yang benar terhadap orang yang menuangkan atau karena sakit parah yang tidak bisa berwudlu tanpa di bantu oleh orang lain.

Dengan deskripsi permasalah di atas ini, lalu bagaimana hukum fikih menyikapi hal demikian ini?

*Di perbolehkan bagi seseorang yang sakit parah yang apabila mengambil air sendiri tidak mampu atau sangat payah, maka baginya boleh meminta tolong kepada orang lain untuk menuangkan air pada anggota wudlunya. Dan juga tidak makruh kalau motif meminta tolong tersebut untuk mengajarkan tata cara wudlu yang benar.

Kitab Mughni Al-Muhtaj Juz 1 hal 281


Seseorang yang tidak memintakan tolong kepada orang lain, untuk menuangkan air kepada anggota wudlunya, maka orang ini mendapatkan kesunnahan wudlu atau Sunnah wudlu tanpa meminta tolong orang lain untuk  menuangkan air pada anggota wudlunya.. ini semua kalau tidak ada udzur yang bisa di benarkan oleh Syara’

Kalau nanti ada udzur yang alasaanya dapat di benarkan oleh syara’ semisal sakit yang sangat atau  terikat kedua tangannya, maka boleh baginya meminta  tolong kepada orang lain untuk menuangkan air pada anggota wudlunya, bahkan ini bisa wajib hukumnya. Sekalipun meminta tolongnya ini ada ujrah mitsil (bayaran).

Hukum kesunnhan wudlu ini ketika orang berwudlu dengan tanganya sendiri, bukan meminta tolong kepada orang lain.

 Lalu bagaimana kalau ada orang lain menolongnya dengan menuangkan air pada anggota wudlu sedangkan ia diam saja tanpa ada kata-kata menolak atau menerima, maka ini di hukumi sama dengan orang yang meminta tolong. 

Al-Minhajul Qowim Juz 1 hal 44


Kesunnahan wudlu yakni tidak meminta tolong kepada orang lain untuk menuangkan air kepadanya, kecuali ada udzur yang di benarkan oleh syara’ seperti sakit. 

Hukumnya isti’anah (meminta tolong) hanya untuk  mengambilkan air, maka hukumnya di perbolehkan.

Hukumnya isti’anah untuk menuangkan air pada anggota wudlunya tanpa adanya udzur yang di perbolehkan syara’, maka hukumnya makruh.

Namun kalau meminta tolong (Istianah) sebab tidak mampunya seseorang untuk membasuh anggota wudlunya, semisal sakit stoke, maka hukumnya wajib, meskipun orang yang meminta tolong itu harus membayar upah.

Demikianlah hukum-hukum isti’anah dalam hal wudlu, semoga kita semua bisa mengambil pelajaran/ ilmu pengetahuan dari artikel ini. Amin.. 



Thursday, 21 September 2017

4 Tips Membina Rumah Tangga Sakinah Mawadah Wa Rahmah

4 Tips Membina Rumah Tangga Sakinah Mawadah Wa Rahmah

Sahabat mursyid hasan yang selalu di berkahi oleh Allah Swt, Nah untuk kali ini mursyid hasan akan membagikan informasi seputar pernikahan Yang selalu tertanam sifat sakinah, mawadah dan warahmah.

Siapa sih yang tidak bahagia memiliki keluarga yang selalu menebar keharmanisan, terpancar sikap kasih sayang.

Sebelum membahas lebih jauh masalah membina rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah akan sedikit baik kalau membahas apa itu sakinah mawaddah warahmah, agar kiranya nanti bisa  semakin kuat pemahamannya.

Kata sakinah yang selalu di doakan kepada pengantin ketika ada salah satu sahabat, kerabat yang melangsung akad pernikahan. Dalam al-qur’an surat Al-Rum ayat 21 ditafsirkan dengan kata-kata hati cenderung dan tenteram.

Menurut pakar bahasa menegaskan bahwa kata sakinah itu tidak digunakan kecuali untuk menggambarkan sikap ketenangan dan ketenteraman setelah sebelumnya ada gejolak.
Sedangkan Ada pula yang menafsirkan bahwa mawaddah ialah rasa kasih sayang yang makin lama terasa makin kuat antara suami istri.

Ada pula yang menafsirkan bahwa mawaddah ialah rasa kasih sayang yang makin lama terasa makin kuat antara suami istri.

a.    Suami  Istri  Harus Taqwa Kepada Allah Swt


Tips yang pertama agar rumah tangga semakin harmanonis dan selalu memancarkan sikap sakinah mawadah wa rahma yakni kedua mempelai laki-laki dan perempuan harus memiliki sikap bertaqwa kepada Allah, kenapa taqwa termasuk tips menuju rumah tangga yang sakinah mawadah wa rahmah, sebab ketika mempelai suami istri memiliki sikap taqwa kepada Allah ia akan selalu bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu yang menjadi tugasnya, saat suami atau istri akan  selalu menjaga ketaqwaannya kepada Allah. Karena dengan ketaqwaannya yang demikian akan membuat seorang suami atau istri akan selalu berfikir, sudah benarkah apa yang saya kerjakan, sudah sempurnakah kewajibanku padanya?. Sebab allah akan ridlo dan akan selalu menuntun seseorang yang selalu bertaqwa.

b.    Suami Istri Saling Tolong Menolong


Sikap tolong menolong dalam rumah tangga merupakan tips yang kedua untuk menuju rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rahmah. Tolong menolong dalam rumah tangga sangat lah penting sebab dengan adanya tolong menolong akan selalu meringankan beban keduanya, kalau saling melengkapi satu sama lain, hubungan keduanya akan semakin harmonis bahagia dan tentram.

4 Tips Membina Rumah Tangga Sakinah Mawadah Wa Rahmah

 

 

c.    Suami Istri Saling Memaafkan


Yang ketiga tips untuk menuju rumaah tangga yang sakinah mawadah wa rahmah kedua suami istri harus memiliki sifat memaafkan, sebab dengan adanya rasa memaafkan permasalah tidak akan berlarut-larut terlalu lama, kenapa tips memaafkan termasuk tips menuju rumah tangga yang sakinah, sebab  pasangan suami istri bukanlah mahluk sempurna yang selalu benar  untuk selalu memahami keinginan pasangannya. Maka dari itu sikap memaafkan ini penting sekali dalam membina rumah tangga. 

Lalu bagaimana sikap seorang suami, jika menemukan istri berbuat kesalahnan kepadanya?

Jangan gengsi untuk memberikan maaf kepada istri, sebab istri bukan makhluk yang selalu berbuat kebenaran.  Peluklah istrimu, cium keningnya dan maafkan ia agar ia merasa tenang. 

lalu bagaimana sikap istri saat suami memintakan maaf untuknya.  balaslah memeluk suamimu, berbisiklah sambal berucap “Jangan capek bimbing aku ya , Sayang..”. dengan sikap saling memaafkan rumah tangga akan selalu di naungi rahmad dan ketentraman oleh Allah Swt.

d.    Suami Istri Saling Menghormati


Tips yang terahir menuju rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah, maka harus adanya sikap saling menghormati satu sama lain, sebab dengan adanya sikap saling menghormati hubungan suami istri akan harmonis.

Sikap seorang suami atau istri akan senang jika diperlakukan dengan baik di mana pun dan kapanpun.  Selalu libatkan pasangan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut rumah tangga. Memberi dukungan baik moral maupun materi kepada pasangan dalam mewujudkan impiannya, selama tidak ada bahaya dan tidak keluar dari Syariat islam serta selalu mendukung sepenuh hati, jangan membatasi aktifitas istri atau suami dengan alasan yang menjatuhkan atau menyinggung perasaannya. 

Nah dengan ini pasangan suami istri akan terasa di hormati walaupun bentuk penghormatannya itu bermacam-macam.

Ketentraman jiwa, dan kerukunan hidup berumah tangga. Apabila hal itu belum tercapai, maka semestinya introspeksi terhadap diri sendiri, meneliti apa yang belum di lakukan serta menelaah kesalahan-kesalahan yang telah di perbuat. Lalu menggunakan cara yang paling baik untuk menyelesaikan permasalah rumah tangga dan memenuhi kekurangan tersebut sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah. Sehingga dengan itu semua tujuan perkawinan yang diharapkan akan tercapai, yakni sakinah mawadah warahmah. Aminn..

Baca juga selengkapnya Tips membina rumah tangga  Ala Rasulullah Saw. Klik


Tuesday, 19 September 2017

Inilah Hukum-Nya Mencium Jenazah

Inilah Hukum-Nya Mencium Jenazah

 
Salam Untuk para Sahabat Mursyid Hasan semoga selalu mendapatkan perlindungan dari Allah Swt. Nah kali ini mursyid hasan akan membagikan seputar permasalah yang di hadapi oleh masyarakat.

Banyak kan yang kita ketahui saat keluarga kita meninggal dunia, pasti ada yang mencium baik laki-laki atau perempuan yang terpenting ia masih memiliki kerabat dekat.

Lalu bagaimana tanggapan hukum fikih mengenai hal di atas ini, apakah di haramkan secara mutlak atau sebaliknya?

Di perbolehkan bagi seseorang mencium kerabatnya yang sudah meninggal dunia, jika sesama jenis atau masih ada ikatan nasab seperti bibi dari ayah atau ibu, paman dari ayah atau ibu, adik atau kakak, selain itu tidak di perbolehkan mencium mayit. 

Bahkan mencium hukumnya bisa Sunnah, jika yang meninggal dunia itu orang alim atau orang shaleh. 

Dan jika mencium mayit itu merasa tidak rela atau tidak puas dengan takdir yang di timpakan kepada kerabatnya maka hukumnya haram.

Landasan Hukum Fikih


Dalam Hadist Nabi Muhammad Saw yang di riwayat oleh Abu Dawud “Bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad Saw pernah mencium jenazah Ustman Bin Madi’un”. 

Dan ada Hadist juga di riwayatkan oleh Imam Bukhori riwayat dari Sayyidah Aisyah” Sesungguhnya Abu Bakar As-Syiddiq pernah mencium Jasad Mulia Nabi Muhammad Saw”.

Dari kedua hadist inilah hukum fikih memperbolehkan mencium jenazah kerabat atau orang sholeh  yang di bukukan di dalam kitab Raudlah dan Syarh Muhadzab.

Dalam redaksi kitab lain menghukumi Sunnah mencium jenazahnya orang sholeh. Namun kebolehan hukum mencium jenazah ini selama tidak menimbulkan keresahan dan ketidak relaan atas meninggalnya kerabat atau seorang ulama’. 

Lalu kalau hukumnya di perbolehkan mencium jenazah kerabat atau orang sholeh, lalu di bagian manakah yang lebih utama mencium jenazah?

Mencium kerabat atau orang alim ketika sudah meninggal dunia di utamakan di bagian anggota sujud yakni Dahi /Batu’ (Bahasa jawa). Dan di utamakan jangan memakai penghalang semisal kain atau tisu.

Syarat-Syarat di perbolehkannya mencium kerabat yang sudah meninggal


a.    Di haruskan tidak menimbulakn kegelisahan atau kemarahan atas dirinya seperti menjambak-jambak rambutnya, teriak-teriak, memukul wajahnya. Kalau hal demikian bisa terjadi maka haram hukumnya mencium.

b.    Mencium jenazah di haruskan sejenis. Kalau yang meninggal laki-laki maka yang boleh mencim juga laki-laki dan sebaliknya, ini di lakukan agar tidak menghilangkan Muru’ah (harga diri si mayit).

c.    Di haruskan keluarga yang memiliki ikatan mahram kalau ingin mencium keluarganya yang meninggal dunia seperti ayah ibu, adik kakak, paman dan bibi (saudara kandungnya ayah atau ibu).

Demikianlah penjelasan mengenai hukum mencium jenazah, semoga bisa bermanfaat untuk kita semua. Amin..






Mengenal Sosok Kyai Hasyim Asy’ari Pendiri Nahdlatul Ulama

Mengenal Sosok Kyai Hasyim Asy’ari Pendiri Nahdlatul Ulama

Salam sejahtera untuk para sahabat mursyid Hasan, Nah kali ini web Mursyid hasan akan membagikan informasi mengenai profile Ulama indonesia yang telah mendirikan organisasi terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul Ulama dan juga  beliau mendirikan pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur, selain mendirikan organisasi dan pesantren beliau juga berperan besar dalam memerdekakan negara Indonesia ini. Siapa kah beliau ini?

Beliau ini termasuk salah satu keturunan   Raja Padang. Beliau memiliki nama lengkap Muhammad  Hasyim Bin Asy’ari Bin abdul Wahid Bin Abdul halim yang lebih akrab dengan sebutan Kyai Hasyim Asy’ari, mungkin di antara  sahabat-sahabat tidak asing mendengar nama beliau, sebab beliau pencetus pertama berdirinya organisasi terbesar di Indonesia yaitu Nahdaltul Ulama dan juga pejuang kemerdekaan.

Kyai Hasyim Asy’ari di lahirkan di desa Nggedang, Jombang Provinsi jawa Timur, beliau di lahirkan pada hari selasa tanggal 24 Bulan Dzulqo’dah tahun Hijriyah 1287. Ayah beliau bernama Kyai Asy’ari sedangkan ibunya bernama  Siti halimah, dari kedua orang tua beliau memang  pemimpin pesantren yang berdiri kokoh di tanah jawa, jadi tidak heran kalau Kyai Hasyim Asy’ari mendirikan sebuah Pesantren besar di jombang.

Sejak usia beliau tergolong masih muda sampai usia beliau menginjak umur 14 tahun, pendidikan beliau dalam segi ilmu agama di didik langsung oleh ayahnya sendiri yaitu Kyai Asy’ari dan kakek beliau Kyai Usman, karena dorongan dan kerja keras dalam menuntut ilmu kepada ayah dan kakeknya, ahirnya beliau mampu menyerap pelajaran demi pelajaran dengan baik, sehingga berkat kecerdasan dan kedisiplinan ahirnya beliau di minta oleh ayah beliau untuk mengajar para santri-santri yang tinggal di Pesantren Jombang.

Karena kecintaan beliau terhadap ilmu sehingga tidak hanya ilmu yang beliau dapatkan dari ayah atau kakeknya saja yang beliau pelajari, tapi beliau masih haus akan ilmu agama sehingga beliau berkelana dari satu pesantren ke pesantren yang lain. di antaranya:

a.    Pesantren Wonosobo Probolinggo jawa timur
b.    Pesantren Langitan Tuban
c.    Pesantren Trenggilis Semarang
d.    Pesantren Panji Sidoarjo

Setelah sekian lama beliau menimba ilmu di Jawa ahirnya beliau memutuskan untuk menunaikan ibadah haji di Makkah serta berkeinginan untuk menimba ilmu agama ke beberapa ulama yang sudah masyhur dengan keilmuannya.

Guru-Guru Kyai Hasyim Asy’ari Di Makkah


a.    Syeikh Khatib Minangkabau. Profil lengkap beliau bisa Klik Di Sini
b.    Syeikh Mahfud At-Turmudzi
c.    Syeikh Hamid Ad-Darustami
d.    Syeikh Muhammad Syua’ib
e.    Syeikh Ahmad Amin
f.    Sayyid Shulthan Ibn Hasyim
g.    Sayyid Ahmad Ibnu Hasan
h.     Sayyid Yamani
i.    Syeikh Sayyid Abbas Al-Maliki
j.    Syeikh Shaleh
k.    Syeikh Sulthan Hasyim

Dari para guru dan ulama-ulama ini beliau tumbuh menjadi orang yang sangat alim dalam masalah ilmu agama, bahkan beliau menekuni ilmu dalam bidang ilmu fikih, tasawuf, ilmu alat, balaghah. Dengan kecerdasan dan kedisiplinan beliau dalam menuntut ilmu ahirnya beliau sukses meraih apa yang di cita-citakan selama ini.
Setelah beliau kembali ke Indonesia beliau tidak langsung menuju Indonesia tapi menuju ke negara Malaysia untuk mengajarkan ilmu-ilmu agama yang beliau geluti selama di Makkah. Setelah sekian lama beliau berada di negara Malaysia, baru beliau kembali ke tanah kelahirannya di jombang jawa timur. Di tempat inilah beliau mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng serta pencetus pertama berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama’.

Karya-Karya Indah Kyai Hasyim Asy’ari


a.    Adabul ‘Alim Wal Muta’alim
b.    Risalah At-Tauhidiyah
c.    Durratun Muqtasyiroh
d.    Al-Qalaid
e.    Nurul Mudin Fi Mahabbati Mursalin
f.    Tanbihat Al-Wajibat
g.    Ziyadatut Ta’liq

Inilah bentuk kalau beliau sangat sukses meraih cita-citanya dalam menuntut ilmu agama, mulai dari kedisiplinan, kerja keras, sabar dan ketawadluan Sang Kyai Hasyim Asy’ari terhadap guru-guru beliau seperti kisah Kyai Hasyim Asy’ari dengan Syeikhona Kholil.

Kyai Hasyim Asy’ari merupakan santrinya Syaikhona Kholil Bangkalan, Namun suatu ketika syeikhona Kholi bangkalan Sowan (Datang) ke rumahnya Kyai Hasyim Asy’ari untuk menimba ilmu ke pada beliau (Kyai Hasyim).

 “Kyai Hasyim, memang benar dulu panjenengan belajar agama kepada saya, Namun saat ini saya mau jadi murid jenengan” Dawuhnya Syeikhona Kholil Penuh Tawadlu’.

“Sungguh saya tidak menduga kalau Tuan Guru (Syeikhona kholil) kan mengucapkan kata-kata itu” jawab Kyai Hasyim. Apakah pantas seorang murid seperti saya mengajar gurunya sendiri.

Tanpa terasa tersanjung Syaikhona Kholil bersikeras hendak menimba ilmu kepada Kyai Hasyim Asy’ari tanpa harus ada tawar menawar dan tetap akan ada di sini untuk belajar ilmu agama” Kata Syeikhona Kholi.

Karena beliau telah lama belajar di bangkalan Madura kepada Syaikhna Kholil Jadi beliau tahu betul watak gurunya ini sehingga beliau tidak bisa berbuat banyak dan meng-iyakan niat baik gurunya untuk belajar ilmu agama kepada beliau.
Ketawadluan kedua ulama ini tampak ketika beliau berdua hendak keluar dari masjid, sehingga kedua ulama ini saling berebut hendak memakaikan sandal ke masing-masing kaki gurunya, Syeikhona Kholil berebut sandal hendak di pakaikan ke kaki Kyai Hasyim Asy;ari  dan sebaliknya Kyai Hasyim juga berebut sandal hendak di pakaikan ke kaki gurunya Syeikhona Kholil, sehingga kedua ulama ini saling berebut untuk saling memulyakan. Inilah yang patut kita contoh ketawdluannya tidak merasa malu untuk menganggungkan orang yang memiliki ilmu walaupun ia santrinya sendiri.

Kyai Hasyim Asy’ari sebelum meninggal dunia mengalami pendarahan otak. Walaupun dokter telah berusaha mengurangi penyakitnya, namun Tuhan berkehendak lain pada kekasihnya itu. Kyai. Hasyim Asy’ari wafat pada pukul 03.00 pagi, Tanggal 25 Juli 1947, bertepatan dengan Tanggal 07 Ramadhan 1366 H. Inna LiLlahi wa Inna Ilaihi Raji’un.

Setelah masyarakat mengetahui Kyai Hasyim Asy’ari meninggal dunia, semua lapisan masyarakat berbondong-nondong untuk menyolatkan mengantarkan  jenazah mulia beliau ke peristirahatan terhir dengan di iringi tangisan dan kalimat-kalimat Tauhid.

Setelah beliau meninggal dunia kepimpinan pesantren dan Organisasi Nahdlatul Ulama ini di teruskan oleh Putra beliau Kyai Wahid Hasyim, untuk lebih mengenal lebih dalam baca profil Beliau bisa klik Di Sini

Semoga kita semua mendapatkan barakah dari para guru-guru dan ulama. Amin..


 



Monday, 18 September 2017

Hukum Wanita Mengajar Membaca Al-Qur’an Ketika Haid

Hukum Wanita Mengajar Membaca Al-Qur’an Ketika Haid

 
TPQ merupakan tempat pendidikan al-qur’an yang mengajarkan masalah tata cara membaca al-qur’an dengan benar serta mengenali tajwid. Untuk sekarang ini Di TPQ sendiri banyak di temukan beberapa macam metode membaca al-qur’an seperti metode Qiro’ati, metode Jibrili, metode yambu’a, semuanya itu di bentuk semata-mata untuk mengajarkan tata cara membaca al-qur’an dengan benar.

Dengan seiringnya zaman berganti banyak di temukan di TPQ-TPA para ustadnya dari kaum hawa, ini bukan untuk memikat para siswanya agar mengaji TPQ yang di didirikan, tapi  sebagian wanita itu lebih telaten, sabar dan lebih menguasai metode-metode tata cara membaca al-qur’an dengan baik.

Dengan banyaknya para asatid dari kaum hawa yang mengajar di TPQ/TPA, ada sedikit keresahan ketika para kaum hawa ini datang bulan/ Haid, sebab ketika ia haid otomatis ia tidak bisa mengajar al-qur’an lagi, ini akan menjadi tantangan tersendiri, jika haidnya sampai tujuh hari atau lebih para santri akan libur dan ini akan berdampak pada kemalasan.

Lalu bagaimana  tanggapan hukum fikih mengenai deskripsi di atas, apakah di perbolehkan kaum hawa mengajar dalam keadaan haid, semata-mata dalam rangka Ta’lim Wal Muta’alim?

*Hukum fikih menanggapi, bahwa di perbolehkan bagi seorang wanita mengajar al-qur’an atau mengajar Iqra ketika datang bulan/haid, Namun harus memenuhi beberapa syarat.
a.  Syarat pertama wanita haid yang sedang mengajar al-qur’an atau iqra’ tidak menyentuh mushaf.
b. ketika wanita haid mengajar cara membacanya harus di putus-putus atau di eja.
c. ketika wanita haid mengajar al-qur’an, maka tidak berniat membaca al-qur’an melainkan niat berdzikir.

Sedangkan kalau menurut Madzhab malikiyah wanita haid boleh-boleh saja membaca al-qur’an ketika mengajar al-qur’an karena wanita haid yang mengajar itu dalam rangka Ta’lim Wal Muta’alim, sebab kasus demikian itu termasuk Dlarurat seperti halnya deskripsi di atas.

Dalam kitab Tuhfatul muhtaj Juz 6 Hal 160


Boleh-boleh saja wanita haid mengajar al-qur’an, namun harus di eja atau di putus-putus ini syarat di perbolehkannya wanita haid yang mengajar, kalau hal ini sangat di butuhkan.

Kitab Khozanatul Asror hal 61

 
Tidak makruh bagi wanita haid, orang junub dan nifas ketika cara membaca al-qur’annya di eja atau di putus-putus, kenapa membaca al-qur’an dengan mengeja tidak haram padahal yang di baca al-qur’an/. Karena mengeja membaca al-qur’an tidak termasuk membaca.

Nb: sebaiknya bagi wanita haid, orang junub, nifas ketika hendak mengajar al-qur’an sebaiknya mengajar perhuruf saja, seperti yang kita kenal seperti A I U Ba’ untuk memfasihkan makhorijul Huruf.

Kitab Bughyatul Mustarsyidin Hal 26


Makruh hukumnya menyentuh tafsir al-qur’an bagi orang yang mempunyai hadast besar atau kecil, jika di yakini tafsirnya lebih banyak dari pada ayat al-qur’annya, jika sebaliknya, tafsirnya lebih sedikit dari pada ayat al-qur’annya, maka hukumnya haram.

Hukum haram ini kalau bertujuan untuk membaca, atau tidak ada tujuan yang lain. Sedangkan pendapat yang kuat  mengenai orang yang mempunyai hadats tidak haram, seperti halnya membenarkan bacaan al-qur’an yang salah dan dalam rangka mengajar.

Bagaimana kalau yang di bawa atau di baca itu berupa kitab injil, taurat atau zabur? Maka hukumnya tidak haram (boleh). Sedangkan Madzhab Hanafiyah menghukumi makruh.

Dalam Kitab Al-Fiqhul Islami Wa Adillati Juz 1 Hal 398


Menurut madzhab malikiyah di perbolehkan wanita haid, orang junub atau nifas menyentuh al-qur’an atau membaca al-qur’an, jika bertujuan mengajar siswa-siswinya, sebab hal demikian itu termasuk Dlarurat yang di perbolehkan Syara’.

Nb: kalau ada yang bisa mengganti untuk mengajar al-qur’an maka sebaiknya di ganti, ini semata-mata untuk memulyakan al-qur’an, jika tidak  menemukan pengganti yang bisa mengajar al-qur’an
 Maka hukumnya seperti di atas ini.

Demikian pembahasan mengenai hukum wanita mengajar al-qur’an atau iqra’ ketika sedang haid. Semoga bisa bermanfaat untuk kita semua khususnya bagi pembaca dan penulis. Amin..






Sunday, 17 September 2017

Mengenal Lebih Dalam Sosok Syeikhuna Ahmad Khatib Minangkabau

Mengenal Lebih Dalam Sosok Syeikhuna Ahmad Khatib Minangkabau

Daerah Minangkabau Sumatra barat merupakan tempat kelahiran sosok yang memiliki keilmuan yang luas sekaligus menjadi Mufti di tanah suci Makkah, sehingga banyak santri-santri beliau menjadi ulama yang sangat alim dan berpengaruh di daerahnya masing-masing.

Ulama ini memiliki Nama lengkap Syeikh Ahmad Khatib Bin Abdul Latif Al-Minangkabau As-Syafi’I yang lebih terkenal dengan nama Syeikh Khatib Minangkabau, beliau putra dari pasangan Syeikh Abdul Latif dengan Limbak Uray. beliau di lahirkan kota Gedang Bukit Tinggi Sumatra Barat, pada hari Senin, Tanggal 06 Dzulhijjah 1276 H.

Konon ketika usia beliau masih kecil, beliau telah menghatamkan al-qur’an yang di bimbing langsung  oleh ayah beliau (Syaikh Abdul Lathif). Dengan semangat yang tinggi dalam mendalami ilmu dan sangat cintanya beliau terhadap ilmu agama sehingga beliau tumbuh menjadi pemuda yang alim, dan bijaksana dalam menghukumi perkara.

Ketika beliau tamat dari sekolah Kweekschool (sekolah formal pada zaman itu) yang terletak di daerah Minangkabau, beliau di ajak oleh Kyai Abdul Latif untuk menunaikan ibadah haji, pada waktu itu usia beliau baru genap 9 tahun. setelah menunaikan ibadah haji, tidak semerta-merta beliau di ajak pulang oleh ayah beliau (Syeikh Abdul Latif), tapi beliau di minta untuk mendalami ilmu agama ke beberapa ulama yang terkenal kealimannya di tanah Makkah, sedangkan sang ayah kembali ke tanah kelahirannya di Miangkabau.

Setelah cukup lama beliau mendalami ilmu agama kepada para ulama-ulama yang terkenal dengan kehebatan ilmunya dan di samping itu beliau  kedisiplinan, keistiqomahan, kerja keras dan rasa pengen tahu tentang suatu ilmu pengetahuan, jadi tidak mengherankan kalau beliau (Syeikh Khatib minangkabau) tumbuh menjadi pribadi yang alim dan berpengaruh di masanya, sebelum beliau di angkat menjadi mufti Makkah, beliau lebih dahulu di suruh oleh raja Makkah untuk menjadi Imam Besar Masjidil haram, ini merupakan sebuah kehormatan dan balasan apa yang beliau kerja keraskan selama ini dalam mengabdikan dirinya untuk mendalami ilmu agama.

Setelah sekian lama beliau menjadi imam besar di masjidil haram, beliau juga aktif mengajar dan menulis, jadi tidak mengherankan kalau banyak masyarakat bahkan ulama dari tanah jawa datang ke kota Makkah untuk mendalami ilmu agama kepada beliau seperti salah satunya KH Wahab Hasbullah Pengasuh pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, jawa Timur. lebih lengkapnya  Baca Di Sini. 

Santri-Santri Syeikh Khatib Minangkabau Dari Indonesia

 

a.    KH Abdul Karim Ayahanda Buya Hamka
b.    Kh ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah
c.    KH Hasyim Asy’ari Pendiri Nahdlatul Ulama’
d.    Syeikh Abbas Abdullah
e.    Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli. Untuk mengetahui Beografi beliau Klik Di Sini.
f.    Syeikh Muhammad Jamil Jaho Padang Panjang
g.    Syeikh Abbas Qodli
h.    Syeikh khatib Ali Padang
i.    Syeikh Ibrahim Musa
j.    Syeikh Musthaf  a Husyain
k.    Syeikh hasan Ma’sum medan

Ini Sebagian kecil santri-santri beliau yang terdata, banyak santri beliau yang belum terdata seperti dari Madura, Kalimantan, Sulawesi dan ada pula yang dari jawa. Di sebabkan minimnya alat informasi dan keterbatasan penulis.

Selain mengajar para santri-santri dari berbagai penjuru dunia khusunya dari Tanah jawa, beliau juga aktif menulis kitab-kitab klasik, ini menandakan betapa tingginya ilmu beliau, dalam segi ilmu agama seperti ilmu Falak, Ilmu Fiqih, Sejarah, Aljabar, Ilmu Itung, Ilmu Geometri.

Karya-karya Syeikh Ahmad Khatib Miangkabau  


a.    Al-Jawahiran Naqiyah
b.    Itsbatuz Zain
c.    An-Nafahat Syarh Waraqat
d.    Irsyadul Hajarah Fi Raddhi Alan Nasara
e.    Ad-Dalilul Masmu’
f.    Al-Minhajul Masyru’
g.    Riyadathul Wardiyah
h.    Al-Kitathul Mardhyah
i.    Tanbihul Awam
j.    Iqnaun Nufus
k.    Idzhar Zaqhl

Masih banyak karya tulis indah beliau yang belum terdata, karena keterbatasan penulis
Inilah beografi sang guru yang sangat Masyhur ke’Alimannya dalam ilmu agama sehingga beliau sangat di segani oleh ulama-ulama pada zamannya, ini semua tidak lepas dari peran seorang guru di balik sukses beliau dalam menyelami samudra ilmu yang sangat luas

Berikut Guru-Guru Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau


a.    Sayyid Bakri Syatha
b.    Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan
c.     Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makkiy

Disini hanya tiga guru Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau yang dapat penulis catat, namun tidak mengurangi rasa Ta’dzim penulis yang dapat ku haturkan kepada guru-guru beliau. Ulama Minangkabau Sumatra Utara telah di menghadap kehadirat Allah Swt pada tanggal 09 Jumadil Ula tahun 1334 H. 

Demikian profil sosok ulama yang telah melahirkan ulama-ulama handal seperti Syeikh Hasyim Asy’ari dan Syeikh Ahmad Dahlan. Semoga kita semua mendapatkan barakah dari beliau serta selalu meneladani perjuangan beliau dalam menuntut ilmu dan bertingkah.














Saturday, 16 September 2017

Hukum Sperma Keluar Tanpa Adanya Persetubuhan

Hukum Sperma Keluar Tanpa Adanya Persetubuhan



Salam sejahtera untuk para sahabat-sahabat Mursyid Hasan, untuk kali ini web Mursyid Hasan akan membagikan seputar hukum mencium Istri saat berpuasa, apakah termasuk membatalkan puasa atau tidak.

Sebut saja Kang Idrus  seorang santri yang baru menikah, tapi malang nasib kang Idrus ini sebab penikahannya pas hari puasa, sedangkan hasratnya sudah memuncak. Apakah boleh ia mencium istrinya dalam keadaan puasa. Kalau boleh apakah tidak membatalkan puasanya?

Dalam kitab  Fathul Mu’in Hasyiyah I’anatut Tholibin di jelaskan bahwa jika seorang suami mencium, membelai, merangkul memandang atau melamun, lalu keluar sperma tanpa adanya persetubuhan di antaranya, maka tidak membatalkan puasa, hukum ini sebagaimana tidur lalu keluar sperma.

Kalau seorang laik-laki menyentuh wanita mahramnya atau rambut seorang wanita, lalu keluar sperma, maka puasanya tidak batal.

Bagaimana kalau yang keluar itu air madzi, maka  puasanya tidak batal. Lain halnya menurut pendapatnya ulama Malikiyyah hal tersebut bisa membatalkan puasa.

Lalu apa air madzi itu dan  bagaimana untuk membedakan air madzi dengan air sperma?

* Madzi merupakan air yang keluar dari kemaluan, ciri-cirinya air ini bening dan lengket. Keluarnya air ini disebabkan syahwat yang membara karena menginginkan bersetubuh dengan wanita atau ketika pasangan suami istri bercumbu rayu biasanya air ini keluar. Ciri-cirinya yakni Keluarnya air ini tidak menyebabkan seseorang menjadi lemas, tapi kalau mani ini biasanya tubuh menjadi lemas tidak bertenaga, ini pengalaman teman bukan penulis hehe.

Hukum air madzi ini najis, jadi kalau tubuh atau pakaian te terkena madzi harus di sucikan, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:

Cukup bagimu dengan mengambil segenggam air, kemudian engkau percikkan bagian pakaian yang terkena air madzi tersebut.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah dengan sanad hasan)

Dan juga air madzi ini juga menyebabkan wudlu sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:

Keluarnya air madzi  membatalkan wudhu. Apabila air madzi keluar dari kemaluan seseorang, maka ia wajib mencuci kemaluannya dan berwudhu apabila hendak sholat. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah, “Cucilah kemaluannya, kemudian berwudhulah.” (HR. Bukhari Muslim).

Demkianlah yang dapat kami infokan semoga bisa bermanfaat untuk kita semua. Amin..

Friday, 15 September 2017

Inilah Hukum Onani Bagi Orang Yang Puasa

Inilah Hukum Onani Bagi Orang Yang Puasa


Sahabat Mursyid Hasan yang selalu mendapatkan kasih sayang dari Allah Swt, untuk kali ini Web Mursyid Hasan akan membagikan info seputar onani apakah tetap sah puasanya, mungkin jenengan semua sudah tahu hukumnya mengenai permasalahn ini, namun alangkah lebih menariknya, jika pembahasan ini si sertakan dalil yang akurat.

Sebelum membahas masalh hukum onani bagi orang puasa, lebih baiknya membahas trlebih dahulu masalah onani, apakah di perbolehkan atau malah haram secara mutlak.

Onani yakni mengeluarkan cairan dari alat kelaminnya dengan tangannya sendiri atau tangannya orang lain. Hukum onani menurut islam sesungguhnya adalah haram dan berdosa. Namun akan berbeda jika melakukan onani untuk menghindari perbuatan zina ataupun seks bebas, maka awalnya haram menjadi mubah (boleh). Demi  menghindari perbuatan zina, maka solusi terbaiknya adalah melakukan onani. Perlu di teliti dan di ingat, bahwa niat onani ini hanya untuk menghindari dosa besar yakni zina.

Penjelasan ini ditafsirkan berdasarkan kaidah usul fiqh “diperbolehkan melakukan bahaya yang lebih ringan, untuk menghindari bahaya yang lebih berat.”.

Jadi kesimpulan sementara onani boleh kalau sangat di butuhkan seperti untuk menghindari zina, dan alasannya dapat di benarkan oleh Syara’ contoh: Si A hidup di tengah-tengah masyarakat yang banyak terdapat kemungkaran seperti perzinahan, sedangkan keadaan si A sangat bernafsu untuk melakukan perzinahan tersebut, Namun ia masih memiliki Imam, maka boleh ia melakukan onani untuk menghindari zina tersebut.

Masalah yang kedua yang sesuai dengan judul artikel, apakah onani bagi orang puasa di perbolehkan?

Tidak di perbolehkan onani bagi orang yang berpuasa, baik sangat di butuhkan atau tidak, bahkan bisa membatalkan puasa.

Dalam kitab Hasyiyah Bujairi juz 7 halaman 446 di jelaskan. Kalau mani atau sperma itu keluar sebab Istimta’ dengan tangannya sendiri atau tangannya orang lain, baik menggunakan penghalang seperti kain atau tidak, maka puasanya batal secara mutlak.

Kalau keluarnya sperma dengan sendirinya semisal tidur, maka tidak membatalkan puasa. Batalnya puasa dalam masalah ini sebab adanya kesengajaan, begitu juga muntah yang sengaja, maka membatalkan puasa, kalau tidak di sengaja semisal naik kendaraan lalu muntah, maka tidak batal puasanya.

Lalu Bagaimana  hukumnya orang puasa keluarnya Sperma Tanpa adanya Persetubuhan. Baca Di Sini

Demikianlah penjelasan yang dapat kami infokan semoga dapat bermanfaat untuk kita semua. Amin..




Thursday, 14 September 2017

Hukum-Nya Wanita Haid Memandikan Jenazah

Hukum-Nya Wanita Haid Memandikan Jenazah


Sahabat Mursyid Hasan yang selalu di mulyakan oleh Allah Swt. Nah saat ini web Mursyid hasan akan membagikan info seputar hukumnya wanita haid memandikan jenazah, semoga artikel ini bisa bisa bermanfaat.

Seorang wanita yang sedang mengalami haid di haramkan untuk melakukan shalat, membaca, membawa Mushaf al-qur’an, berdiam diri di masjid, thawaf, puasa dan juga haram untuk mentalak istri dalam keadaan haid, inilah ibadah yang harus di tinggalkan oleh wanita yang mengalami haid.

Lalu bagaimana kalau wanita itu memandikan jenazah, apakah di perbolehkan atau di haramkan memandikannya?

Mungkin sudah jelas penjelasan di atas terkait ibadah yang harus di tinggalkan saat wanita mengalami haid, 

Namun lebih indahnya jika membahas lebih perinci sesuai landasan hukum-hukum yang tertera di dalam kitab klasik.

Wanita yang mengalami haid hukumnya di perbolehkan memandikan jenazah, sebab wanita haid itu hukumnya tetap suci sebagaimana orang lain (bukan dalam melakukan ibadah wajib dan Sunnah, kalau melakukan ibadah Sunnah/ wajib sudah jelas hukumnya).  Hanya saja ada sebagian ulama mengatakan makruh hukumnya wanita haid memandikan jenazah.

#Landasab Hukum Fikih

Dalam kitab Ar-Raudlah dan Syarh Al-Muhadzab imam Nawawi memberi penjelasan bahwa orang junub dan orang haid di perbolehkannya memandikan jenazah, sebab keduanya ini suci.

Sedangkan menurut Imam Hasan dan sebagian ulama lain menghukumi makruh wanita haid atau junub memandikan jenazah.

Tadi di jelaskan di muka bahwa wanita haid di haramkan melakukan ibadah wajib atau Sunnah. Dan ketika sudah selesai masa haidnya maka di wajibkan untuk mandi. Lalu bagaimana kalau ia meninggal dunia sedangkan ia belum mandi besar, apakah di wajibkan baginya di mandikan dua kali atau tidak . Dengan masalh seperti ini cukup di mandikan satu kali saja. sebab wanita haid bisa gugur kewajiban  mandinya, sebab meninggal dunia.

Imam Nawawi berkata dalam kitab Syarh Al-Muhadzab  menurut Imam Al-Hasan wanita haid atau junub ketika meninggal dunia di wajibkan memandikan dua kali (di mandikan sebab hadast besar, di mandikan sebab meninggal dunia).

Berikut penjelasan mengenai hukum wanita haid memandikan jenazah, semoga artikel ini memberi kemanfaatan untuk semuanya, khususnya pembaca dan penulis. Amin..


Refrensi Kitab Kuning: Hayisyataaa Qhulyuby Juz 1 Hal 360                                         Fathil Qorib Mujib                                         Safinatun najah