Wednesday, 30 August 2017

Hukumnya Buang Hajat Menghadap Dan Membelakangi Arah Kiblat

Hukumnya Buang Hajat Menghadap Dan Membelakangi Arah Kiblat

 
Kita sudah tahu apa itu yang di namakan Kiblat, kiblat sendiri yaitu suatu tempat yang kita wajib untuk menghadap kearahnya saat melakukan ibadah seperti melakukan shalat, kita harus menghadap kepada tempat itu (Baitullah), kalau kita tidak menghadap kepadanya saat salat maka solatnya batal.
Kiblat atau Baitullah merupakan sebuah masjid yang di mulyakan dan didirikan untuk beribadah hanya kepada Allah bahkan di tempat ini pula haram menumpahkan darah baik untuk orang islam atau orang Kristen.

Karena di mulyakan maka tidak di perbolehkan bagi seorang bocah menghadap kepada arah kiblat saat buang hajat, kalau tidak mengetahuinya, maka bagi orang tua wajib melarangnya.

Yang di maksud menghadap arah kiblat atau membelakangi kiblat yang di haramkan saat buang hajat ialah menghadap kiblat dengan dadanya dan membelakangi kiblat dengan punggungnya.

Dan ada pula yang berpendapat bahwa yang di haramkan menghadap kiblat saat buang hajat yakni dengan qubul (kelamin bagian depan) dan membelakangi kiblat dengan duburnya (Kelamin bagian belakang). Lalu bagaimana keharaman  mengahadap kiblat saat buang hajat yang benar ?

Ulama Dalam Menyikapi Hal Demikian Masih Ada Perbedaan:

Menurut satu ulama hukumnya di haramkan buang hajat menghadap kea rah kiblat dengan dada dan membelakangi kiblat dengan punggungnya, sekalipun kelamin bagian depan dan belakang tidak mengahap atau membelakangi kiblat.

Menurut pendapat yang lain haram menghadapkan kelamin bagian depan kearah kiblat dan membelakangi kiblat kelamin bagian belakang, ketika keluarnya kotoran tanpa ada penutupnya semisal satir (Tembok, kayu pagar).


Hukumnya Buang Hajat Menghadap Dan Membelakangi Arah Kiblat

#Landasan Hukum Fikih

*tidak di perbolehkan bahkan haram bagi seseorang yang buang hajat menghadapkan kubul dan duburnya kearah kiblat baik ke baitullah atau ke baitul maqdis…jika di antara orang yang buang hajat dan arah kiblat tidak ada penutupnya semisal di lapangan sepak bola dan padang pasir, atau ada penghalang tapi jaraknya terlalu jauh dengan orang yang buang hajat semisal jaraknya 10 meter, ini di lakukan semata-mata untuk mengagungkan Baitullah.

*menghadap kiblat yang di maksud itu ialah orang yang buang hajat menghadap kiblat dengan wajahnya ini sudah lumrah kita ketahui. Sedangkan yang di maksud membelakangi kiblat ialah membelakangi kibalt dengan punggungnya saat buang hajat.

Ada ulama yang mengatakan posisi yang telah di sebutkan itu tidak termasuk membelakangi kiblat yang di haramkan, kecuali jika dzakarnya yang di hadapkan kea rah kiblat.

Menurut Qoul yang mu’tamat berlandaskan hadist nabi hukumnya di haramkan  “Apabila kalian mendatangi tempat untuk baung hajat, maka janganlah kalian menghadap kearah kiblat atau membelakanginya.

Andaikan orang buang hajat mengahadp kiblat dengan dadanya dan membelokkan kelaminnya dari arah kiblat, kemudian ia kencing maka tidak ada keharaman baginya. Kalau sebaliknya yakni kelaminnya di arahkan kearah kiblat, maka haram hukumnya.

Nah, Demikian informasi mengenai Hukum BUANG HAJAT MENHADAP ARAH KIBLAT yang dapat Kami bagikan. Semoga bermanfaat,amin.


Refrensi Kitab Kuning: Fatawy Ar-Ramli Juz 1 Hal 76
                                      Minhajul Qowwim Juz 1 Hal 74
                                      Hasyiyatul Bajuri Juz 1 Hal 63
                                      I'Anatut Thalibin Juz 1 Hal 110-111
                                      Hasyiyah Bujairimi Juz 2 Hal 132





Inilah Hukum Air Liur Keluar Saat Tidur

Inilah Hukum Air Liur Keluar Saat Tidur

Apa  air liur itu, Mungkin dari kita sudah tahu apa air liur itu, air  liur ialah  air yang keluar saat kita sedang tidur, Namun tidak semua orang yang tidur mengeluarkan air liur, Tapi ada juga yang sampai dewasa masih mengeluarkan air liur. Lalu bagaimana hukum air liur yang keluar saat sedang tidur apakah najis atau suci?

*Air liur Yang Keluar Saat Sedang Tidur Hukumnya Di Tafsil:

Di hukumi najis jika air liur itu keluar dari dalam perut seseorang yang sedang tidur, lalu bagaimana mengetahui ciri-ciri air liur yang keluar dari dalam perut. Air liur yang keluar dari dalam perut seseorang ciri-cirinya baunya sangat basi, amis dan warna air liur tersebur berwarna kekuning-kuningan.

Di Hukumi suci jika air liur yang keluar itu tidak dari dalam perut semisal dari otak atau hidung, lalu untuk mengetahui ciri-ciri air liur yang tidak dari dalam perut yakni baunya tidak basin, amis serta warnanya putih.

#Landasan Hukum fikih

*air liur yang keluar  dari mulut  saat sedang tidur hukumnya najis, jika air liur itu keluarnya dari dalam perut dengan ciri-ciri berbau basin, amis berwarna kekuning-kuningan.
Dan sebaliknya tidak di hukumi najis jika air liur itu keluar tidak dari dalam perut semisal dari otak atau hidung.

Lalu bagaimana jika mengalami keraguan, apakah air liur itu dari dalam perut atau bukan dan tidak ada bau atau warna, maka hukumnya di anggap suci.

Ibnu Al-‘Imad telah menyebutkan beberapa hukum air liur yang keluar dari mulut saat sedang tidur:

Yang pertama air liur di hukumi suci secara mutlak (baik ada bau atau tidak. Baik berwana kekuning-kuningan atau tidak).

Yang Kedua di hukumi suci secara mutlak (baik air liur itu berbau atau berwarna).

Yang Ketiga hukumnya di perinci, air liur yang keluar dari dalam perut dan yang keluar dari mulut saja atau otak dan hidung.

Perincian Hukum Air Liur

Air liur yang keluar dari dalam saja, otak atau hidung saat sedang tidur hukumnya suci, dan sebaliknya kalau air liur itu keluarnya dari dalam perut hukumnya najis kalau memiliki ciri-ciri seperti berbau amis, basin dan berwarna kekuning-kuningan, walaupun najis tapi tetap maafkan hukunya apabila pada seseorang yang selalu mengeluarkan air liur saat sedang tidur.

Demikian lah sekilas Web MURSYID HASAN menguraikan seputar permasalahan hukum air liur yang keluar saat tidur. Semoga bermanfaat untuk semuanya. Amin…

Refrensi Kitab Kuning: Tarsyih Al-Mustafidin Hal 37
                                      Hasyiyah Al-Bajuri Juz 1 Hal 100

Kriteria Wanita Idaman Pria Menurut Hukum Islam


Kriteria Wanita Idaman Pria Menurut Hukum Islam

Pernikahan merupakan pelabuhan pertama untuk meneruskan perjalanan hidup seseorang, namun untuk meneruskan perjalanan yang terbilang lama ini, maka sebaiknya mencari pasangan yang bisa menuntun, mendampingi, bersama-samaa, dalam mengarungi kehidupan yang fana ini, kenapa kita harus memilih pasangan yang bisa menuntun, mendampingi. ini semua semata-mata agar pernikahan tidak terombang ambing dan selalu di warna dengan Ukhuwa Islamiyah, keromatisan dalam mengarungi rumah tangga.

Karena banyak kan untuk masa-masa sekarang ini pernikahan hanya di niatkan pelampiasan nafsu saja, ketika tidak nafsu lagi dan mendapatkan ujian yang tidak tergolong berat, biasanya pernikahan putus di tengah jalan, ia tidak mengapa agama memperbolehkan bercerai Tapi di murkai Olah Allah, kita tidak mau kan Allah Murka hanya kita salah pasangan.

Untuk itu Web MURSYID HASAN Berbagi Ilmu Tentang Kriteria Wanita Yang Cocok Untuk Di Jadikan Teman, pendamping dalam mengarungi bahtera rumah tangga ini.

Yang pertama, Wanita Diyyidah (wanita yang kuat agamanya), serta memiliki akhlak yang mulia ini nilai yang paling utama untuk di nikahi dari pada wanita yang kaya harta tapi memiliki keburukan sifat, ingat jangan tertipu, hidup hanya satu kali. Nabi Muhammad juga memberi Nasihat “Nikahilah wanita yang beragama” dan juga nikahilah wanita yang  bernasab mulia seperti putrinya habib, Kyai, orang Alim dan Orang Sholih, karena ada hadist pilihlah tempat untuk bibitmu jangan menempatkan di tempat yang tidak pantas, ingat namun jangan terpaku pada nasab, sebab nasab tidak menjamin akhlak seorang anak menjadi baik akhlaknya.

Yang kedua, wanita cantik, Nah gimana cara mengukur wanita itu cantik, padahal cantik itu relative, untuk mengukur wanita itu cantik atau tidak ialah menyenangkan hati dirinyasaati pandang itulah yang di namakan cantik, karena ada sebagian oranng menganggap ia cantik sedangkan menurut dirinya jelek dan juga sebaliknya.

Di  anjurkan untuk menikahi wanita bukan dari kerabatnya sendiri seperti sepupu dari pihak ayah atau ibu itu lebih di utamakan, Namun kalau menikahi sepupu itu ada kemaslahatan semisal untuk mempererat tali saudara maka ini yang lebih baik.

Yang Ketiga bagus budi pekertinya karena bagus budi pekerti seorang perempuan itu menjadi awal dari kebahagiaan membina rumah tangga, serta dapat menyemangatkan suami dalam hal apapun, tapi senbaliknya kalau budi pekerti seorang perempuan jelek maka itu menjadi awal sebuah petaka dalam rumah tangga, walapun kaum lelaki memiliki harta melimpah dan orang-orang terpandang.

Dalam Syarh Al-Minhaj mengatakan apabila sifat wanita itu bersilangan, maka yang lebih baik mendahulukan agama, kemudian akal dan budi perkerti, memilih wanita yang lebih maslahat untuk dirinya, semisal memilih wanita kaya agar bisa menjalankan tugas agama lebih baik, atau memilih nabab agar kelak anak-anaknya bisa meneruskan tugas yang mulia.

Sunnah bagi seorang wali menawarkan putra-putrinya kepada orang yang shalih dan memiliki tanggung jawab sperti yang di lakukan oleh Nabi Ayyub As, terhadap Nabi Musa, Sahabat Usman terhadap Sahabat Umar dan Abu Bakar.

Sunnah dalam menikah niat menjalankan Sunnah nabi Muhammad dan untuk memperkuat agama, serta menharap pahala dari nikah, jika di maksudkan sebagai ketaatan kepada Allah Swt baik berupa menjaga kesucian dirinya atau berniat mendapatkan anak yang shalih dan shalihah.

Di sunnahkan ketika resepsi akad nikah di lakukan di dalam masjid, dan waktunya di lakukan di waktu pagi hari pada bulan Syawal dan juga Sunnah menyetubuhi istrinya di hari jum’at itu, semoga Allah selalu memberikan yang terbaik. Sunnah bagi seseorang yang mengahdiri akad nikah mengucapkan doa kepada kedua mempelai;

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

Demkianlah artikel ini semoga bermanfaat untuk semuanya.Aminn…



Tuesday, 29 August 2017

Meneladani Lebih Jauh Syeikh Yusuf Al-Makasari “Putra Afrika Terbaik”

Meneladani Lebih Jauh Syeikh Yusuf Al-Makasari “Putra Afrika Terbaik”

Mungkin  dari kita-kita ini banyak yang tidak mengetahui sosok multitalenta dalam bidang ilmu agama, ke’alimannya juga tidak di ragukan lagi, bahkan masyarakat yang kebetulan tinggal di wilayah makasar juga ada yang tidak mengetahui  sosok ulama ini.  dialah Kyai Yusuf Al-Makasari.

Beliau termasuk ulama yang sangat hebat dalam bidang ilmu agama di banding ulama daerah lain. Beliau termasuk putra dari pasangan Abdullah dengan Aminah. Sedangkan beliau di lahirkan pada tanggal 3 Juli 1626 atau bertepatan dengan tanggal 8 Syawal 1036, di Desa Moncong Loe goa Sulawesi Selatan.

Yusuf panggilan sehari-hari merupakan nama pemberian dari Sultan Alauddin beliau termasuk Sultan pertama yang menguasai Goa Kesultanan.  Gowa merupakan  salah satu kerajaan Islam yang berdiri di wilayah Sulawesi Selatan. 

Kejadian aneh saat Aminah Ibu Syeikh Yusuf Mengandung dirinya, saat kandungan udah semakin besar tiba-tiba muncul sinar yang tak terduga dari perut beliau, dari dalam perutnya Sayyidah Aminah terdengar suara bayi yang sedang melantunkan Kaliamat Tauhid “La ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah Saw, ini menandakan beliau dari sejak kandungan udah menampakkan diri sebagai Wali Allah.

Yusuf kecil ketika belajar ilmu agama langsung di didik oleh ayahannya sendiri setelah ilmu yang di pelajari terasa sudah cukup, lalu beliau belajar ilmu agama kepada beberapa ulama yang alim dalam bidangnya masing-masing, karena beliau termasuk putra bangswan jadi pendidikan beliau sangatlah bagus di tambah kecintaan beliau terhadap ilmu dan kematangan proses belajar sehingga beliau sukses menjadi pribadi yang baik dan alim. Terutama dalam bidang al-qur’an.

setelah itu  beliau  beliau melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Bontoala Yang di asuh oleh ulama asal Hadramaut Yaman yaitu Sayyid Ba’alawi Bin Abdullah Al-‘Alamah Al-Thahir, di Pondok Pesantren Bontoala ini lah beliau mendalami ilmu-ilmu alat seperti ilmu nahwu, shafah, balaghah, mantiq, tafsir dan ilmu fikih setelah sekian lama beliau menimba ilmu di Pesantren Bontoala, lalu beliau berpindah ke pesantrenCikoang yang di asuh oleh Syeikh Jalaluddin Al-Aydid.

Pada Tanggal 22 September 1645, beliau memutuskan untuk meninggalkan bumi pertiwi ini dengan tujuan hijrah ke Tanah suci Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama kepada beberapa ulama-ulama timur tengah

Berikut Daftar Guru-Guru Syeikh Yusuf

a.    Syeikh Muhammad Jilani Bin Hasan Bin Muhammad Hamid  Ar-Raniri
b.    Syikh Abdullah Muhammad Abdul Baqi’ Guru Tariqat Naqsabadiyyah
c.    Syeikh Sayyid Ali
d.    Syikh Ahamd Al-Qusyairi
e.    Syeikh Hasan Al-Ajami
f.    Syeikh Ibrahim Al-Kurani
g.    Syeikh Burhanuddin Al-Milah
h.    Syeikh Akbar Muhyiddin
i.    Syeikh Abu Barakah Ayyub

Meneladani Lebih Jauh Syeikh Yusuf Al-Makasari “Putra Afrika Terbaik”

Inilah daftar guru-guru beliau ketika berkelana mencari ilmu dari negara Yaman, Hadramaut, Makkah, Madinah dan Syam, Suriyah. Tidak mengherankan kalau beliau sangat alim dalam bidang Tasawuf, sebab sebelum beliau berkelana mencari ilmu, di hati beliau sangat rindu dengan Tasawuf dan Thariqat, bukti itu ketika beliau masih dalam kandungan yang selalu membaca kalimat tauhid.

Di sisi lain beliau belajar ilmu agama ke berbagai ulama-ulama yang tidak di ragukan lagi kealimannya, di sisi lain beliau juga aktif menulis kitab-kitab klasik yang selama ini di temukan dan di kaji di Pondok-Pondok Pesantren seperti:

a.    Kitab Safinah Al-Najah
b.    Badiyah Al-Mubtadi
c.    Al-Nafat Al-Syailaniyah
d.    Qurrah Al-Ain
e.    Al-Wasiat Al-Munjiyat
f.    Tahsil Al-Inayah
g.    Daf’ Al-Bala’
h.    Taj Al-Asrar Fi Tahqiq Masy’arib
i.    Zubdah Al-Asror Fi Tahqiq
j.    Sir Asror

Deretan-Deretan sejumlah kitab karangan beliau yang sangat terkenal

Syeikh Yusuf Al-Makasari berdakwah ke  Afrika Selatan, untuk menyebarluaskan agam islam dan terbukti beliau di negara itu telah banyak meng-islamkan penduduk setempat, sehingga tak berapa lama pengikut beliau sangat banyak, baik dari golongan anak muda, tua, dari golongan rakyat jelaka sampai pejabat kerajaan juga turut mengikuti ajaran beliau

Beliau  wafat pada tanggal 23 Mei 1699 M. para pengikut Syeikh Yusuf al-Makassari menjadikan hari wafatnya sebagai hari peringatan. Syeikh Yusuf al-Makassari dimakamkan di Faure, Cape Town. Makamnya terkenal sebagai Karamah yang berarti keajaiban  

Setelah beliau wafat Sultan Gowa meminta kepada Presiden Afrika untuk mengirim jasat beliau ke Indonesia, setelah Jasad Syeikh Yusuf al-Makassari tiba di Goa pada tanggal 5 April 1705, lalu  jasad beliau dimakamkan kembali di Lakiung (sebuah wilayah di kerajaan Gowa) pada hari Selasa tanggal 12 Dzulhidjah 1116 H.

Demikianlah sekilas cuplikan Profil Syeikh Yusuf Al-Makasari semoga kita tetap mendapatkan barakah dari beliau, dan semoga Web MURSYID HASAN  ini terus memberi kemanfaatn kepada semuanya. Amin..

Puasa-Puasa Sunnah yang Perlu di Ketahui Oleh Umat Islam

Puasa-Puasa Sunnah yang Perlu di Ketahui Oleh Umat Islam

Umat Muslim pastinya sudah mengetahui hukum-hukum puasa, nama puasa yang di anjurkan serta faidah yang di dapat setelah berpuasa, ada yang hukumnya Sunnah ada juga yang wajib, lalu yang Sunnah seperti puasa apa. Kalau puasa yang di hukumi Sunnah yakni seperti puasa Asyura, Tarwiyah, Puasa Arafah dan Puasa senin kamis. Sedangkan puasa yang wajib yakni puasa Ramadlan, kafarat dan puasa nadzar.

Nah, untuk kali ini karena besok lusa sudah di anjurkan untuk umat islam untuk berpuasa Tarwiyah, maka sepantasnya Web MURSYID HASAN membagikan informasi seputar Puasa Sunnah Tarwiyah, Asyura, Puasa Arafah Dan Puasa Senin Kamis.

Dalam puasa wajib dan sunnah memiliki banyak keutamaan dan memiliki segudang pahala bagi yang mengerjakannya. Oleh karena itu Allah Swt menyandarkan puasa itu untuk dzatnya Allah sendiri, bukan yang lain. Dalam hadist Qutsyi di sebutkan.

Bahwa semua perbuatan manusia itu untuk dirinya sendiri, kalau untuk puasa itu untuk Dzatku (Allah Swt) karena puasa hanya untukku dan akulah yang akan membalasnya sendiri. Hadist lain barang siapa melakukan puasa satu hari karena Allah, maka Allah akan membalasnya dengan memisahkan orang tersebut dari neraka sejauh 70 Tahun (Maksudnya tidak di masukkan ke neraka).

Sudah tahu kan keutamaan puasa di atas ini salah satu dari sekian banyak keutamaan dan pahala melakukan puasa baik puasa wajib atau Sunnah. Nah kali ini membahas puasa-puasa Sunah:

a.    Puasa Arafah

Hukumnnya puasa Arafah yaitu Sunah Muakkad (Sunnah yang sangat di anjurkan), untuk waktu pelaksanakan puasa Arafah yaitu tanggal 9 Dzulhijjah, Nammun untuk lebih waspada di anjurkan melakukan Puasa di mulai tanggal 8 dan 9.  Dan di Sunnahkan puasa Sunnah Tarwiyah tanggal 8 Dzulhijjah. Berdasarkan hadist Shahih yang menunjukkan 10 hari bulan Dzulhijjah lebih utama dari pada 10 hari yang ahir pada bulan ramadlan.

Untuk keutamaan puasa Arafah yaitu dapat melebur dosa-dosa kecil selama 1 Tahun, selama tidak ada dosa yang berkaitan dengan hak Adami, kalau berkaitan, maka tidak bisa di lebur dengan berpuasa, Tapi harus meminta maaf.

Niat Puasa Arafah

نَوَيْتُ صَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

b.    Puasa Asyura
Puasa Asyura di kerjakan pada tanggal 10 Muharram, untuk keutamaan yang di dapat oleh orang yang melakukan puasa Asyuira ini yaitu bisa melebur selama 1 tahun yang telah lewat . hikmah di ampuninya dosa selama dua tahun dalam puasa Arafah sedangkan dalam puasa Asyura hanya satu tahun. Dan juga di sunnahkan puasa tanngal 9 Muharram (Puasa Tasu’a), karena berdasakan hadist nabi: jika aku (dawuhnya Nabi Muhammad) hidup tahun depa niscaya saya akan puasa di mulai tanggal 9 Muharram, Namun beliau wafat sebelum Puasa Asyura tiba.

Niat Puasa Asyura Tanggal 9 Muharram
نويت صوم في يوم تسوعاء سنة لله تعالى
Niat Puasa Asyura Tanggal 10 Muharram
نويت صوم في يوم عاشوراء سنة لله تعالى   

c.    Puasa Syawal
Sunnah puasa 6 hari setelah hari raya Idul Fitri, berdasakan hadist shahih yang menyatakan bahwa puasa 6 hari setelh hari raya idul adha adalah seperti halnya puasa selama setahun penuh.

Niat Puasa Syawal

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ ِستَةٍ ِمنْ شَوَالٍ سُنَةً ِللَه تَعَالَي

d.    Puasa Senin kamis
Sunnah bagi kaum muslimin untuk berpuasa senin Dan Kamis karena berdasarkan hadist nabi: Amal-Amal perbuatan yang di lakukan oleh manusia, pada hari senin dan kamis di setorkan ke hadirat Allah Swt, untuk itu kita umat islam di anjurkan agar ketika amal perbuatan di setorkan dalam keadaan berpuasa.

Niat Puasa Senin kamis

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Demikianlah urain mengenai puasa-puasa Sunnah semoga bermanfaat untuk semuanya. Aminn…

Monday, 28 August 2017

Inilah Hukum Mentato Yang Perlu Di Ketahui

Inilah Hukum Mentato Yang Perlu Di Ketahui

Jumpa lagi  di artikel kali ini semoga sahabat-sahabatku selalu di beri kesehatan oleh Allah, Nah untuk artikel kali pembahasannya mengenai masalah hukum mentato tubuh, semoga bermanfaat.
Kita semua pasti tahu apa itu yang di namakan TATO, tato ialah Mengiasi tubuh dengan gambar-gambar yang di inginkan baik gambar macan, singa, atau tulisan.

dalam pembuatan tato  sendiri menggunakan tulang binatang sebagai jarum ada pula dengan duri pohon jeruk, dan ada pula yang menggunakan tembaga panas untuk mencetak gambar naga di tubuh.

Benda itu di tusukkan ke kulit setelah mengeluarkan darah, maka darah tersebut di campur dengan zat pewarna agar mendapatkan warna yang sesuai dengan gambar dan keinginan.

Apakah mentato di anggota tubuh itu sakit, kalau pertanyyaan seperti ini pasti merasakan sakit yang luar biasa, yang paling sakit pembuatan tato di anggota tubuh yang sangat sensitive seperti dada, wajah, punggung, Namun karena nilai yang tinggi dari tato tersebut, serta menampakkan keindahan pada tubuh yang di tato tersebut, maka rasa sakit itu tidak dianggap ada “Katanya..

Lalu bagaimana tanggapan hukum fikih menyikapi hal demikian apakah anjis atau tidak, kalau najis wajibkah harus di hilangkan?

*Mentato hukumnya najis dan wajib di hilangkan bila mencegah air sampai ke kulit, kalau tato itu di buat setelah dewasa, dalam keadaan islam dan tidak ada bahaya yang di rasakan.

Kalau mentatonya itu ketika masih kafir atau mentatonya itu mulai kecil dan ada indikasi membahayakan kesehatan jika di hilngkan, maka tidak wajib untuk di hilangkan. Maka hukumnya di ma’fu.

#Landasan Hukum Fikih

*Tato hukumnya najis, dan wajib untuk menghilangkan tato tersebut jika tidak membahayakan kesehatan, di buat setelah dewasa serta dalam keadaan islam. Kalau tato itu di buat ketika masih kafir, masih kecil dan membahayakan kesehatannya maka tidak wajib di hilangkan.

*Menghilangkan tato hukumnya wajib. Karena tato itu pembuatannya dengan menusukkan jarum ke kulit hingga berdarah, lalu di taburi dengan bahan pembuat tato, sehingga daging bisa berwarna sesuai keinginan, kewajiban menghilangkan tato tersebut jika tidak menghawatirkan kesehatannya dan apabila di khawatirkan terjadi bahaya, maka tidak wajib secara mutlak.

Dan juga berlaku jika ada keperluan yang mendesak untuk mentato atau mentatonya saat masih kecil atau gila maka tidak perlu untuk di hilangkan.

Jika tidak membahayakan dan pembuatannya ketika dewasa, lalu  orang yang bertato itu melarang untuk di hilangkan, maka pihak yang berwenang untuk memaksa menghilangkan tato tersebut seperti qodli (Ulama, pemimpin), jika tidak mau untuk menghilangkan tato tersebut, maka shalatnya tidak bisa sah sebab tato itu di hukumi najis.

Bertato hukumnya haram dan wajib untuk di hilngkan dengan beberapa syarat:

a.  Tatonya tidak memiliki kemanfaatan

b.  Orang yang bertato dalam keadaan islam tidak gila, maka wajib untuk menghilangkan, sebab ia memiliki kewajiban shalat, sedangkan syarat shalat harus suci.

c.  Selama masih hidup wajib menghilangkan tato, kalau sudah meninggal dunia tidak wajib.

d.  Hukum wajib ini selama tidak membahaykan dirinya yang memperbolehkan untuk bertayammum, seperti lamanya masa penyembuhan.

Kalau pembuatan tato itu karena di paksa, masih kecil, gila, maka tidak wajib menghilangkan secara mutlak ini menurut Imam Ar-Ramli.

e.    Tato tidak tertutupi oleh kulit yang tipis, dan apabila tertutupi, maka wajib untuk menghilangkan tato. Kalau tidak boleh di hilangkan dengan sebab-sebab yang sudah di jelaskan, lalau bagaimana hukum wudlunya. Wudlu nya di ma’fu (Wudlu saja).

Nb: Seseorang yang meminta untuk di buatkan tato dan orang yang mentato Allah Dan rasulnya Melaknat, menjauhkan dari Rahmad Allah Saw..Dalilnya Shahih dari Hadist Dan Al-Qur’an..semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua. Aminn..

Refrensi Kitab: Fiqh Al-Ibadah Juz 1 Hal 230
                          I’anatut Thalibin  Juz 1 Hal 107
                         Tarsih Al-Mustafidin Hal 35
                         Al-Qur’an Surah An-Nisa’ ayat 119
                         Hadist Riawayat Imam Bukhori



Inilah Hukumnya Nyamuk Masuk Kedalam Minuman & Klasifikasi Darah Di Ma’fu

Inilah Hukumnya Nyamuk Masuk Kedalam Minuman & Klasifikasi Darah Di Ma’fu

Sudah menjadi kebiasaan saat ada teh atau kopi di taruh di atas meja tanpa ada penutup biasanya ada serangga yang ingin sekali menikmati teh atau kopi buatan kita, tapi karena terlalu ambisi untuk meminum teh buatan kita ahirnya serangga itu tercebur ke dalam minuman kita.

Lalu bagaimana hukum the yang kemasukan Nyamuk atau serangga yang lain, apakah suci untuk kita minum atau najis, sebab nyamuk yang tercebur ke dalam minuman itu menjadi bangkai.

*menurut qoul Ashoh hukumnya nyamuk yang masuk ke dalam minuman itu di maafkan dengan artian minumannya boleh kita minum, ini secara mutlak baik kotoran yang ada di dalam serangga tersebut keluar dari perutnya dan bercampur derngan minuman atau tidak keluar kotoran tersebut, yang penting boleh di minum itu kalau minumannya tidak berubah warna, bau dan rasa.

Kalau sampai berubah warna, rasa dan bau, maka najis. Dan solusinya minuman di buang buat lagi. Begitu kan..

#Landasan Hukum Fikih

Hewan yang tidak memiliki darah namun menghisap darah manusia, hewan peliharaan seperti halnya Nyamuk, tinggi atau gelettah (ini sejenis hewan yang hidup di Pondok Pesantren), lalu serangga ini tercebur kedalam minuman, serangga itu tidak dapat menajiskan air. Namun jika serangga itu tercebur lalu kotoran yang ada di dalam perutnya pecah dan bercampur dengan minuman tadi, maka serangga itu di hukumi najis, karena yang menajiskan itu bukan hewannya melainkan  kotoran dalam perut yang bercampur dengan air minuman.

Sedangkan menurut Qoul aujah hewan yang tercebur kedalam minuman itu di maafkan secara mutlak, sebagaimana di maafkan kotoran yang berada di dalam perut serangga, yang mana jika kotoran daalam perut itu pecah akan bercampur dengan air minuman tadi, dan air minuman tadi tidak berubah warna, baud an rasa. Tapi kalau berubah warna, rasa dan bau maka minumannya di hukumi najis.

Inilah Hukumnya Nyamuk Masuk Kedalam Minuman & Klasifikasi Darah Di Ma’fu

Klasifikasi Darah-Darah yang di ma’fu

Dalam fikih banyak sekali darah yang di maafkan. Namun perlu di tegaskan lagi seperti halnya darah dan nanah yang di ma’fu agar kita khusunya lebih tahu lagi masalah ini

*Darah dan nanah yang bukan berasal dari sendiri, serta bukan berupa darah dari anjing atau babi dan tidak sengaja mengenai anggota tubuh atau pakaian, maka darah atau nanah ini tidak najis tapi sedikit.

*Darah dan nanah nya sendiri hukumnya di maafkan baik sedikit atau banyak, dan selama tidak ada foktor kesengajaan dan belum pindah dari tempat keluarnya nanah atau darah.

=Darah yang najis secara mutlak baik sedikit atau banyak, darah dan nanah ini dari sumber yang benar-najis seperti darahnya anjing atau babi, serta ada kesengajaan menyentuh darah dan nanah
=Darah dan Nanah di hukumi ma’fu kalau sdikit, kalau banyak maka tidak di ma’fu lagi, dan selama najis yang sedikit itu bukan berasal dari darah anjing atau babi

=Darah yang Keluar dengan sendrinya seperti darah bisul, luka, darah jerawat, darah bekas sisa bekam walapun sudah di tutupi bekas bekamnya, kalau tetap darahnya mengalir, maka hukumnya di ma’fu, kema’fuan ini secara mutlak bak sedikit atau banyak, baik menyebar atau tidak, catatan darah yang menyebar itu bukan karena di sengaja melainkan menyebar dengan sendirinya.

Demikian pembahasan mengenai Hukum Serangga Yang tidak berdarah masuk kedalam minuman serta klasifikasi darah-darah yang tidak menajiskan. Semoga artikel  ini bermanfaat. Aminn…

Refrensi Kitab: Hasyiyatul Bujairimi Juz 3 Hal 136
                         Tuhfatul Muhtaj Fi Syarhil Minhaj Juz 1 Hal 346




Mengenal Lebih Jauh Sosok Kyai Sahal Mahfud Kajen “Macannya Ulama Fikih”

Mengenal Lebih Jauh  Sosok Kyai Sahal Mahfud  Kajen “Macannya Ulama Fikih”

Siapa yang tidak kenal dengan ulama kontemporer dengan sejuta prestasi dan memimpin jabatan-jabatan penting di tanah Indonesia ini, jadi tidak mengherankan kalau beliau selalu di ingat dan selalu di kenal oleh mayoritas warga Indonesia khusunya, baik oleh kalangan masyarakat, tokoh ulama dan para pejabat negara, ini semua bukan dari Kekyaiannya bukan juga jabatan yang mentereng yang selalu di kenal, Tapi, kealiaman dan ketawadluan beliau yang menjadikan beliau di kenal oleh masyarakat Indonesia.

Kyai Sahal Mahfud namanya, beliau termasuk sosok kyai yang sangat alim dalam ilmu fikih, berwibawa, jenius sekaligus seorang intelektual, Namun beliau tetap menampakkan kesederhanaan, inilah yang menjadi beliau terkenal dan di cintai oleh umat.

Kyai Sahal Mahfud  merupakan putra Kyai Mahfudz bin Abd. Salam al- Hafidz beliau meninggal pada tahun 1944 dengan Nyai Hj. Badi’ah beliau wafat pada tahun1945 setelah kemerdekaan. Kyai Sahal Mahfud merupakan putra ke ketiga dari enam bersaudara. 

Kyai Sahal Mahfud lahir dari keluarga pesantren yang mengerti betul tentang ilmu agama islam. Tanggal kelahiran beliau 17 Desember 1937, di desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, jalur nasab beliau bersambuing dengan Syeikh Ahamd Mutamakkin ulama ini termasuk penulis Kitab Tasawuf Sera Cebolek, Syeikh Ahmad Mutamakkin di kenal sebagai Waliyullah.

Pendidikan Kyai Sahal Mahfud.

Sahal kecil merupakan bocah cerdas asal Klaten jawa tengah, dalam mendalami suatu ilmu agama terutaman dalam bidang al-qur’an  langsung di didik oleh ayahnya sendiri Kyai Mahfud Bin abdi Salam, kerena kealiman dan ketelatenan Kyai Mahfud dalam mendidik putra-putranya sehingga Sahal kecil sudah menampakkan kedalaman ilmu agamanya terutama dalam membaca al-qur’an, pada usia 7 tahun beliau telah menghafal al-qur’an, tidak heran beliau hafal di usia yang sangat muda sebab ayahnya sendiri seorang Tahfidzul qur’an, setelah ayah beliau meninggal dunia, Sahal kecil di didik langsung oleh Pamannya sendiri Syeikh Ali Mukhtar.

Setelah sekian lama mendalami ilmu tentang al-qur’an kepada pamannya Syeikh Ali Jabir beliau melanjutkan pendidikan di Madrasah Diniyah Tingkat Ibtidaiyah, Tingkat Tsanawiyah, Tingkat perguruan Islam  Mathalihul Falah, setelah pendididikan formal beliau ikuti, lalu beliau mencari ilmu kepesantren Bendo Pare Kediri jawa Timur Asuhan Kyai Muhajir, setelah itu beliau melanjutkan pencarian ilmu agama dalam bidang fikih kepada Kyai Zubair Bin Dahlan, Beliau termasuk Ayah dari kyai Maimun Zubair.

Pesantren Sarang Jawa Tengah inilah beliau sudah menampakkan diri sebagai sosok muda yang alim dengan ilmu agam terutama dalam bidang ilmu fikih, karena kealiman ilmu beliau, lalu oleh Kyai Zubair Bin Dahlan di perintah untuk membantu mengajar santri-santrinya.

Setelah sekian lama beliau membantu mengajar santri-santrinya kyai Zubair Bin Dahlan, beliau memutuskan hijrah ketanah Makkah untuk menunaikan ibadah haji serta ingin mendalami ilmu agama kepada Syeikh Yasin Al-Fadani setelah sekian lama belaiu menuntut ilmu kepada Ulama ini kurang lebih 3 tahun beliau lalu kemabli ketanah kelahirnnya.

Kyai Sahal Mahfud telah mencapai taraf kealiman dalam bidang ilmu fikih, sehingga banyak ulama-ulama pada masanya menaruh hati untuk menjadikan beliau sebagai pengajar di lembaga yang beliau-beliau kelola.

Lembaga-lembaga yang beliau mengajar

a.    Sebagai Dosen Fakultas Tahassus Fikih Klaten
b.    Dosen Universitas Cokroaminoto
c.     Dosen IAIN Walisongo Semarang
d.    Sebagai Rektor di salah satu Institut Islam Nahdatul Ulama, Jepara

Anehnya beliau belum pernah belajar di Pergurungan Tinggi, Tapi beliau menjadi Dosen serta Rektor, ini menandakan pendidikan dulu tidak memandang Title seseorang Tapi yang di pandang adalah keilmuannya. Selain beliau mengajar di beberap perguruan tinggi dan mejabat sebagai Rektor, beliau juga memegang peranan yang sangat penting demi kemaslahatan Umat seperti:

a.    Menjadi Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU).
b.    Menjadi  Rais Aam Syuriah PB NU,
c.    Menjadi pemimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah
d.    Menjadi  Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI pada Juni
e.    Ketua Dewan Syari'ah Nasional (DSN, 2000-2005),
f.    Ketua Dewan Pengawas Syari'ah pada Asuransi Jiwa

Pernikahan Kyai Sahal Mahfud

Karena kealiman beliau tidak heran kalau beliau sangat di cintai dan di sayangi oleh para ulama dan masyarakat dan banyak juga yang menaruh hati  untuk menjadikan beliau sebagai penantu. Ketika itu beliau diminta oleh pamannya sendiri yakni KH. Abdullah Salam datang ke Kajen. Dalam perjalanan pulang, pikirannya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan. Ada apa ini paman menyusuh saya ke kajen, hanya itu yang ada di benak beliau.

Setelah beliau sampai di kajen, beliau di buat kaget lantaran banyak ulama-ulama sepuh yang sedang berkumpul di antaranya adalah KH. Abdullah Salam, KH. Bisri Syansuri, serta beberapa Kiai Kajen. Pekiran sudah berkecamuk di sertai rasa takut, ahirnya beliau memberanikan diri bertanya kepada Pamannya KH. Abdullah Salam dan bertanya perihal berkumpulnya ulama-ulama. Kemudian dijelaskan bahwa dia akan segera dinikahkan dengan anaknya KH. Fatah Jombang yaitu Nyai Nafisah.

Mengenal Lebih Jauh  Sosok Kyai Sahal Mahfud  Kajen “Macannya Ulama Fikih”

Karya-Karya Kyai Ahmad Sahal Mahfud

Selain beliau sibuk mengajar di berbagai Perguruan Tinggi, serta melayani umat islam khususnya, beliau juga aktif menulis karangan-karangan baik dalam Bahasa Arab atau Bahasa Indonesia seperti:

a.    Al-Tsamarah Al-Hujainiyah
b.    Kitab Al-Mausu’ah Al-Hujainiyah
c.    Inthifakhu Al-Wada Jaini Fi Mudlarat Ulama Al-Hujain
d.    Al-Bayan Al-Mulamman Al-Fadh Al-Luma
e.    Luma Al-Hikmah Ila Musalsah

Wafatnya Sang Kyai sahal Mahfud

Seorang Ulama yang berilmu tinggi dalam fikih serta menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz mengembuskan napas terakhir di Dalemnya, kompleks Pesantren Mathali'ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah. Aam Syuriah ini meninggal dunia pada hari  Jumat, Tanggal  24 Januari 2014  pukul 01.05 WIB. Dalam usia 76 tahun.

Detik-Detik Wafatnya Kyai Sahal Mahfud

Ketika beliau menjelang wafatnya ada sekelumit cerita yang di sampaikan oleh dokter “ ketika Kyai Sahal Mahfud menjelang wafatnya beliau masih sempet membaca kalimat-kalaimat tahlil, surat-surat pendek, walaupun suara beliau terlihat berat, tapi sangat terang dan jelas. Sampai beliau wafat.

Semoga kita semua mendapatkan barakah dari beliau dan selalu menjadikan beliau sebagai tokoh panutan  Dalam hal mencari ilmu, kewibawaan dan dalam semua hal apapun yang berkaitan dengan kebaikan. 

Demikian artikel yang dapat kami paparkan  semoga Web MURSYID HASAN terus memberikan kemanfaatn untuk semuanya. Aminn…







Sunday, 27 August 2017

Hukum-Hukum Nadzar Dan Nadzar yang Di Perbolehkan

Hukum-Hukum Nadzar Dan Nadzar yang Di Perbolehkan

Orang  mukkalaf yaitu orang yang sudah di kenai hukum Syar’I seperti  kewajiban shalat, puasa, juga wajib menjalankan nadzar jika ia bernadzar dalam kebaikan umat atau kebaikan dirinya, maka wajib di penuhi.

Kalau nadzar itu berupa keburukan atau keharaman yang akan menimpa dirinya maka tidak di perbolehkan memenuhi nadzarnya seperti kalau saya lulus ujian saya akan berjudi atau merompok.

Nadzar yang makruh di lakuakn semisal kalau saya bisa melompat kepagar itu saya mau mencukur semua rambutku. Contoh nadzar yang di perbolehkan kalau saya sembuh saya akan sedekah ke masjid aatau saya akn shalat Sunnah 4 rakaat.

Hukum nadzar menurut para ulama merupakan ibadah sedangkan ulama yang lain menghukumi Sunnah sesuai dengan landasan yang ada dalam hadist, al-qur’an, ijma’ dan qiyas.

Ada juga ulama yang menghukum nadzar itu makruh, karena ada dalil yang tidak memperbolehkan.. Namun arahannya pelarangan ini hanya untuk Nadzar lajaj.

Pengertian Nadzar Lajaj ialah menggantungkan  beribadah kepada Allah dengan melakukan perbuatan atau meninggalkan perbuatan seperti.

Kalau saya bisa masuk kedalam rumahnya, mak saya akan beribadah kepada Allah atau kalau saya tidak melakukan perjalanan pada pagi ini maka saya akan beribadah kepada Allah. Nadzar ini bolehk di lakukan boleh meninggalkan tapi membayar kafarat sumpah.

Untuk lebih dalam pemahaman mengenai nadzar maka penulis, mengulang bahwa nadzar itu berupa kesanggupan seseorang untuk melakukan ibadah bukan ibadah fadlu ain semisal shalat fardlu. Orang yang di kenai hukum nadzar yaitu sudah mukkalf, rosyid (pandai berbuat).

Kalau seseorang bernadzar ketika saya sembuh akan bernadzar ibadah Sunnah di Masjidil Haram, Masjidil aqsa dan Masjid Nabawi, lalu orang tersebut sembuh maka ibadah terhadap sebagian masjid itu sudah di anggap mencukupi semisal hanya Masjid Nabawi saja atau Di Masjidil Haram saja.

Kalau ia bernadzar untuk mendatang masjid selain tiga yang telah di sebutkan, amak pelaksanaan nadzar boleh di masjid  mana saja walapun masjid yang ia bangun sendiri.

Kalau ia bernadzar dengan berkata “kalau Allah membarikan harta berlebih dari hasil bumiku semisal panen tebu, sawit atau salak, saya akan memberikan harta panenku untuk kemaslahatan ka’bah, maka hasil panennya itu wajib di berikan untuk kemaslahatan ka’bah bukan kepada fakir miskinnya tanah Makkah.demikianlah uraian dalam kitab Muhadzab.


Refrensi Kitab:  Nihayatuzzain halaman 222
                            Fathil Mu’in


Syeikh Muhammad Sa’ad Mungka ”Gurunya Para Ulama Minangkabau”

Syeikh Muhammad Sa’ad Mungka ”Gurunya Para Ulama Minangkabau”

Sumatra Kota, Kecamatan Binangkabau merupakan kota dimana di kota tersebut telah terlahir ulama-ulama besar seperti Imam Khatib Minangkabau dan ulama yang akan kita bahas di artikel kali ini yang semasa dan setaraf kealiman beliau dengan Syeikh Khatib Minangkabau. Beliau Syeikh Muhammad Sa’ad merupakan  putra dari seorang ulama setempat bernama Muhammad Tanta’ yang juga amat disegani dan dihormati masyarakat karena kepribadian yang baik. Beliau Syeikh Sa’ad Mungka mengikuti  Tharighat Naqsabandiah Al-Kholidi serta bermadzhab Syafi’i.

Syeikh Muhammad Sa’ad Mungka atau yang lebih terkenal dengan gelar Syeikh Surau Baru lahir pada tahun 1277 H, di mungka , payakumbuh Sumatra Barat. Nama panggilan beliau Syeikh Sa’ad Mungka pada waktu kecil bernama Anggun.

Pendidikan Syeikh sa’ad pada waktu kecil langsung di bimbing oleh Syeikh Syeikh Abu Bakar Tabing Pulai, Mungka dan Syeikh Muhammad Saleh dari Batusangkar. Dari kedua ulama ini syeikh Sa’ad Mungka mengenal Tarikhat Naqsabandiah Al-Kholidi dan dari ulama ini Syeikh Sa’ad Mungka cinta dan Rindu terhadap Thariqat Naqsabandia.

Setelah sekian lama beliau menimba ilmu kepada Syeikh Abu Bakar Dan Syeikh Muhammad Saleh, beliau memutuskan untuk hijrah ke Tanah suci Makkah dengan niatan ingin menunaikan ibadah haji serta ingin sekali menetap disana untuk mendalami ilmu-ilmu agama kepada beberapa ulama. seperti Sayyid Zaini Dahlan, Sayyid Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makki, Syeikh Ahmad bin Muhammad Zain bin Musthafa al-Fathani. Belliau mendalami ilmu agama kepada beberapa ulama sekitar enam tahun lamanya, setelah ilmu yang di pelajari di rasa sudah cukup beliau memutuskan kembali ke Minangkabau Sumatra Barat.

Setelah menetap di Indonesia kurang lebih 12 tahun di kampung halamannya, beliau sangat rindu ingin bertemu dengan guru-guru beliau di Tanah suci Makkah, serta ingin sekali menimba ilmu lagi kepada ulama-ulama di Makkah, setelah itu beliau hijrah lagi ke Tanah suci Makkahm. pada tahun l912 Syeikh Sa’ad kembali ke Mekah dan bermukim lagi di sana hingga tahun l915 M. Setelah kembali ke kampung halamannya Syeikh Sa’ad membuka pasantren di Surau Baru, Koto Tuo Mungka sampai beliau wafat.

Setelah beliau benar-benar menetap di Miangkabau Sumatra barat, lalu beliau mendirikan pesantren Di Surau. Beliau termasuk ulama yang sangat alim sejajar dengan Syeikh Khatib Minangkabau, Beliau Syikh Sa’ad Mungka memiliki beberapa santri yang menjadi kader dalam menyebarkan Syariat islam serta Tarikat Naqsabandia di Sumatra barat.

Daftar Santri Syeikh Sa’ad Mungka

a.   Syeikh Sulaiman Ar-Rasuli Baca Juga Profil Beliau Di Sini
b.   Syeikh Abbas Ladang Lawas dari Bukittinggi
c.   Syeikh Abdul Wahid Tabek Gadang
d.   Syeikh Abdur Rasyid Thaher Parambahan dari Payakumbuh
e.   Syeikh Abdul Madjid Koto Nan Gadang dari Payakumbuh
f.   Syeikh Ahmad Baruah Gunung dari Suliki
g.   Syeikh Arifin Batu Hampar dari Payakumbuh
h.   Syeikh Yahya al-Khalidi Magek dari Bukittinggi
i.    Syeikh Mohd. Jamil Jaho
j.    Syeikh Makhudum dari Solok
k.   Syeikh Sulaiman Gani dari Magek
l.    Syeikh Abdul Tamim dari Koto Baru Agam
m.  Syeikh Muhammad dari Sarilamak Payakumbuh
n.   Syeikh Daramin dari Lipat Kain Kampar Riau
o.   Syeikh Abdul Wahab ash-Shalihi

Dari para santri inilah agama islam tersebar ke pesisir, pelosok-pelosok dan tidak ketinggalan di kota-kota.setelah beliau Syeikh sa’ad di panggil oleh Allah pada tahun 1024 M/ 1339H. setelah beliau di panggil oleh Rabb yang maha menghidupkan dan maha mematikan, tugas beliau di gantikan oleh putra beliau Syeikh Muhammad Jamil Sa’adi Mungka.

Semoga dengan hadirnya ulama-ulama Minangkabau ini kita terus mendapatkan barakah dari beliau-beliau.Amin…


Saturday, 26 August 2017

Hak Asuh Anak Yang Paling Berhak Ketika Bercerai

Hak Asuh Anak Yang Paling Berhak Ketika Bercerai

Seseorang yang merawat, mendidik dan menjaga anak kecil yang belum bisa mengatur keadaan dirinya sampai usia mumayyis ini di namakan Hadlanah. Sedangkan Mumayyis sendiri yaitu usia anak kecil yang sudah bisa mengatur dirinya sendiri seperti bisa memakan, minum dan mandi sendiri, anak kecil yang sudah bisa mandiri seperti  ini akan beranjak ke usia Baligh.

Hak asuh yang paling berhak ketika anak belum beranjak usia Mumayyis yaitu ibu yang belum menikah lagi dengan orang lain, kalau ibunya telah tiada, maka hak asuh di ambil alih oleh ibunya ibu (nenek), ayahnya ibu (Kakek).

Seorang suami istri bercerai lalu memiliki anak, sedangkan anaknya sudah menginjak usia Mumayiss yaitu sudah bisa memilih yang bermanfaat untuk dirinya, maka hak asuhnya terletak pada pilihan anaknya, apakah si anak memilih ayah atau memilih ibu.

Kalau anak perempuan yang menjadi hak asuhnya, kebetulan anak perempuan  memilih ayah  untuk mendidik dan merawat dirinya, maka seorang ayah berhak melarang anak perempuannyanya untuk mengunjungi ibunya. Tetapi di perbolehkan bagi seorang ibu mengunjungi anak laki-lakinya atau anak perempuannya. Sedangkan anak perempuannya berhak di larang oleh ayahnya untuk mengunjungi ibunya kecuali anak laki-laki.

Untuk masa mengunjungi anak, maka bagi seorang ibu menurut adat kebiasaan masyarakat sekitar kira-kira 1 minggu satu kali, tapi kalau jaraknya terlalu jauh, cukup 1 bulan satu kali.

Kalau anak yang di asuh itu sakit, baik laki-laki atau perempaun, maka hak asuh sementara yang paling berhak yaitu ibu, Namun tetap meminta persetujuan dari mantan suaminya, kalau di perbolehkan di rawat di rumah ibu tidak apa-apa. Tapi kalau mantan suaminya melarang, sebaiknya bersabar, allah sangat suka terhadap orang yang bersabar, semoga Allah memberikan kebaikan atasmu..

Kalau anak laki-laki yang sudah menginjak usia mumayyis memilih ibunya untuk merawat dan mendidik, maka anak laki-laki itu berhak berada di rumah ibunya ketika malam tiba. Sedangkan untuk waktu pagi dan siang berada di rumah ayahnya. Atau jika anak wanita sudah menginjak usia mumayyis memilih ibunya maka anak wanita tersebut harus selalu berada di sisi ibunya. Bagi seorang ayah boleh mengunjungi anaknya menurut kebiasaannya dan ayah tidak di perbolehkan meminta anak di datangkan ke rumahnya kecuali ada udzur semisal sakit yang parah.

Kalau anak tidak memilih ayah dan ibunya dalam merawat dirinya, maka hak asuh jatuh terhadap  ibu, maka ibu lebih utama merawat anaknya. Kalau anak itu masih dalam masa penyusuan terhadap ibunya, ,maka ke tua orang tuanya yang sudah bercerai tidak di perbolehkan untuk menyapihnya sebelum menginjak usia dua tahun, tapi itu semua kalau ada bahaya, kalau tidak ada bahaya bagi si anak, maka tidak mengapa di sapih, boleh juga bagi si ibu menambah masa penyusuan melebihi dua tahun, sekiranya tidak ada bahaya yang timbul setelahnya.

Imam Al-Hanathi mengeluarkan fatwa bahwa tidak di sunnahkan melebihkan dalam masa penyusuan, kecuali adanya suatu hajat yang sangat di butuhkan.

Nb: Hak anak asuh yang di pilih oleh seorang anak untuk merawat diriyanya, maka saran penulis agar tetap menjalin silaturrahmi walaupun sudah bercerai, ini semata-mata di lakukan agar kondisi batin anak tidak terganggu dan masih merasa di sayangi oleh kedua pihak.

Demikianlah artikel yang bisa penulis paparkan semoga bisa bermanfaat untuk semuanya. Amin…
 

Inilah Hukum Membaca Yasin Untuk Orang Yang Mengalami Sakaratul Maut

Inilah Hukum Membaca Yasin Untuk Orang Yang Mengalami Sakaratul Maut

Tradisi Warna Nahdiyin atau NU ketika salah satu warganya akan meninggal dunia (Sakaratul Maut)  biasanya di bacakan salah satu surat yang ada di dalam al-qur’an seperti surat Ar-Ra’du atau Yasin, ini di lakukan hanya semata-mata untuk meringankan beban orang yang mengalami sakaratul maut, harapannya kalau memangAllah menakdirkan ia hidup maka di percepat kesembuhannya tapi kalau Allah menakdirkan sebaliknya, maka ia memang orang yang di cintai oleh Allah.

Lebih jelasnya sakaratul maut itu kondisi pasien yang sedang menghadapi kematian, Sakaratul maut sendiri merupakan  kejadian yang dahsyat, tekanan, dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya. 

Terkadang orang yang hidup melihat orang yang mengalami sakaratul maut merasa iba kasian, karena orang sakaratul maut itu sedang berperang melawan kematian, untuk banyak warga Nu membacakan surat yasin atau Ar-Ra’du dengan harapan agar orang yang mengalami sakaratul maut itu di ringankan bebannya. 

Apakah ada landasan hukum yang menganjurkan membacakan surat yasin atau Ar-Ra’du di samping orang yang mengalami Sakaratul maut.

*Membaca surat yasin atau Ar-Ra’du di samping orang yang mengalami sakaratul maut adalah Sunnah dan ada landasan hukumnya. Yakni dalam hadist yang di riwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Hibban. Sedangkan landasan hukum mensunnahkan membaca surat Ar’ra’du atau yasin di samping orang yang mengalami sakaratul maut, landasannya di dalam hadist yang di riwayatkan oleh sahabat Jabir Ra.

#Landasan Hukum Fikih

*Orang yang mengalami sakaratul maut di sunnahkan untuk membacakan surat Ar-Ra’du atau yasin, karena berlandaskan hadist, “ Bacakanlah Surat Ar-Ra’du atau Yasin di sampaing orang yang hendak meninggal dunia”. Hadist ini di riwayatkan oleh sahabat Ibnu Dawud dan Ibnu Hibban menshohihkan  hadist ini,

Inilah Hukum Membaca Yasin Untuk Orang Yang Mengalami Sakaratul Maut

Imam Jurubandi berkata mengenai Hikamh di bacakan surat yasin atau Ar-Ra’du bagi seseorang yang mengalami sakaratu maut yakni ketika orang mengalami sakaratul maut yang ada di pandangan mata dan fikirannya hanya kiamat dan kehupan yang akan di tempuh, jadi ketika di bacakan surat tersebut, maka ia akan ingat terhadap Rabb-nya yang menjadikan dirinya dan menjadikan kehidupan setelah kematian, dan ia akan terus melantunkan kalimat-kalimat tauhid dan istigfar.

Hikmah yang kedua berlandaskan hadist “Barang siapa seseorang yang mengalami Sakaratul Maut di bacakan surat yasin atau surat Ar-Ra’du, maka dengan bacaan tersebut mempermudah keluarnya ruh.

#lalu seandainya ada perbedaan antara membaca surat yasin karena di sunnahkan dengan berlandaskan hadist dengan membaca surat Ar-Ra’du ? maka yang lebih di prioritaskan untuk di baca..

Dalam kasus ini masih di pertimbangkan dan sebaiknya di lihat dulu orang yang mengalami sakaratul maut, kalau orang yang mengalami sakaratul maut itu terlihat ada tanda-tanda ingat dengan hari akhirat yakni terlihat segar dan selalu membaca kalimat tauhid, maka di anjurkan di bacakan surat yasin, kalau tidak ada tanda-tanda tersebut sebaiknya di bacakan surat Ar-Ra’du.

Hemat penulis sebaiknya di baca kedua-duanya agar mendapat barakah dari kedua surat al-qur’an tersebut.

Jadi kesimpulannya orang yang mengalami sakaratul maut di sunnahkan di bacakan surat yasin atau Ar-ra’du karena ada hadist yang mendasarinya.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Amin… serta semoga kita semua termasuk orang-orang yang di ringankan kematiannya dan mati dalam keadaan islam dan membawa Iman.. amin Ya Robb…

Refrensi Kitab Kuning:  Syakhul Bahjati Al-Waradiyati Juz 5 Hal 403
                                       Nihayatul Muhtaj Juz 8 Hal 33
                                       Jami’u Al Bayan Fii Tafsiri Al Quran Juz 26 Hal 100-101
                                       Fathul Qadir  Juz 5 Hal 75




Friday, 25 August 2017

Inilah Status Hukumnya Shalat Di Naikin Anak Kecil

Inilah Status Hukumnya Shalat Di Naikin Anak Kecil

Kita sudah mengetahui semua bahwa hukum membatalkan shalat fardlu tanpa ada alasan yang di benarkan haram secara mutlak. Lalu bagaimana kalau seorang anak kecil naik ke punggung ibu atau ayahnya saaat sedang melakukan sujut, ini sering terjadi di tengah-tengah masyarakat, kalau seumpama ia memaksa untuk berdiri akan membahayakan anaknya semisal jatuh atau yang lain, di satu sisi untuk membatalkan shalatnya demi anak hukumnya haram. 

Dunia anak memang dunia bermain banyak kan kalau kita pergi ke masjid, para ibu-ibu membawa anak kesayangannya, ini semata-mata untuk menanamkan rasa cinta terhadap shalat berjama’ah, Namun, untuk seusia anak kecil lari-larian di masjid mengganggu orang shalat semisal menarik mukena ibunya, merengek saat si orang tua sedang shalat dan ada juga yang sampai naik ke atas punggung ibu ayahnya saat melakukan sujud, ini permainan anak kecil saat yang dewasa melakukan shalat.

Lalu bagaimana untuk menyikapi hal demikian apakah membatalkan shalat atau menunggu sampai anak benar-benar turun dari punggungnya.

*Demi keselamatan shalat fardlunya, maka hendaknya menunggu saja walaupun tertinggal dengan imam,  Tapi, kalau tidak  memungkinkan, maka hendaknya mengambil anaknya dengan tanganya, ini tetap sah lantaran termasuk Dlarurat.

Lalu bagaimana kalau anak kecil yang naik tadi membawa najis, apakah orang tua yang di rangkul oleh sang anak batal shalatnya.

*Sah shalatnya, selama anak kecil itu di pastikan tidak membawa najis atau tidak di duga membawa najis, Tapi kalau sudah di yakini membawa najis, maka batal shalatnya.

#Landasan Hukum Fikih

*Bagaimana pendapat kalian seumpama ada anak kecil menaiki ibunya yang sedang melakukan sujud, sedangkan kondisi anak kecil tersebut belum terkhitan. Dan kasus lain seorang anak kecil merangkul  ibunya sedangkan ia mengetahui bahwa sang anak membawa najis yang melekat di luar kemaluannya. 

*Landasan bahwa saat anak kecil naik ke punggung harus di tunggu sampai turun yakni hadist Babi yang di riwayatkan Abdullah bin Syaddad, dari ayahnya, dia berkata, "Pada suatu siang, Rasulullah SAW keluar untuk shalat Dzuhur atau Ashar. Beliau membawa Hasan atau Husein, lalu beliau meletakkan anak itu di depan beliau saat akan shalat, kemudian bertakbir. Setelah itu beliau sujud cukup lama."

"Aku, kata Ibnu Syaddad, "mengangkat kepalaku dan saat itu aku melihat anak itu berada di atas punggung Rasul SAW. Aku pun kembali bersujud. Setelah selesai, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tadi engkau sujud begitu lama, sehingga kami menyangka telah terjadi sesuatu atau wahyu turun kepadamu?”

Rasul bersabda, “Bukan begitu? Hanya saja, cucuku ini naik ke atas punggungku. Dan aku tidak ingin menurunkannya dengan segera hingga dia merasa puas (berada di atas punggungku).” (HR Ahmad, Nasai, dan hakim).

Berdasarkan keterangan ini, di ambil kesimpulan bahwa saat anak kecil menaiki punggung orang yang sedang melakukan shalat harus di tunggu sampai anak kecil itu turun dengan sendirinya.

Jika di ketahui kalau anak kecil itu membawa najis yang menempel di area kemaluannya, maka shalatnnya orang yang di rangkul oleh anak yang membawa najis hukumnya shalatnya batal. Dan bila tidak di ketahui kalau anak itu membawa najis, maka hukumnya shalatnya tidak batal, karena melakukan pada hukum asalnya yakni suci.

Untuk kasus apakah orang yang di naiki itu harus membatalkan shalatnya atau menunggu anak kecil tersebut turun dari punggungnya walaupun shalatnya tertinggal oleh imam.

Demikianlah uraian mengenai shalatnya orang yang di naiki oleh anak kecil yang membawa anjis, semoga artikel ini membawa kemanfaatn untuk kita semua lebih khususnya kepada penulis. Amin…

Refrensi Kitab Kuning:Qurratul ‘Ain Bii Fatawi Ismaili Zyain Hal 55-56




Hukum Diperbolehkannya Kurban Dengan Ayam Jago Bagi Orang Fakir

Hukum Diperbolehkannya Kurban Dengan Ayam Jago Bagi Orang Fakir

Nah, kita Berjumpa lagi di artikel kali, semoga Web MURSYID HASAN ini memberi kemanfaatan bagi semuanya khususnya untuk orang islam di seluruh dunia, artikel kali ini tidak jauh beda dengan artikel-artikel sebelumnya, yakni membahas masalah seputar keislaman, kesehatan, segala macam informasi, Namun, Namun, Web MURSYID HASAN ini pembahasannya selalu berbeda-beda.

Untuk lebih lanjutnya simak artikel yang membahas masalah di perbolehkannya berkurban dengan ayam jago, Hari raya idul adha tinggal menghitung hari lagi , sebagian orang sudah berlomba-lomba untuk mengorbankan hewan ternak milik mereka, ada yang berkorban untuk masjid, musholla dan tokoh masyarakat.

Kebanyakan orang yang mengorbankan hewan mereka termasuk orang-orang ekonomi menengah keatas, lalu untuk kaum fakir miskin hanya menikmati pembagian daging kurban, bukan sebagai orang yang mengurbankan hewan-hewannya.

Apakah ada dalil yang memperbolehkan fakir miskin berkurban dengan ayam jago, agar orang fakir bisa menikmati pahala berkurban, lalu bagaimana hukum fikih menyikapi hal demikian?

*Syarat kurban ialah hewan kurban harus berkaki empat seperti kambing, unta dan sapi, sedangka menurut Imam Ibnu Abbas, hewan qurban sudah di anggap cukup dengan mengalirkan darah qurban walaupun dari darah ayam jago atau bebek.

#Landasan Hukum Fikih

*Menurut Imam Ibnu Hajar. Di perbolehkan bagi orang fakir miskin mengurbankan ayam jago atau bebek, sedangkan dalil yang mendasarinya menggunakan hadist yang menjelaskan, bahwa yang berangkat ke masjid pada hari jum’at pada jam yang ke empat, maka pahalanya bagaikan orang yang berkumban dengan ayam jago.

*Ibnu Abbas berkata, sesungguhnya dalam berqurban cukup dengan mengalirkan darah meskipun dari ayam jago atau angsa. Sebagaimana di katakana oleh Al-Maidani. 

*Imam Abu Zakaria al-anshoari  menganjurkan orang-orang fakir untuk berqurban dengan seekor ayam jago. Aqiqah juga di samakan dengan berkurban yakni boleh dengan ayam jago. Menurut Ibnu hajar mengatakan bagi orang fakir yang melahirkan sedangkan ia tidak mampu untuk membali seeokor kambing atau sapi, maka baginya boleh ber-aqiqah dengan ayam jago dan hendaknya mengikuti Madzahbnya Ibnu Abbas, ini berlaku bagi orang fakir.

*Riwayat dari Ibnu Abbas bahwa “Sesungguhnya dalam berqurban sudah di anggap cukup mengalirkan darah, walaupun dari itu dari seekor ayam jago. Sedangkan Hujjah Ibnu Abbas ini berlandaskan hadist anjuran berangkat ke masjid pada pagi agar mendapat pahala sebesar berkurban dengan unta. Lalu kalau berngkatnya pada jam ke empat yakni setelah adzan atau khutbah sedang di baca, maka ia mendapat pahala sebagaimana ia berkurabn dengan seekor ayam jago.

Demikian artikel yang memperbolehkannya berkurban dengan ayam jago bagi orang yang tidak mampu (Fakir), semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua. Aminn…
Refrensi Kitab Kuning:Bughyatul Mustarsyidin Hal 207
                                      Syahr Al-Yaqutun Nufus Hal 828
                                      Hasyiyah Bujairi Hal 239




Thursday, 24 August 2017

Inilah Hukum Memotong Kuku Dan Rambut Saat Hadast Besar

Inilah Hukum Memotong Kuku Dan Rambut Saat Hadast Besar

Dalam shalat perempuan yang mengalami Haid atau nifas tidak di perbolehkan shalat wajib atau shalat Sunnah, membaca al-qur’an dan ber’itikaf, semisal perempun sedang mengalami Haid, lalu memotong kuku, rambut atau anggota badan yang lainnya.

Lalu bagaimana tanggapan hukum fikih mengenai perempuan memotong kuku, rambut atau anggota yang lain saat sedang Haid.

Selanjutnya bagaimana jika rambut atau kuku itu jatuh dengan sendirinya, sedangkan dirinya sedang haid, apakah wajib di bersihkan saat mandi besar atau di biarkan saja.

*Hendaknya bagi seorang perempuan yang mengalami haid jangan memotong kuku atau rambut, sebab potongan rabut atau kuku yang jatuh saat haid akan di kembalikan lagi pada hari kiamat kelak, dalam kondisi sebagaimana ia jatuh, kalau jatuh saat haid maka kelak kuku itu datangnya berhadast, tapi kalau jatuhnya bersih kelak akan bersih jua.

Namun menurut Imam Bujairimi anggota tubuh yang terpotong seperti kuku atau rambut di akhirat akan di kembalikan lagi  adalah anggota yang ada pada saat ia meninggal dunia, bukan anggoita yang telah terpotong sebelumnya, karena anggota badan yang akan di kembalikan pada hari pmbangkitan di padang mahsar kelak adalah anggota tubuh yang ada pada saaat kematiannya.

Namun ada yang berpendapat bahwa anggota badan yang terpotong baik rambut atau kuku kelak di datangkan dalam keadaan hadast, hanya saja dengan keadaan terpisah.

Inilah Hukum Memotong Kuku Dan Rambut Saat Hadast Besar

#Landasan Hukum Fikih

*Imam Al-Ghazali memberi nasihat kepada kaum hawa untuk tidak memotong kuku, rambut dan anggota badan yang lain, kalau dirinya dalam keadaan hadast besar, karena kelak anggota yang terpotong tersebut akan di datangkan sesuai dengan ia terpotong sewaktu di dunia apakah terpotongnya dalam keadaan junub, haid atau nifas.

*Barang siapa seseorang berkewajiban mandi besar yakni orang yang mengalami Haid atau junub, maka tidak di anjrkan menghilangkan anggota badannya seperti rambut atau kuku. Karena kelak pada hari akhirat anggota yang terpotong itu akan di datangkan lagi kepadanya. Klau ia memotong rambut itu sebelum mandi besar maka kelak akan di datangkan dalam keadaan hadast besar, ini semata-mata untuk memberi pelajaran kepada umat manusia.

*Dalam kitab Fathil Mu’in di terangkan fardunya mandi yang kedua yakni meratakan air keseluruh tubuh meliputi rambut,  kuku kedua tangan, kuku kedua kaki.

Demikianlah penjelasan mengenai hukum memotong kuku saat hadast  besar. Semoga article ini bermanfaat untuk kita semua. Amin…

Refrensi Kitab Kuning: Nihayatul Zyain Hal 31
                                      Fathil Mu'in Hamis I'anatut Thalibin Juz 1 Hal 75
                                      Hasyiyatul Jumal Juz 2 Hal 96
                                      Hawasyi as-Syarwani Hal 284






Inilah Hukumnya Memakai Tongkat Saat Khutbah Jum’at

Inilah Hukumnya Memakai Tongkat Saat Khutbah Jum’at

Sudah menjadi tradisi di kalangan warga Nahdiyin saat berkhutbah memegang tongkat, ada juga sekelompok orang yang tidak memegang tongkat, ini yang sering menjadi isu hangat di kalangan masyarakat, bahkan ada yang berani menyalahkan satu sama lain, semisal yang tidak memakai tongkat di anggap menyalahi aturan, ada juga yang Makai tongkat di salahkan, padahal kalau kita teliti dalilnya semuanya benar dan ada dalilnya semua. Menurut saya  Yang tidak benar itu yang menyalahkan dan lebih salahnya lagi mereka tidak pernah pergi kejum’atan lalu menyalahkan. 

Untuk kali ini web MURSYID HASAN akan membagikan seputar permasalahn mengenai memegang tongkat saat berkhutbah, agar informasi penting ini tidak semerta-merta menyalahkan satu sama lain  sebelum mengetahui secara teliti dalilnya.

Kita sudah tahu semua kan, bahwa ketika khotib mau naik ke atas mimbar, seorang bilal menyerahkan tongkat tersebut kepada khotib, tongkat itu akan terus di pegang sampai pembacaan khutbah jum’at selesai.

Lalu dengan deskripsi di atas ini apakah ada landasannya mengenai memegang tongkat saat membaca khutbah jum’at, khutbah idul fitri dan idul adha?

*Memegang tongkat saat membaca khutbah jum’at, khutbah idul fitri dan idul adha hukumnya Sunnah, serta ada dalil yang mendasarinya, seperti dalam madzhab Maliki, Syafi’iyah dan Mdzhab hambali..

#Landasan Hukum Fikih

Ketika Rasulullah Saw, membaca khutbah jum’at beliau memegang pedang, saat membaca khutbah di lain waktu yang lain beliau memakai tongkat, ini landasan mengenai kesunnahan memakai tongkat ketika khutbah jum’at di baca.

Imam As-Syafi’I ra, berkata telah datang berita kepadaku mengenai Rasulullah saat membaca khutbah beliau memegang tongkat, adapula yang mengatakan beliau memegang tongkat yang pendek dan ada juga yang berpendapat beliau memakai anak panah. Semuanya itu beliau jadikan sebagai alat pegangan.

Imam As-Syafi’I berkata saya sangat suka melihat orang berkhutbah memegang sesuatu alat sebagai pegangan seperti tongkat, pedang dan anak panah, kalau ia tidak memegang sesuatu sebagai tumpuan, maka baginya menenangkan kedua tangannya dan semua badannya (maksudnya tidak diam, tidak bermain-main dengan kedua tangannya).

*Hendaknya bagi seorang khotib yang hendak membaca khutbah, memegang sesuatu yang menjadi pegangan, caranya memegang dengan tangan kiri karena Itba’ atau mengikuti ulama salafus sholih, hikmahnya bahwa agama islam ini tegak, kokh dengan bantuan senjata.

Kalau khotib tidak mendapatkan tongkat atau sejenisnya, maka baginya meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di bawah dada, persisi seperti orang yang melakukan shalat.

Dalam ini ulama fikih masih terjadi perbedaan pendapat terkait memegang tongkat atau sejenisnya saat khutbah, kalau menurut  Madzhab Syafi’I, Madzhab Malikiyyah dan Madzahb Hambaliyah menghukumi Sunnah.

Sedangkan Madzhab hanafiyah menghukumi makruh memegang tongkat atau sejenisnya saat membaca khutbah, pendapat ini yang menjadi pegangan bagi kelompok-kelompok yang tidak memakai tongkat saat khutbah.

NB: walaupun ulama terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan hukum, maka selayaknya bagi kita umat islam semuanya, tidak saling menyalahkan satu sama lain, selama perbedaan itu masih ada pendapat ulama 4 Madzhab, Imam syafi’I, Imam Hambali, Imam Malik dan Imam Abu Hanifah serta perbedaan itu tidak keluar dari aturan syariat islam. Karena perbedaan yang saling menghargai satu sama lain itu menjadi Rahmatal Lil “Aalamin bgai seluruh Umat islam.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk kita semua Aminnn…

 Refrensi Kitab Kuning:  Sunan Ibnu Majah Juz 3 Hal 414
                                        Al-Um Juz 2 Halm 273
                                        Hawasyi Al-Madaniyah Juz 2 Hal 44
                                        Khutbatul Jum’ah Wa Ahkamuha Al-Fiqhiyah Juz 1 Hal 154




Inilah Hukum Menabur Bunga Di Atas Makam


Inilah Hukum Menabur Bunga Di Atas Makam

Sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat nahdiyin baik di kota atau desa, ketika seorang meninggal dunia pasti di carikan bunga segar, kemudian bunga tersebut di campur dengan wangi-wangian lalu di letakkan di atas keranda setelah mayid sudah di letakkan di liang lahad, bunga itu di taburkan di atas kuburan.

Hal semacam ini sudah mendarah daging di kalangan warga nahdiyyyin. Bagaimana hukum tradisi menabur bungah di atas kuburan, menurut pandangan hukum fikih.

*Menabur bunga di atas kuburan hukumnya di sunnahkan, karena nabi Muhammad Saw juga melakukan hal demikian, sedangkan dalil yang menyunnahkan menabur bunga di atas kuburan yaitu hadist nabi dengan sanad yang shahih.

#Landasan Hukum Fikih

Inilah Hukum Menabur Bunga Di Atas Makam
Sunnah kan meletakkan pelepah kurma yang masih basah di atas kuburan, kesunnah ini mengikuti perbuatan nabi (Itba’), Kenapa harus meletakkan pelepah kurma di atas kuburan adakah manfaat pelepah kurma itu untuk di mayit, iya ada kemanfaatan bagi si mayid, ketika pelepah kurma yang masih basah atau hijau itu dapat meringankan beban mayit di alam barzah, kerena pelepah kurma yang masih basah itu selalu membaca tasbih dan memintakan ampunan untuk di mayit.

Hadist ini oleh sebagian ulama di Qiyaskan atau di samakan dengan menabur bunga di atas kuburan . ketika seseorang sudah meletakkan pelepah kurma di atas kuburan, maka baginya haram mengambil bunga atau pelepah kurma yang masih basah, kalau sudah kering maka tidak haram.

Akan tetapi, mengenai cara masing-masing membaca tasbih, hanya Allah saja yang tahu. Dan terkait dengan tabur bunga tadi, dihimbau penabumya memilih bunga­-bunga yang masih segar agar bisa memberi “manfaat” bagi si mayit, sebab bunga-bunga tadi akan bertasbih kepada Allah.

Ketika Nabi Muhammad melakukan perjalanan dengan beberapa sahabatnya nabi lalu diam di atas kuburan salah satu warga Makkah, lalu nabi Muhammad berkata kepada para sahabatnya, sekarang ini mayit yang ada di depanku sedang mengalami siksaan yang sangat pedih, lalu nabi Mengambil pelepah kurma yang masih hijau dan meletakkan di atas kuburan tersebut seraya berdo’a” Semoga denga pelepah kurma yang masih basah ini Allah, meringankan siksaan mayit ini.

Dan dari ini dapat di ambil kesimpulan bahwa meletakkan pelepah kurma yang masih basah atau bunga hukumnya di sunahkan, dengan pelepah kurma dan sejenisnya di harapkan dapat meringankan beban si mayit. 

Al-Hafid Abu Al-Jauzani menghukumi Sunnah meletakkan pelepah kurma yang belum kering kerena Itba’ kepada nabi Muhammad Saw, dengan hal ini para sahabat nabi juga melakukan apa yang pernah Nabi Muhammad lakukan.

Syeikh Imam Nawawi Dalam kitabnya Syarh Muslim wasiat sahabat Buraidah Ra tersebut bertabaruk mengharap barakah dengan melakukan sesuatu  yang di lakukan oleh nabi Muhammad yakni meletakkan pelepah kurma yang masih basah di atas kuburan.

Semoga yang dapat MURSYID HASAN uraikan semoga dapat bermanfaat untuk kita semua. Aminn

Refrensi Kitab Kuning: Tuhfatul Muhtaj Fii Syarhil Minhaj Juz 11 hal 394
                                      Arsyiful Mutaqii Ahlul hadist Juz 1 hal 5744



Wednesday, 23 August 2017

Profil Al-Habib Idrus Bin Salim Al-Jufri “Guru Tua Tarim Hadramaut”

Profil Al-Habib Idrus Bin Salim Al-Jufri “Guru Tua Tarim Hadramaut”

Al-Habib Idrus bin Salim merupakan ulama dari timur tengah hadramaut, Yaman yang hijrah ke tanah Sulawesi, Indonesia bagian timur, beliau hijrah ke Indonesia semata-mata hanya ingin membentengi masyarakat Indonesia khusunya masyarakat Sulawesi dalam hal akidah. Jadi masyarakat Sulawesi memiliki tanggung jawab yang besar untuk menyebarkan agama islam di daerahnya.

Perjuangan beliau Al-habib Idrus Bin salim sangat Nampak sekali di Sulawesi, berkat perjuangan dan kerja keras banyak sekali masyarakat yang menerima ajakan beliau dalam membentengi negri ini dengan akidah yang berlandaskan ahlussunnah wal jamaah.

Al-habib Idrus Bin Salim atau yang lebih popular dengan sebutan GURU TUA saat usianya masih muda beliau telah hafal kitab suci al-qur’an, beliau di lahir pada tanggal 15 Maret tahun 1892, di tanah Bumi Sejuta Wali yakni di tarim, Hadramaut, Yaman, ayah beliau bernama Habib salim al-Jufri.

Saat usia beliau masih muda beliau di dididk langsung oleh ayah beliau habib Salim Bin al-Jufri dalam memahami ilmu-ilmu dasar tentang al-qur’an. Bahkan oleh ayah beliau Habib salim Al-Jufri di buatkan kamar khusus untuk habib Idrus Kecil agar beliau lebih berkonsentrasi lagi dalam memahami suatu ilmu, karena habib Salim Bin Jufri melihat tanda-tanda pada putranya bahwa beliau kelak yang akan meneruskan perjuangannya.

Saat Habib Salim Al-Jufri meninggal dunia yang saat itu beliau menjabat sebagai mufti di taris, tarim Hadramaut, Habib Idrus Bin Salim menggantikan ayahnya sebagai Mufti di Tarim Hadramaut yaman, jabatan seorang mufti di Tarim hadramaut merupakan jabatan paling tinggi di bidang keagamaan dalam suatu kesultanan, jabatan ini menyangkut permasalah yang di hadapi oleh mayarakat, negara dan kesultanan.

Sebelum beliau di angkat menjadi mufti menggantikan ayahnya, beliau lebih dulu mendalami suatu ilmu agama dari satu guru keguru yang lain. Seperti:

A.    Al-Habib Muhsin bin Alwi Assegaf
B.     Al-Habib Abdurrahman bin Alwi bin Umar Assegaf
C.    Al-Habib Muhammad bin Ibrahim bilfaqih,
D.     Al-Habib Abdullah bin Husein bin Sholeh Al-Bahar
E.    Al-Habib Idrus bin Umar Al-Habsyi

Jadi tidak mengherankan kalau beliau sangat alim dalam bidang tafsir, hadits, tasawuf, fiqih, Tauhid, Mantiq, ma’ani, bayan, badi’, nahwu, sharaf, falaq, tarikh. Dengan kealiman yang beliau peroleh selama masa penuntut ilmu, beliau layak menggantikan ayahnya menjabat sebagai mufti Tarim Hadramaut.
Profil Al-Habib Idrus Bin Salim Al-Jufri “Guru Tua Tarim Hadramaut”

Setelah sekian lama beliau menjadi mufti di Hadramaut,  beliau memutuskan untuk hijrah kenegara Indonesia bagian timur lebih tepanya di Sulawesi, di sana beliau mendakwakan dengan cara halus dan sangat simpati terhadap masyarakat, jadi banyak masyarakat yang sangat senang dengan kehadiran beliau di Sulawesi. Walaupu beliau bukan ulama asli Tanah Indonesia tapi beliau sangat mencintai dan menjunjung tinggi terhadap Negeri ini, kerena masyarakat  pada waktu itu sangat menjunjung tinggi sikap toleransi dan gotong royong.

Ulama Al-allamah, Al-A’lim Habib Idrus Bin Salim Meninggal dunia tanggal 22 Desember Tahun 1969, Kota Palu Sulawesi. Berkat kegigihan Habib Idrus Bin Salim Al-Jufri dalam menyebarkan agama islam kedaerah-daerah dan kepelosok terpencil, dengan kegigihan beliau masyarakat muslim khusunya memiliki hutang yang sangat besar kepada beliau.

Orang-orang  yang pernah bertemu dengan beliau akan selalu mengingat dan mencintai Habib Idrus Bin Salim Al-Jufri.

Demikianlah sekelumit informasi seputar profil Habib Idrus Bin Salim Al-Jufri semoga bermanfaat dan kita semua mendapatkan barakanya beliau.Aminn…